​Memetakan Politik dan Keadilan

Sabtu, Oktober 15th 2016. | Opini

Oleh : Hasin Abdullah 

Menyoal politik-hukum Indonesia sudah lama diperbincangkan oleh kalangan para pengamat, dan pakar pun tandas mengatakan dasar hukum adalah keadilan yang merupakan bagian dari sumber kehidupan sosial secara politis.

Hal ini menunjukkan keadilan komutatif yang sistem penerapan di lapanga mewujudkan ketertiban masyarakat, kesejahteraan supaya arah budaya politik yang lebih cenderung pada otoritas kekuasaan bisa berpaling.

Tak terkecuali, memprioritaskan nilai-nilai kebenaran yakni keadilan yang secara praktis dapat didominasi perubahan kehidupan masyarakat bawah sekalipun, tentu dengan segala upaya membenahi tatanan paradigma kehidupan sosial masyarakat yang belum merasakan kebenaran masa kini.

Keadilan di negeri ini hendaknya ditempatkan pada aspek realitas ilmiah yang merumuskan identitas dan kemaslahatan nasional, sebagai sistem pemerataan subsfrastruktur yang berkeadilan baik di ranah sosial masyarakat, dengan cara merujuk pada formulasi dialektika politik yang tentu tidak sekadar memunculkan ajang kompetisi dan perlawanan propaganda politik. Tak lain membangun dasar hukum yang kuat sehingga masyarakat pun merasa terjamin.

Kini Indonesia terdiri banyak partai politik sering membelakangi indikasi keadilan, faktor keterbelakangan ini dapat terlihat perilaku mafia di institusi maupun di lingkaran kekuasaan. Konteks mafia, korupsi, kolusi, dan nepotisme kian masif karena jiwa politik yang serakah kekuasaan sehingga dapat merusak keadilan sosial dengan mudah.

Meneladani Politik Kemanusiaan

Ibnu Taimiyyah memberikan pandangan politik dalam karya (Zainal Arifin Hoesein; Pemilihan Kepala Daerah Langsung 2015) “politik memiliki makna hakikat kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Politik menjadi instrument penegak nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran juga termasuk menjelmakan konsep manusia sebagai makhluq sosial”.

Meminjam pandangan Ibnu Taimiyyah, ia menunjukkan tujuan dan arah politik cenderung pada kebenaran-kebenaran manusia, sebagai panutan spesifiknya menjunjung keadilan serta nilai-nilai kemanusiaan. Yang pada akhirnya pelanggaran hak asasi manusia dapat diantisipasi.

Indonesia saat ini membutuhkan elit politik yang betul-betul intervensi dalam masalah keadilan yang kini kinerja para pimpinan-stakeholder masih belum profesional, sehingga kinerja mereka membutuhkan perbaikan untuk mengukir keterampilan sikap profesionalisme sebagai agent social of control pengawasan dikalangan elit politik dan masyarakat bisa berkerja dengan baik.

Sudah sepantasnya politik praktis di tanah air mengakhiri konflik internal, semacam ini bisa menghancurkan citra keadilan. Oleh sebab itu, butuh kepastian hukum yang jelas agar arah perbaikan dapat meningkatkan kualitas hak asasi manusia, serta memperbaiki praktik politik yang belum membaik.

Indonesia sukses apabila terus-menerus mensosialisasikan tujuan politik yang dipandang oleh Ibnu Taimiyah, karena dengan ini Negara yang terdiri dari beragam budaya bisa disikapi pola pikir kemanusiaan, dan bias keadilan. Alhasil, masyarakat bisa berkembang secepat mungkin dan tak mudah vakum soal ini.

Penulis: Peneliti Rumah Pemuda Hukum Indonesia (RUPHI), Aktivis PMII Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

​Syariat Islam dan Politisi


Masih ingatkah kita dengan Ketua MK yang mengusulkan koruptor untuk dipotong jarinya? Belakangan beliau tertangkap tangan oleh KPK menerima suap.

