​Syariat Islam dan Politisi


Masih ingatkah kita dengan Ketua MK yang mengusulkan koruptor untuk dipotong jarinya? Belakangan beliau tertangkap tangan oleh KPK menerima suap.

Masih ingatkah kita dengan Anggota DPRD DKI yang berniat maju di Pilkada dengan program menegakkan Syariat Islam di Ibukota negara RI? Belakangan KPK juga menangkap yang bersangkutan atas uang suap yang diterimanya.
Belum hilang pula dari ingatan kita begitu bersemangatnya aktivis Partai Dakwah di setiap kesempatan yang selalu koar-koar soal hijab syar’i ? Lantas beberapa waktu lalu kita mengetahui istri muda sang Ketua Partai Dakwah yang masih SMU tidak pakai hijab, bahkan beberapa minggu lalu seorang anggota parlemen dari partai yang sama menikahi perempuan muallaf yang juga tidak pakai jilbab.
Dan masih terekam dalam jejak digital bagaimana seorang Ketua DPD mengusulkan hukuman mati bagi koruptor? eh beliau tertangkap tangan menerima suap beberapa hari yang lalu.
Atau di masa silam gencar sejumlah partai Islam menolak perempuan menjadi pemimpin, namun mereka kemudian menurunkan Gus Dur dan menaikkan Mega sebagai presiden? 
Atau sekarang sejumlah pihak menolak petahana ibu kota dengan alasan ayat kitab suci, tapi malah menyorongkan perempuan dari kota lain sebagai calon penantangnya, atau menyalonkan seorang tokoh dari partai Islam lainnya yang telah menikahi perempuan filipina dan belum berjilbab. Ada juga partai dakwah yang menerima kandidat non-muslim di pilkada surakarta lengkap dengan berbagai penjelasan syar’i-nya, lantas sekarang kuat sekali menolak calon non-Muslim. Mereka pakai Syariat Islam untuk menolak atau mendukung orang sesuka mereka saja.
Nah, mulai saat ini berhati-hatilah setiap politisi bicara soal Syariat Islam. Jangan mudah terpesona. Jangan mudah menganggap mereka tokoh Islam hanya karena bicara satu-dua ayat dan hadits. Lihat track record mereka. Cukup sudah politisasi syariat Islam untuk kepentingan sesaat. Mereka menjual ayat Allah dengan harga yang murah. 
Rakyat lapar, mereka kasih ayat. Kota kumuh, mereka beri hadits. Sungai bau, mereka kasih fatwa. Politisi korup, mereka kasih khutbah. Begitulah Syariat Islam di tangan para politisi dan parpol. Tidak ada program konkrit yang mereka tawarkan selain menggunakan mimbar masjid untuk ngompol (ngomong politik). 
Kembalikan urusan Syariat Islam kepada para Kiai. Rebut kembali Syariat Islam dari tangan para politisi. Kita kembalikan Syariat Islam ke jalurnya yang benar agar tidak cuma jadi bahan kampanye para politisi. Mari kita jaga kesucian Syariat Islam dari tangan politisi kotor. 
Tabik,
Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Politisasi di Kampus  ??? 

