Ditulis oleh PMII KOMFAKSYAHUM di/pada Oktober 29, 2008
Oleh: Danuji Ahmad
Pada Selasa, tanggal 28 Oktober 2008 kemarin, adalah bertepatan dengan peringatan sumpah pemuda. Peringatan kali ini sangat peting untuk di kenang di tengah berbagai persoalan pelik yang secara silir berganti menerka bangsa Indonesia. Baik persolan politik, ekonomi, agama serta persoalan-persolan lainnya yang dapat menyebakan disintegrasi bangsa. Bangsa kita akan mengalami perpecahan kemudian membentuk negara-negara kecil yang rapuh atau menjadi bangsa yang gagal akibat konflik tersebut.Gagal dalam mengemban amanat dari bapak bangsa (faunding father) dalam menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam :: BARISAN ARTIKEL, ::> Budaya | Leave a Comment »
Ditulis oleh PMII KOMFAKSYAHUM di/pada Mei 2, 2008
Oleh: Abdul Mun’im DZ
Setiap bangsa berusaha menunjukkan keungglan bangsanya dengan menulis berbagai karya, baik sastera maupun ilmu pngetahuan dengan bahasa setepat-tepatnya dan seindah-indahnya. Mereka berpacu dengan bangsa lain atas keunggulan dan keindahan bahasanya, sebab bahasa sebagai simbol kemajuan dan keluhuran bangsa. Karena itulah dalam mempelajari karya sastra mereka mesti mepelajari bahasa dengan baik, karena karya semacam itu tidak ditulis dalam bahasa pasar, tetapi ditulis dalam bahasa resmi, itupun dipilih yang paling unggul.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam :: BARISAN ARTIKEL, ::> Budaya | Leave a Comment »
Ditulis oleh PMII KOMFAKSYAHUM di/pada April 21, 2008
Oleh: Asep Saefullah
Pesantren adalah ‘penjara’ yang di dalamnya, pemikiran, gagasan, dan gerakan sosial-budaya berjalan dinamis. Potensi pesantren yang demikian itu tumbuh dari dua hal: pertama, konsistensi dan kemandirian; kedua, kepercayaan masyarakat atasnya. Di samping progresivitas pesantren menawarkan gagasan dan gerakan pembaharuan, religiusitasnya berhasil membangun kharisma dan pengaruh yang begitu besar.
Religiusitas pesantren tampak dari budaya agamis “masyarakatnya”—dalam hal ini santri. Ajaran dan nilai keagamaan yang terus menerus ditransformasikan melalui pendidikan membentuk sebuah budaya unik dan genuin. Dalam sejarahnya, budaya pesantren itu mampu mengejawantah dalam realitas masyarakat. Pesantren, setidaknya, berhasil menyumbang tatanan nilai dan moral-etik yang kemudian dipegang masyarakat.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam :: BARISAN ARTIKEL, ::> Budaya | 2 Komentar »
Ditulis oleh PMII KOMFAKSYAHUM di/pada April 7, 2008
Oleh: Zita Meirina
Pemberitaan media cetak dan elektronik terkait banyaknya sekolah rusak baik di perkotaan maupun di daerah terpencil di Tanah Air seakan telah menjadi isu dunia pendidikan yang tidak pernah ada habisnya. Berita tentang murid-murid sekolah yang terpaksa belajar di rumah penduduk karena ruang kelas rusak silih berganti dikabarkan dari berbagai daerah sehingga mengundang keprihatinan masyarakat luas.
Sekolah-sekolah dengan kondisi rusak berat hingga ringan dengan dinding ruang kelas yang retak, kayu penyangga yang keropos di makan rayap, hingga atap jebol telah mengakibatkan kegiatan belajar mengajar di sejumlah SD negeri menjadi kacau. Di Kabupaten Banyumas, ruang kelas IV di SD Negeri I Candi Negara, Kecamatan Pekuncen ambruk sehingga siswanya harus belajar di rumah penduduk.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam :: BARISAN ARTIKEL, ::> Budaya | 1 Komentar »
Ditulis oleh PMII KOMFAKSYAHUM di/pada Januari 16, 2008
Oleh: Abdul Mu’im DZ
Secara geografis Nusantara –di mana Indonesia sebagai bagian darinya–merupakan wilayah strategis baik secara ekonomi dan politik serta pertahanan, karena posisinya pada perlintasan budaya antar benua. Dengan posisinya yang strategis itulah Nusantara menjadi perlintasan agama yang sangat penting. Kawasan ini mengalami perubahan budaya dan agama yang beruntun namun berjalan cukup damai.
Kepercayaan Pagan, Hindu, Budha dan Islam secara dialektik telah menjadi tata nilai yang berjalan di kawasan Asia Tenggara. Nilai-nilai tersebut, bahkan, kemudian mampu memberikan kontribusi dalam membentuk sistem pemerintahan dan varian keagamaan sendiri yang mencerminkan pergumulan antara budaya luar dengan budaya asli Nusantara.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam :: BARISAN ARTIKEL, ::> Budaya | Leave a Comment »
Ditulis oleh PMII KOMFAKSYAHUM di/pada Desember 14, 2007
Oleh: Abdul Mun’im DZ
Sejak awal sejarah perlawanan terhadap kolonial dilakukan oleh kalangan umat Islam, terhitung sejak pengusiran Portugis yang dilakukan oleh Adipati Unus terhadap penjajah portugis yang menduduki Malaka. Sejak itu kalangan santri selalu melakukan perlawanan terhadap penjajah, baik karena menjarah kekuasaan politik, menghisap seluruh hasil bumi, juga menindas.
Sementara kalangan non santri lebih bisa bekerjasama dengan penjajah, apakah itu Portugis, Belanda, Inggris atau Jepang. Mereka sebagai ambtenaar, sebagai serdadu bayaran, atau sebagai marsose. Bagi mereka tidak ada untungnya melawan Belanda, apalagi mereka sangat diuntungkan, baik secara ekonomi maupun sosial-politik. Karena itu hampir tidak ada perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan kelompok mereka. Semua perlawanan datang dari kaum santri.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam :: BARISAN ARTIKEL, ::> Budaya | Leave a Comment »
Ditulis oleh PMII KOMFAKSYAHUM di/pada November 19, 2007
Oleh: Parni Hadi*
Susilo Bambang Yudhoyono (Yahoo! News/REUTERS/Lee Jae-Won)BINGUNG? Sudah pasti. Siapa yang tidak bingung ketika mendengar bule Amerika bercerita bahwa ia ingin berjumpa Gas Dar setelah sebelumnya mengunjungi kota Bendang? Saat ditanya siapa yang dimaksud dengan Gas Dar, bule itu dengan penuh percaya diri menjelaskan bahwa Gas Dar adalah mantan Presiden Republik Indonesia. Oo, ternyata yang dimaksud adalah Gus Dur.
Memang, jika orang terbiasa dengan pengucapan dalam bahasa Inggris dan belum kenal pengucapan kata bahasa Indonesia, Gus akan diucapkan Gas. Lalu, kota Bendang yang dimaksud adalah Bandung. Memang kata ”dung” dalam bahasa Inggris, yang artinya kotoran hewan, dilafalkan ”dang”.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam :: BARISAN ARTIKEL, ::> Budaya | 1 Komentar »