Masih ingatkah kita dengan Anggota DPRD DKI yang berniat maju di Pilkada dengan program menegakkan Syariat Islam di Ibukota negara RI? Belakangan KPK juga menangkap yang bersangkutan atas uang suap yang diterimanya.
Belum hilang pula dari ingatan kita begitu bersemangatnya aktivis Partai Dakwah di setiap kesempatan yang selalu koar-koar soal hijab syar’i ? Lantas beberapa waktu lalu kita mengetahui istri muda sang Ketua Partai Dakwah yang masih SMU tidak pakai hijab, bahkan beberapa minggu lalu seorang anggota parlemen dari partai yang sama menikahi perempuan muallaf yang juga tidak pakai jilbab.
Dan masih terekam dalam jejak digital bagaimana seorang Ketua DPD mengusulkan hukuman mati bagi koruptor? eh beliau tertangkap tangan menerima suap beberapa hari yang lalu.
Atau di masa silam gencar sejumlah partai Islam menolak perempuan menjadi pemimpin, namun mereka kemudian menurunkan Gus Dur dan menaikkan Mega sebagai presiden? 
Atau sekarang sejumlah pihak menolak petahana ibu kota dengan alasan ayat kitab suci, tapi malah menyorongkan perempuan dari kota lain sebagai calon penantangnya, atau menyalonkan seorang tokoh dari partai Islam lainnya yang telah menikahi perempuan filipina dan belum berjilbab. Ada juga partai dakwah yang menerima kandidat non-muslim di pilkada surakarta lengkap dengan berbagai penjelasan syar’i-nya, lantas sekarang kuat sekali menolak calon non-Muslim. Mereka pakai Syariat Islam untuk menolak atau mendukung orang sesuka mereka saja.
Nah, mulai saat ini berhati-hatilah setiap politisi bicara soal Syariat Islam. Jangan mudah terpesona. Jangan mudah menganggap mereka tokoh Islam hanya karena bicara satu-dua ayat dan hadits. Lihat track record mereka. Cukup sudah politisasi syariat Islam untuk kepentingan sesaat. Mereka menjual ayat Allah dengan harga yang murah. 
Rakyat lapar, mereka kasih ayat. Kota kumuh, mereka beri hadits. Sungai bau, mereka kasih fatwa. Politisi korup, mereka kasih khutbah. Begitulah Syariat Islam di tangan para politisi dan parpol. Tidak ada program konkrit yang mereka tawarkan selain menggunakan mimbar masjid untuk ngompol (ngomong politik). 
Kembalikan urusan Syariat Islam kepada para Kiai. Rebut kembali Syariat Islam dari tangan para politisi. Kita kembalikan Syariat Islam ke jalurnya yang benar agar tidak cuma jadi bahan kampanye para politisi. Mari kita jaga kesucian Syariat Islam dari tangan politisi kotor. 
Tabik,
Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Politisasi di Kampus  ??? 