Sejauh ini derap langkah antusiasme mahasiswa baru Hukum Ekonomi syariah untuk mempertahankan independensinya patut diacungi jempol. Mereka menaruh harapan kepada mahasiswa diatas mereka untuk tidak gaduh dan berdamai. Sejatinya kegaduhan tercipta bukan tanpa dasar atas terciptanya dua kegiatan yang berbeda latar belakang, intra dan ekstra tentunya. Para mahasiswa disajikan suatu peperangan yang tanpa terlihat nyata, siapa yang berfikir seperti itu ? 
Coba analisis, kegiatan yang mengandung legalitas dan ilegal jelas berada pada organisasi intra karena tergantung persetujuan dari pimpinan. Berbeda halnya dengan organisasi ekstra ketika membuat sebuah kegiatan yang inovatif tanpa membutuhkan legalitas, lah wong kita memang ndak ada hubungannya kog. 
Yang membuat seperti diserang adalah yang berfikiran seperti itu, yang berfikiran takut kehilangan popularitas, takut kehilangan taji dan takut kehilangan kekuasaan. Dan yang paling penting takut kehilangan KADER. 
Pemimpin membutuhkan suatu kepercayaan untuk mengemban amanah, Bagaimana Bisa tindakan melangkahi pemimpin dan bertindak tanpa persetujuan itu bukan tindakan politisasi ? Ah sudahlah… Mahasiswa kita mulai cerdas dengan pandangan ijtihad nya. Sekarang ini bagaimana cara kita membawa mahasiswa untuk merevitalisasi pola pikir menjadi kritis dan dapat berkontribusi bagi bangsa khususnya dalam bidang keuangan syariah.
Fokus pengkaderan saja tidak cukup mengubah pribadi yang matang. Mungkin secara mental saja berubah menjadi beringas membela ekstra nya. Buka dan BUKA dunia luar yang lebih menantang. Sikap Independensi yang tertanam pada mahasiswa baru sangat tepat demi kondusif nya pembelajaran kampus islam yang disegani di indonesia.
Untuk Adek adek mahasiswa baru, pertahankan independensi yang kalian inginkan. Jaga angkatan kalian dari sensitivitas bendera dengan tetap menjalin persaudaraan. Sejatinya teman adalah link masa depan, maka janganlah bersikap berbeda jika hanya berbeda warna. Profesional lah sebagai ciri watak penggerak bangsa.
 Politisasi di kampus itu sebenarnya tidak ada, opini itu seakan diciptakan untuk menjaga kans mereka. Dan kalian tahu ? Sebenarnya yang berfikiran seperti itu berarti pemainnya alias politisi kampus. So, stay cool untuk menghadapi gejolak yang “diciptakan” oleh oknum. Lihatlah suatu kegiatan itu berdasarkan manfaat bukan berfikiran negatif dengan menjustifikasi bahwa kegiatan itu sarat akan politisasi. 
Selamat malam…

Salam mahasiswa !!!
Oleh: Bergomi

Makna Filosofis PMII

​Makna Filosofi PMII

PMII adalah sebuah singkat dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, yang dimana, disetiap katanya mengandung makna dan arti yang mencerminkan anggota serta kader-kader di dalamya.

“Pergerakan” dalam hubungan dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membuna dan mengembangkan potensi ke-Tuhanan dan potensi ke-Manusian agar gehrak dinamika menuju tujuannya selalu berada didalam kualitas kehalifaannya.

“Mahasiswa” yang terkandung dalam PMII adalah golong generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri.

Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan akademis, insan sosial dan mandiri. Dari identitas diri mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab sosial masyarakat dan tanggung jawab individu baik sebagai hamba tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah islam sebagai agama yang dipoahami dengan paradigma “Ahlussunah Wak Jama’ah” yaitu konsep pendekatan terhadap ajara agama Islam secara proporsional antara iman, islam dan ihsan yang di dalam pola pikir dan pola perilakunya tercermin sifat-sifat selektif, akomodatif dan integratif.

“Indonesia” yang terkandung dalam PMII adalah masyarakat bangsa dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideolagi bangsa (Pancasila) serta UUD 1945 dengan kesadaran kesatuan dan keutuhan bangsa serta negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang diikat dengan kesadaran wawasan Nusantara.

“Fauzan Alfas dalam bukunya PMII DALAM SIMPUL-SIMPUL SEJARAH”

Mengenal PMII

​Selamat datang Sahabat-Sahabat/I Ku dan selamat berproses dengan status barumu, Mahasiswa.

Ingatlah SahabtKu, ketika kalian menjadi Mahasiswa secara tidak langsung banyak amanat yang telah Kita pikul, tatkala sejarah bercerita, the agent of change julukan Kita.

Sulit rasanya ketika kita berfikir untuk merealisasikan itu semua, membuktikan bahwasanya Kita memang pantas untuk di panggil dengan sebutan Mahasiswa, tapi dimana ada keinginan maka disitu ada jalan bukan?

Ya, berorganisasi! Berorganisasi merupakan salah satu cara mencapai Ke-Mahasiswaan seorang mahasiswa. Berbicara organisasi, PMII hadir sebagai organisasi, sebagai wadah yang nantinya akan membantu Kita untuk merealisasika itu semua, tentunya dengan prinsip-prinsip dan aturan-aturan di dalamnya. 

Di dalam PMII kita di tuntut untuk berDzikir diiringi dengan keYakinan, berFikir sembari berUsaha, serta mengAmalkan Sampai pada target yang kita tuju.

PMII pun tak hadir untuk memaksa Kita meninggalkan kuliah, tidak pula mengajarkan Kita untuk menghina ataupun menjelekkan organisasi lain, akan tetapi PMII hadir untuk membantu Kita, membantu dalam berbagai hal teruntuk mengamalkan status Kita sebagai Mahasiswa.

Memanusiakan Manusia adalah salah satu toeri dasar dari organisasi ini, beranjak dari teori ini, banyak Kader-Kadernya yang telah merubah dunia ini, tentu dengan tujuan yang mulia, dan dengan itu pula bendera PMII masih kokoh berkibar di Tanah Air Kita (Indonesia).
Al Ahsan Sakino 

#HidupMahasiswa

#HidupPMII

#HidupNKRI

#pmii_komfaksyahum

#pmii

Catatan Hati Seorang Sahabati

Pergerakan dalam hidup harus selalu siap dalam menghadapi setiap rintangan, jangan saling menyalahkan, menjatuhkan apalagi  berhenti. Karena bergerak itu seperti cinta, entah sedih atau bahagia itu semua tetap anugerah dari Tuhan.-Isymaa

2013 lalu, gue mulai menjalani kehidupan baru gue sebagai mahasiswa. Masa peralihan dari anak SMA yang manja menjadi mahasiswa yang dituntut selalu mandiri begitu kontra. Dogma negatif, Issue yang tidak pasti bahkan berita hoax yang menyudutkan dimakan begitu saja oleh pemikiran-pemikiran polos kami, mahasiswa baru. Tidak ada perlawanan atau penyangkalan, karena kami pikir senior lebih tau segalanya padahal lambat laun terbukti tidak.

Gue menjadi keluarga baru di Ilmu Hukum, satu orang yang menggenapkan 40 jumlah orang di kelas. Di Kelas Ilmu Hukum A angkatan 2013, ada 11 mahasiswi. Dan dari 11 mahasiswi itu, 10 orang memilih mengikuti LK, dan 1 orang memilih berjalan berlawanan dengan mengikuti mapaba. Dan satu orang itu adalah gue. Sebenernya menjadi angka satu atau satusatunya itu tidak selalu membuat bangga, tetapi siapa yang berani melawan arus, dia yang lebih pandai berenang, bukan?

Berproses tanpa teman bukan hal yang mudah. Menjadi bagian PMII, tanpa ada yang dikenal didalamnya juga bukan hal yang mudah. Tapi untuk berpikir mundur, ahh itu sebuah penghianatan. Dan gue selalu percaya, proses yang berhasil gue lewati, satu persatu, langkah perlangkah, akan menjadi ribuan jarak yang membawa gue semakin dekat ke destinasi tujuan terakhir gue. Tuhan. Ya, PMII dekat dengan tuhan, katanya.

Hari berganti, udara berubah, tetapi langit tetap biru dan dahan pohon talok di ciputat tak akan pernah memutih. Begitu pula memori, tak akan pernah menghilang walau nyawa melayang, apalagi memori tentang PMII. Banyak hal indah, banyak hal duka, banyak hal yang bisa membuat tertawa. tapi apakah itu adalah esensi dari berganisasi? Hanya membuat bahagia.

Lalu, Perlahan tapi pasti, cinta PMII tumbuh tanpa pupuk di hati gue. Jangan tanya kenapa, gue punya beribu alasan buat menjawab pertanyaan sepele itu. sekali lagi, jangan tanya alasannya kalau kalian belum siap buat jatuh cinta sama PMII seperti gue. 

Banyak ilmu yang gue dapet dari PMII. Banyak sahabat yang gue punya dari PMII. Banyak pengalaman yang gue terima dari PMII. Kalau ada yang bilang PMII gak akan pernah ngasih apa-apa itu menurut gue gombal. Tuhan pun menitipkan banyak nikmat dan karunianya melalui perantara PMII. Gak percaya? Sama. Tapi kita berhasil karena percaya ,bukan? 

Mencoba Masuk karena nekat, bertahan karena niat lalu berhasil karena percaya. Tidak ada yang salah, bukan?. Lalu, apa yang kamu tunggu?..