Sejauh ini derap langkah antusiasme mahasiswa baru Hukum Ekonomi syariah untuk mempertahankan independensinya patut diacungi jempol. Mereka menaruh harapan kepada mahasiswa diatas mereka untuk tidak gaduh dan berdamai. Sejatinya kegaduhan tercipta bukan tanpa dasar atas terciptanya dua kegiatan yang berbeda latar belakang, intra dan ekstra tentunya. Para mahasiswa disajikan suatu peperangan yang tanpa terlihat nyata, siapa yang berfikir seperti itu ? 
Coba analisis, kegiatan yang mengandung legalitas dan ilegal jelas berada pada organisasi intra karena tergantung persetujuan dari pimpinan. Berbeda halnya dengan organisasi ekstra ketika membuat sebuah kegiatan yang inovatif tanpa membutuhkan legalitas, lah wong kita memang ndak ada hubungannya kog. 
Yang membuat seperti diserang adalah yang berfikiran seperti itu, yang berfikiran takut kehilangan popularitas, takut kehilangan taji dan takut kehilangan kekuasaan. Dan yang paling penting takut kehilangan KADER. 
Pemimpin membutuhkan suatu kepercayaan untuk mengemban amanah, Bagaimana Bisa tindakan melangkahi pemimpin dan bertindak tanpa persetujuan itu bukan tindakan politisasi ? Ah sudahlah… Mahasiswa kita mulai cerdas dengan pandangan ijtihad nya. Sekarang ini bagaimana cara kita membawa mahasiswa untuk merevitalisasi pola pikir menjadi kritis dan dapat berkontribusi bagi bangsa khususnya dalam bidang keuangan syariah.
Fokus pengkaderan saja tidak cukup mengubah pribadi yang matang. Mungkin secara mental saja berubah menjadi beringas membela ekstra nya. Buka dan BUKA dunia luar yang lebih menantang. Sikap Independensi yang tertanam pada mahasiswa baru sangat tepat demi kondusif nya pembelajaran kampus islam yang disegani di indonesia.
Untuk Adek adek mahasiswa baru, pertahankan independensi yang kalian inginkan. Jaga angkatan kalian dari sensitivitas bendera dengan tetap menjalin persaudaraan. Sejatinya teman adalah link masa depan, maka janganlah bersikap berbeda jika hanya berbeda warna. Profesional lah sebagai ciri watak penggerak bangsa.
 Politisasi di kampus itu sebenarnya tidak ada, opini itu seakan diciptakan untuk menjaga kans mereka. Dan kalian tahu ? Sebenarnya yang berfikiran seperti itu berarti pemainnya alias politisi kampus. So, stay cool untuk menghadapi gejolak yang “diciptakan” oleh oknum. Lihatlah suatu kegiatan itu berdasarkan manfaat bukan berfikiran negatif dengan menjustifikasi bahwa kegiatan itu sarat akan politisasi. 
Selamat malam…

Salam mahasiswa !!!
Oleh: Bergomi

Makna Filosofis PMII

​Makna Filosofi PMII

PMII adalah sebuah singkat dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, yang dimana, disetiap katanya mengandung makna dan arti yang mencerminkan anggota serta kader-kader di dalamya.

“Pergerakan” dalam hubungan dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membuna dan mengembangkan potensi ke-Tuhanan dan potensi ke-Manusian agar gehrak dinamika menuju tujuannya selalu berada didalam kualitas kehalifaannya.

“Mahasiswa” yang terkandung dalam PMII adalah golong generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri.

Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan akademis, insan sosial dan mandiri. Dari identitas diri mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab sosial masyarakat dan tanggung jawab individu baik sebagai hamba tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.

“Islam” yang terkandung dalam PMII adalah islam sebagai agama yang dipoahami dengan paradigma “Ahlussunah Wak Jama’ah” yaitu konsep pendekatan terhadap ajara agama Islam secara proporsional antara iman, islam dan ihsan yang di dalam pola pikir dan pola perilakunya tercermin sifat-sifat selektif, akomodatif dan integratif.

“Indonesia” yang terkandung dalam PMII adalah masyarakat bangsa dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideolagi bangsa (Pancasila) serta UUD 1945 dengan kesadaran kesatuan dan keutuhan bangsa serta negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang diikat dengan kesadaran wawasan Nusantara.

“Fauzan Alfas dalam bukunya PMII DALAM SIMPUL-SIMPUL SEJARAH”

Mengenal PMII

​Selamat datang Sahabat-Sahabat/I Ku dan selamat berproses dengan status barumu, Mahasiswa.

Ingatlah SahabtKu, ketika kalian menjadi Mahasiswa secara tidak langsung banyak amanat yang telah Kita pikul, tatkala sejarah bercerita, the agent of change julukan Kita.

Sulit rasanya ketika kita berfikir untuk merealisasikan itu semua, membuktikan bahwasanya Kita memang pantas untuk di panggil dengan sebutan Mahasiswa, tapi dimana ada keinginan maka disitu ada jalan bukan?

Ya, berorganisasi! Berorganisasi merupakan salah satu cara mencapai Ke-Mahasiswaan seorang mahasiswa. Berbicara organisasi, PMII hadir sebagai organisasi, sebagai wadah yang nantinya akan membantu Kita untuk merealisasika itu semua, tentunya dengan prinsip-prinsip dan aturan-aturan di dalamnya. 

Di dalam PMII kita di tuntut untuk berDzikir diiringi dengan keYakinan, berFikir sembari berUsaha, serta mengAmalkan Sampai pada target yang kita tuju.