Critical Legal Studies

​Sebenarnya, yang pertama sekali mengembangkan terminologi teori kritis adalah mazhab frankfurt, yang dipelopori oleh para anggota dari Institute for Social Research dari University of Frankfurt, yang umumnya merupakan para sarjana berhaluan kiri. Kemudian, istilah teori kritis ini, yang sebenarnya tidak begitu jelas batas-batasnya, berkembang ke berbagai bidang ilmu, yang di kembangkan antara lain oleh sarjana atau kelompok dari sarjana dalam bentuk teori-teori sebagai berikut: Teori marxist dari Frankfurt School, Teori semiotic and linguistic dari Julia Kristeva dan Roland Barthes, Teori psychoanalythic dari Jacquest Lacan,Critical legal studies dari Roberto Unger dan Duncan Kennedy, Teori queer, Teori gender, Teori kultural, Teori critical race, Teori radical criminology.

Pelopor Aliran ini adalah Imanuel Kant. Immanuel Kant adalah seorang filusuf Jerman kelahiran Konigsberg, 22 April 1724  12 februari 1804. Ia dikenal sebagai tokoh kritisisme. Filsafat kritis yang ditampilkannya bertujuan untuk menjembatani pertentangan antara kaum Rasionalisme dengan kaum Empirisme. Bagi Kant, baik Rasionalisme maupun Empirisme belum berhasil memberikan sebuah pengetahuan yang pasti berlaku umum dan terbukti dengan jelas. Kedua aliran itu memiliki kelemahan yang justru merupakan kebaikan bagi seterusnya masing-masing.

Menurut kant, pengetaahuan yang dihasilkan oleh kaum Rasionalisme tercermin dalam putusan yang bersifat analitik-apriori, yaitu suatu bentuk putusan dimana predikat sudah termasuk dengan sendirinya kedalam subyek. Memang mengandung kepastian dan berlaku umum, tetapi tidak memberikan sesuatu yang baru. Sedangkan yang dihasilkan oleh kaum Empirisme itu tercermin dalam putusan yang bersifat sintetik-aposteriori, yaitu suatu bentuk putusan dimana predikat belum termasuk kedalam subyek. Meski demikian, sifat sintetik-apesteriori ini memberikan pengetahuan yang baru, namun sifatnya tidak tetap, sangat bergantung pada ruang dan waktu. Kebenaran disini sangat bersifat subyektif

Menyadari akan kebobrokan hukum yang sudah sampai pada tataran teoretis dan filsafat ini, maka pada akhir abad ke-20, tepatnya mulai dekade 1970-an, beberapa ahli hukum mulai melihat hukum dengan kacamata. yang kritis, bahkan sangat kritis, dengan gerakannya. yang terbilang revolusioner, akhirnya memunculkan suatu aliran baru dalarn filsafat hukum, yang kemudian dikenal dengan sebutan aliran hukum kritis (critical legal studies). Meskipun aliran critical legal studies belum tentu juga mempunyai teori yang bersifat alternatif, tetapi paling tidak, dia sudah punya. sejarah.

Di samping itu, aliran critical legal studies ini juga berbeda secara konsepsi dengan pendekatan hukum secara sosiologis (sociolegal studies). Pendekatan pada hukum secara sosiologis memiliki kelemahan utama berupa terabaikannya karakter orientasi kebijaksanaan hukum (policy oriented). Khusus untuk masalah ini, berbagai alternatif pendekatan baru telah dilakukan oleh para ahli hukum, seperti munculnya ajaran berupa sosiologi hukum kritis (critical sociology of law) atau pendekatan pada hukum (dan juga pada fenomena sosial lainnya) berupa pendekatan secara dialektikal yang modern, semacam yang dilakukan oleh ahli pikir seperti Derrida, atau bahkan seperti yang dimunculkankan oleh Hegel, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut, antara. lain oleh Bhaskar, dengan doktrinnya berupa realisme kritikal dialektis (dialectical critical realism). Pendekatan nonkonvensional terhadap hukum seperti ini sudah barang tentu sangat bertentangan dengan pendekatan-pendekatan hukum secara klasik, yang terialu menekankan pada cara berpikir identitas (identity thinking).

Critical Legal Studies dan Hukum Formalisme

Sebagaimana diketahui bahwa aliran critical legal studies merupakan reaksi terhadap aliran-aliran hukum sebelumnya, di mana aliran hukum sebelumnya tersebut sangat berpegang pada. paradigma bahwa hukum terpisah dengan faktor politik dan moral, dengan mengagung-agungkan manusia sebagai pernegang hak individual dan penyandang kewajiban hukum, dan dengan mengabaikan hubungan politik dan sosial di antara para anggota masyarakat.

Di samping itu, menurut paham formalisme hukum, hukum bersifat imperatif, karena hukum tersebut dibuat oleh negara. dan alat-alat pelengkapan negara bertugas untuk menjalankan hukum tersebut. Pemerintah bersama~sama dengan DPR mempunyai otoritas untuk membuat undang-undang, yang akan diterapkan oleh hakim di pengadilan. Pemikiran seperti ini membawa akibat bahwa validitas hukum tidak lagi dilihat pada aspek substantifnya. Yang dilihat hanyalah faktor formalnya, seperti keabsahan prosedur pembuatan dan penerapan hukum, kewenangan pejabat pembuat dan penerap hukum, dan lain-lain.

Hukum dapat di tegakkan jika hukum itu sudah berbentuk undang-undang oleh karena itu perkembangan hukum akan terasa sangat lamban jika menerapi sistem eropa continental. Menurut faham formalisme, sistem yang mereka anut bertujuan untuk melindungi hak  hak manusia namun pada hakikatnya masyarakat kesulitan untuk menenggakan hukum formal ini karena masyarakat harus mengaksesnya lewat advokat atau lawyer yang haru disertai dengan uang yang tidak sedikit.
Critical legal studies dan Hukum Tradisional

Pada prinsipnnya, critical legal studies menolak anggapan ahli hukum tradisional yang mengatakan :

Hukum Itu Objektif

Artinya, kenyataan adalah tempat berpijaknya hukum

Huukum Itu Sudah Tertentu

Artinya, Hukum itu menyediakan jawaban yang pasti dan mudah di mengerti

Hukum Itu Netral

Artinya, Hukum itu tidak memihak

Hukum Itu Otonom

Artinya, Hukum tu berdiri sendiri dan tidak terpengaruh oleh politik dan ilmu  ilmu lain.

Namun ajaran critical legal studies menoak keempat pendapat tersebut dan beranggapan bahwa

Hukum Mencari Legitimasi Yang Salah

Dalam hal ini, hukum mencari legitimasi dengan cara yang salah, yaitu dengan jalan mistifikasi, dengan menggunakan prosedur hukum yang berbelit, bahasa yang sulit di mengerti RUU KUHP Pasal 263 Ayat 1 dan Pasal 264 RUU KUHP. Pasal 263 Ayat 1 berbunyi, “Setiap orang yang di muka umum menghina Presiden atau Wakil Presiden, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV. Pada RUU ini kata penghinaan terlalu generic dan sulit untuk di mengerti.

Hukum Di Belenggu Oleh Kontradiksi  Kontradiksi

Dalam hal ini, pihak penganut critical legal studies percaya bahwa setiapkesimplann hukum yang telah dibuat selalu terdapat sisi sebaliknya sehingga kesimpulan hukum tersebut hanya merupakan pengakuan terhadap pihak kekuasaan. Dengan hukum yang demikian, hakim akan memihak kepada salah satu pihak yang lebih kuat.

Tak Ada Yang Namanya Prinsip-Prinsip Dasar Dalam Hukum

Ahli hukum tradisional percaya bahwa prinsip yang mendasari setiap hukum adalah pemkiran yang rasioonal. Akan ttetapi menurut penganut critical legal studies, pemikiran rasional itu merupakan ciptaan masyarakat juga yang merupakan pengakuan terhadap kekuasaan. Oleh karena itu tidak ada kesimpulan hukum yang valid, baik yang di ambil dengan jalan deduktif maupun dengan verifikasi empiris.

Hukum Tidak Netral 

Para penganut critical legal studies berpendapaat bahwa hukum tidak netral, dan hakim hanya berpura-pura atau percaya secara naïf bahwa dia mengambil putusan yang netral dan tidak memihak dengan mendasari putusan undang-undang, yurisprudensi, atau prinsip-prinsip keadilan. Padahal mereka selalu bias dan selalu di pengaruhi ideology, legitimasi, dan mistifikasi yang di anutnya  untuk memperkuat kelas yang domain.
Karakteristik dan Konsep Critical Legal Studies

Adapun karakteristik Umum pada ajaran Critical Legal Studies adalah

Aliran critical legal studies ini mengkritik hukum yang serat dan dominan dengan ideology tertentu.