PMII pun tak hadir untuk memaksa Kita meninggalkan kuliah, tidak pula mengajarkan Kita untuk menghina ataupun menjelekkan organisasi lain, akan tetapi PMII hadir untuk membantu Kita, membantu dalam berbagai hal teruntuk mengamalkan status Kita sebagai Mahasiswa.

Memanusiakan Manusia adalah salah satu toeri dasar dari organisasi ini, beranjak dari teori ini, banyak Kader-Kadernya yang telah merubah dunia ini, tentu dengan tujuan yang mulia, dan dengan itu pula bendera PMII masih kokoh berkibar di Tanah Air Kita (Indonesia).
Al Ahsan Sakino 

#HidupMahasiswa

#HidupPMII

#HidupNKRI

#pmii_komfaksyahum

#pmii

Catatan Hati Seorang Sahabati

Pergerakan dalam hidup harus selalu siap dalam menghadapi setiap rintangan, jangan saling menyalahkan, menjatuhkan apalagi  berhenti. Karena bergerak itu seperti cinta, entah sedih atau bahagia itu semua tetap anugerah dari Tuhan.-Isymaa

2013 lalu, gue mulai menjalani kehidupan baru gue sebagai mahasiswa. Masa peralihan dari anak SMA yang manja menjadi mahasiswa yang dituntut selalu mandiri begitu kontra. Dogma negatif, Issue yang tidak pasti bahkan berita hoax yang menyudutkan dimakan begitu saja oleh pemikiran-pemikiran polos kami, mahasiswa baru. Tidak ada perlawanan atau penyangkalan, karena kami pikir senior lebih tau segalanya padahal lambat laun terbukti tidak.

Gue menjadi keluarga baru di Ilmu Hukum, satu orang yang menggenapkan 40 jumlah orang di kelas. Di Kelas Ilmu Hukum A angkatan 2013, ada 11 mahasiswi. Dan dari 11 mahasiswi itu, 10 orang memilih mengikuti LK, dan 1 orang memilih berjalan berlawanan dengan mengikuti mapaba. Dan satu orang itu adalah gue. Sebenernya menjadi angka satu atau satusatunya itu tidak selalu membuat bangga, tetapi siapa yang berani melawan arus, dia yang lebih pandai berenang, bukan?

Berproses tanpa teman bukan hal yang mudah. Menjadi bagian PMII, tanpa ada yang dikenal didalamnya juga bukan hal yang mudah. Tapi untuk berpikir mundur, ahh itu sebuah penghianatan. Dan gue selalu percaya, proses yang berhasil gue lewati, satu persatu, langkah perlangkah, akan menjadi ribuan jarak yang membawa gue semakin dekat ke destinasi tujuan terakhir gue. Tuhan. Ya, PMII dekat dengan tuhan, katanya.

Hari berganti, udara berubah, tetapi langit tetap biru dan dahan pohon talok di ciputat tak akan pernah memutih. Begitu pula memori, tak akan pernah menghilang walau nyawa melayang, apalagi memori tentang PMII. Banyak hal indah, banyak hal duka, banyak hal yang bisa membuat tertawa. tapi apakah itu adalah esensi dari berganisasi? Hanya membuat bahagia.

Lalu, Perlahan tapi pasti, cinta PMII tumbuh tanpa pupuk di hati gue. Jangan tanya kenapa, gue punya beribu alasan buat menjawab pertanyaan sepele itu. sekali lagi, jangan tanya alasannya kalau kalian belum siap buat jatuh cinta sama PMII seperti gue. 

Banyak ilmu yang gue dapet dari PMII. Banyak sahabat yang gue punya dari PMII. Banyak pengalaman yang gue terima dari PMII. Kalau ada yang bilang PMII gak akan pernah ngasih apa-apa itu menurut gue gombal. Tuhan pun menitipkan banyak nikmat dan karunianya melalui perantara PMII. Gak percaya? Sama. Tapi kita berhasil karena percaya ,bukan? 

Mencoba Masuk karena nekat, bertahan karena niat lalu berhasil karena percaya. Tidak ada yang salah, bukan?. Lalu, apa yang kamu tunggu?..

Pembela Bangsa Penegak Agama