Aliran critical legal studies ini mengkritik hukum yang berlaku yang nyatanya memihak kepada politik dan hukum seperti itu sama sekali tidak netral

Aliran critical legal studies ini mempunyai komitmen yang besar terhadap kebebasan individual dengan batasan  batasan tertentu.

Aliran critical legal studies kurang mempercayai bentuk  bentuk kebenaran yang abstrak dan pengetahuan yang benar  benar objektif. Oleh karena itu ajaran ini sangat menolak ajaran positivism hukum.

Aliran critical legal studies ini menolak perbuatan antara teori dan praktek juga menolak perbedaan antara fakta dan nilai yang merupakan karakteristik dari faham liberal

Selanjutnya Aliran critical legal studies juga mengumandangkan beberapa konsep dasar sebagai berikut.

Aliran critical legal studies menolak hukum liberalisme

Aliran critical legal studies mengetengahkan kontradiksi antara individu dan individual lain maupun dengan komunitas masyarakat

Aliran critical legal studies melakuan delegitimasi karena legitimasi dalam masyarakat selama ini yang diperkuat dengan prinsip hegemoni dan refikasi, justru memperkuat penindasan dari yang kuat atau berkuasa terhadapgolongan yang lemah

Aliran critical legal studies menolakmodel kehidupan masyarakat liberal yang sebenarnya lebih merupakan rekayasa atau kepalsuan yang di perkokoh oleh sector hukum

Aliran critical legal studies berpendapat bahwa doktrin hukum merupakan sesuatu yang bersifat tidak pasti dan penuh dengan kontradiktif sehingga dapat di tafsirkan seenaknya oleh yang menafsirkannnya

Aliran critical legal studies karena sifat yang tidak pasti dari doktrin  doktrin hukum, maka aliran critical legal studies menggunakan model analisis dan penafsiran hukum yang lebih bersifat historis, sosio ekonomis, dan psikologis.

Aliran critical legal studies berpandangan bahwa analisis  analisis yuridis mengaburkan realitas yang sebenarnya, yang melahirkan putusan  putusan yang seolah  olah adil.

Tidak ada penafsiran yang netral.

​baca atau JANGAN BER-ORGANISASI YA DIK !

Hidup mahasiswa ..
Salam Pergerakan ..

Setiap orang mungkin berorganisasi dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada orang yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Tenar’, ada yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Kaya’, ada yang dengan tujuan ‘Cari teman, Cari pasangan, Cari peluang, ada yang dengan tujuan ‘Belajar mandiri dan percaya diri’, ada yang sekedar ikut-ikutan teman atau pasangannya tanpa tujuan yang pasti, yang lainnya dengan tujuan ‘Berbuat Baik’.
Terlepas dari berbagai tujuan yang berbeda di atas, kita semua yang telah bergabung dalam satu organisasi tertentu (dalam hal ini organisasi PMII), ketika visi & misi, tujuan serta ideologi daripada organisasi dihantarkan, maka boleh dikatakan kita memiliki satu harapan mulia yang sama pada umumnya terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Saya teringat dengan pembicara pada salah satu kegiatan kaderisasi wajib yang diadakan oleh organisasi yang sedang saya emban tanggung-jawabnya, bahwasanya pada sesaat sebelum pembicara tersebut mengakhiri materinya dia berkata “dewasa ini ramai orang berbuat baik untuk ketenaran dan nama baik (lebih menitik-beratkan pada apa yang bisa didapati daripada apa yang bisa diberikan)”.Kata-kata Pembicara ini patut direnungkan. Menurutku, melakukan pengenalan organisasi lewat media massa atau media elektronik lainnya yang bertujuan memberikan informasi kepada mahasiswa tentang keberadaan kegiatan organisasi yang dapat memberikan manfaat bagi mereka adalah sah-sah saja. Orang-orang dapat memberikan penilaian yang baik sepanjang kita bekerja dengan usaha disertakan niat yang tulus. Tetapi kacaunya, ada orang yang jika tidak ada namanya atau tidak ada nama organisasinya, maka ia segan membantu walaupun mungkin ia mampu dan punya waktu luang. Ia terikat dengan ekstrim dengan label seperti “Aku orang P, Dia orang M, Yang itu orang I, Yang lainnya I”. Membantu yang lain sampai melangkahi kewajiban dan tanggung jawab pihak lain yang bersifat internal tentunya tidak layak dan tidak disenangi. Tetapi, membantu secara eksternal misalnya dalam hal memberikan bentuk kepedulian sesama, ikut mengkonsepkan, berbagi info pada yang lain, mengajak yang lain berdana untuk kegiatan yang dilakukan, dan masih banyak contoh yang lainnya tentunya hal yang seperti itu tidak akan dicemooh apalagi terkena sangsi social justru mendekatkan emosional terhadap yang lain.

Di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syariah dan hukum masa bakti 2015 yang diketuai oleh Brilian Eltamin Alderi di akhir kepengurusannya saya kira merupakan contoh kongkrit terhadap cerminan bagaimana sesungguhnya organisasi berlaku dinamis dan harmonis.. Peluncuran Buku Perdana Komfaksyahum merupakan karya atas kekompakan organisasi yang merupakan representasi sinergisitas antara seluruh anggota dan kader.Publikasi Buku ini adalah karya yang luar biasa yang juga berkat dukungan serta teamwork teman-teman dari pengurus organisasi. Mengagumkan! Jika suatu acara tidak sesuai dikerjakan secara bersama-sama, hendaknya yang lain memberikan dukungan moral atau bantuan yang bersifat eksternal diatas. Sikap tidak bersimpati,saling beradu masalah pribadi, saling membandingkan atau saling menjatuhkan bukanlah sikap yang terpuji dan harus jauh-jauh dihapuskan dari organisasi.

Kemudian, kita juga pernah atau sering mendengar bahwa di “organisasi ini”, di“organisasi itu” terdapat perbuatan politis yang menghalalkan segala caraa terdapatnya penyelewengan penggunaan dana oleh siapa dan siapa. Alamak! Oknum-oknum nakal seperti itulah yang harus kita jadikan common enemy.Tetapi harus juga diakui, ada sebagian kecil orang yang berorganisasi dengan sepenuh hati, tulus, tanpa pamrih, tak banyak mengharap untuk dirinya sendiri.Abdurrahman Wahid yang akrab kita panggil “Gus Dur”, mantan Presiden Indonesia ke-5 adalah sesosok pemimpin yang ketulusannya telah mengilhami banyak orang, bahkan pinpinan-pimpinan di belahan dunia lain pun memujinya.

Sekarang mari kita teliti masalah-masalah yang kerap kali muncul dalam berorganisasi !.

Di hari biasa, kita mungkin telah menghabiskan banyak waktu untuk keluarga, untuk kewajiban utama, untuk hal-hal lain yang meletihkan dan menegangkan diri kita.Aktifitas organisasi diakhir pekan yang diharapkan dapat memberi nuansa baru dan kedamaian malah menjadi tambahan beban/dilema bagi kebanyakan dari kita.

Misalnya, ketika beberapa dari teamwork kita tidak merasa berkepentingan sehingga sering tidak hadir/tidak ikut dalam rapat atau tidak muncul saat pelaksanaan suatu kegiatan, kita merasa tidak puas, jengkel, maupun tertekan.Ada perasaan bahwa kita ini kurang dihargai tetapi kita juga tidak bisa terlalu memaksa.Itulah masalahnya.Hendaknya dipahami, sebagaimana masing-masing dari kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab sendiri-sendiri yang harus dipenuhi maka sedapatnya kita memenuhi kewajiban dan tanggung jawab kita.Jangan sampai berpikiran”toh aku tidak digaji kok, memangnya dipecat? Ah, peduli amat, lagi senang yah kerjain, lagi bad mood, biarin sana”. Pikiran seperti ini tidak tepat.Terkecuali bila ada urusan yang mengharuskannya non-aktif dari organisasi seperti meninggal dunia, sakit parah, sekolah/kerja/pindah luar kota/negri.

Selanjutnya, kita juga sering berkata bahwa perbedaan pendapat adalah wajar, tetapi tidak jarang kita belum mampu memahami, bila pendapat kita tidak didengar maka timbul sakit hati, tersinggung dan tidak muncul-muncul lagi di sekretariat atau dalam kegiatan organisasinya.

Sebut saja Q, sahabat pertama sekaligus inspiratorku, aku sering berbeda pendapat dan berselisih dengannya, sampai-sampai jengkel satu sama lain. Hahaha.Tapi bila kita menyimpan kritikan/kejengkelan itu berlarut-larut dalam hati, siapa yang rugi?Aku berterima-kasih pada dirinya yang telah banyak membantuku. Sungguh!

Jobdesk yang terlalu dibedakan juga merupakan hal yang membawa dilema, ketika kita berpikiran ia bekerja terlalu sedikit, semua semuanya harus saya yang kerja, atau yang itu bahkan tidak bekerja, pintarnya cuma ngomong saja. Ah menyebalkan. Hehehe (

Beberapa waktu yang baru lewat, saya pernah mengaduh dan mengeluh pada si Q bahwa mungkin saya telah merepotkan atau mungkin bahkan mengecewakan banyak orang dengan kekalahan dalam memimpin organisasi. Rasanya kecewa dengan diri sendiri yang tidak bisa menjadi seperti apa yang diharapkan. Q membalas “Bukankah kita adalah komfaksyahum yang artinya kita satu keluarga?Bukankah bagian dari keluarga semestinya saling membantu?Kita akan saling mendukung untuk menggerakan hal yang berikutnya lagi.”Benar-benar balasan yang mengharukan hati.

Dalam organisasi, kita belajar menghargai orang lain, menerima nasehat dan mendengarkan pendapat tetapi juga tegas dengan apa yang baik yang sesuai untuk dilakukan dengan apa yang tidak baik yang sepantasnya dihindari. Kita juga belajar mengasihi dan peduli sesama teman-teman seorganisasi. Apabila kita sanggup mengasihi teman-teman sendiri yang dekat dan yang kita kenal maka kasih ini dapat dikembangkan dengan lebih baik kepada mereka yang tidak kita kenal diluar sana. Sehingga kewajiban kaderisasiakan dengan sendirinya terpenuhi.

Kita juga menjadi teladan untuk mereka yang baru bergabung atau yang masih baru.Ketika mereka melihat manfaat-manfaat yang diperoleh, mereka terinspirasi dan ingin berkarya.Sahabatkuyang barusan pulang dari Pelatihan Kader Dasar di Depok kediaman salah satu senior hebatku, menyatakan kekaguman dan takjubnya, saking terinspirasinya, dia malah terharu dan menangis. Hahaha…..

Sebagai bagian dari organisasi, saya mendorong sahabat-sahabati dalam organisasi untuk berkembang dan maju. Tetapi ada saatnya kita patut mengasihi diri sendiri dengan merenungi hal-hal seperti berikut: “Bila dulunya saya adalah orang yang penyabar, sekarang cepat emosi/mudah tersinggung/banyak yang tidak kusenangi”, “Bila dulunya saya lebih berbahagia, sekarang banyak tekanan bathin”, “Bila dulunya bisa tidur nyenyak, sekarang banyak pikiran, kacau, gelisah dan khawatir”, “Bila dulunya jarang gosipin orang, sekarang siapapun digosipin, yang buruknya pula”, “Bila dulunya kuliahku terkendali, sekarang mengatur waktu untuk sekedar membuat makalah pun tak ada”, “Bila dulunya rajin ibadah, sekarang lima waktu saja ditinggalkan” 

Bila hal-hal diatas ada pada diri kita, maka kita patut bertanya pada diri kita, Apakah saya cocok menjadi bagian dari organisasi? Berorganisasi itu baik atau tidak, bermanfaat atau tidak adalah tergantung pada masing-masing orang yang menjalani. Organisasi itu adalah suatu sarana yang menjadi pilihan untuk mengembangkan diri.Ada orang yang cocok dan cepat maju dengan berorganisasi.Sebaliknya ada orang yang cocok dan cepat maju dengan pilihan lainnya yang juga terpuji.

Selamat berorganisasi !!!

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwaami Thariq

Wassalamua’alaikum Warahmatullahi Wabaraakaatuh

Kader Syariah

Luthfan Dimas Pratama S.Sy., S.H

Pembela Bangsa Penegak Agama