Mencari Wajah Islam Indonesia

Tidak ada kelompok yang berhak mengklaim dirinya paling benar dan berhak mendominasi surga Allah, apalagi mencap kafir atau menuding kelompok lain sesat. “Indonesia adalah negara yang menghargai pluralitas, salah-satunya pada hal berkeyakinan dan memeluk sebuah agama. Karena agama adalah hak asasi setiap manusia. Islam yang berkembang di Indonesia memiliki akar yang kuat dalam konteks keindonesiaan.

Di Indonesia, Islam telah banyak melahirkan aliran-aliran yang satu sama lain mampu memberikan warna dan corak yang berarti. Namun demikian ketegangan maupun konflik antar aliran seringkali tak terelakkan. Ketegangan itu biasanya terjadi karena adanya perbedaan dalam menghadapi modernisasai.”

“Tetapi sejarah terbentuknya Islam di Indonesia, unsur-usur yang memengaruhinya, serta proses penyebarannya, telah mampu menghasilkan paham keterbukaan (teologi inklusif). Paham inilah yang menjadikan mereka tetap survive dalam menghadapi ketegangan dan konflik yang ada.” Itulah salah satu pernyataan Syafi’i Anwar, Direktur International Conference for Islam and Pluralism (ICIP) dalam diskusi interaktif yang dilaksanakan oleh Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) UNJ Jakarta Timur yang bekerjasama dengan yayasan Tifa 29/6 lalu. Diskusi dengan tema “Islam Indonesia Antara Agama dan Budaya” ini juga menghadirkan Abd. Moqsith Ghazali, MA dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Andi Handiyanto, Dosen Jurusan Agama Islam Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta.

Berbeda dengan Syafi’i Anwar yang melihat pentingnya unsur budaya dalam agama, Ismail Yusanto justur menilai adanya peran ganda dalam konsep budaya. Menurut juru bicara HTI ini agama dibentuk oleh tata nilai budaya yang di dalamnya terdapat substansi hadharah, yaitu sebuah konsepsi kemajmukan. Menurutnya gagasan tentang hadharah dapat dipahami sebagai madaniyah (produk materi di dalam sebuah komunitas). Tetapi ia menolak hadharah materialistik yang menurutnya akan menghasilkan kemaksiatan di mana-mana. Sebaliknya ia meyakini bahwa hadharah spiritual adalah hadharah yang paling baik. “Dengan hadharah spiritual itulah kita mungkin untuk merealisasikan syariat Islam di negara Indonesia ini”, tandasnya.

Pandangan tentang syariat Islam ini sepontan ditolak oleh Andi Handiyanto, salah seorang dosen Agama Islam UNJ. “Islam tidak bisa diidentikkan dengan kearab-araban atau segala bentuk yang harus sesuai dengan bangsa Arab secara keseluruhan”, tukasnya mengawali presentasinya. “Kita tidak bisa menafikan gagasan tentang sekularisme, liberalisme, dan pluralisme yang berkembang saat ini.” Meski gagasan itu bukan berasal dari Arab atau Islam, tetapi bukan berarti tiada kebenaran di dalamnya. Karena kebenaran tidak selalu datang dari Arab.

Lebih tegas ia juga mengutuk adanya kelompok-kelompok tertentu yang mengklaim dirinya paling benar. “Tidak ada kelompok yang berhak mengklaim dirinya paling benar dan berhak mendominasi surga Allah, apalagi mencap kafir atau menuding kelompok lain sesat”, ucapnya lantang. Umat Islam Indonesia tidak boleh ikut larut pada keberpihakan kepada salah satu kelompok, baik dari Barat ataupun Timur. Keduanya mempunyai sisi positif dan negative. Tantangan masyarakat Indonesia ke depan justru bagaimana memodifikasikan keduanya tanpa harus kehilangan identitas keindonesiaannya. Bahkan ia yakin fenomena fundamentalisme yang sekarang meningkat akan dapat dicairkan dengan modifikasi itu, yaitu membebasan diri dari pola budaya Timur serta mengengembangkan dimensi kerohanian dan pengembangan jiwa kritis ala Barat.

Islam yang berkembang di Indonesia memang mempunyai kekhasan tersendiri. Hal itu diakui oleh aktifis JIL, Abd. Moqsith Ghazali. Menurut kandidat doktor UIN Jakarta ini Islam Indonesia pada dasarnya adalah proses dialektis antara agama dan budaya. Hal itu merupakan kelanjutan logis dari konteks historis sejak jaman Nabi sampai ketika wali songo membawa Islam masuk ke Jawa (abad 14-15 M). Apa yang dilakukan oleh wali songo dalam mendakwahkan Islam di nusantara menunjukkan bahwa Islam dapat dikontekstualisasikan dengan kondisi budaya. Bahkan lebih tegas ia menyatakan bahwa agama sesungguhnya terbentuk dari budaya. Oleh karenanya ia juga sependapat dengan Andi yang menentang faham arabisme yang merasuk dalam Islam di Indonesia. “Islam memang lahir di Arab. Tetapi tidak semua yang Arab adalah Islam”, tandasnya mengakhiri pembicaraannya.

5 thoughts on “Mencari Wajah Islam Indonesia”

  1. MENCARI WAJAH ISLAM INDONESIA MENYEBAR KESELURUH PENJURU BOLA ATLAS.

    Wajib hukumnya menunggu-nunggu hujjah nabi Muhammad saw. didalam kitab sucinya:

    1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab.

    2. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab (Al Quran adalah isi kitab suci sesuai Al Baqarah (2) ayat 2, Al Waaqi’ah (56) ayat 77-79).

    3. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnakan pewahyuan berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh umat manusia.

    4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya Allah membangkitkan semua umat manusia dengan ilmu pengetahuan agama.

    5. Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208; Datangnya Allah menyempurnakan agama disisi Allah adalah Islam menjadi Agama Allah.

    6. Al Baqarah (2) ayat 148: Tiap-tiap kiblat umat agama-agama (rasulnya, kitabnya, aqidahnya, syariatnya, tempat ibadahnya sesuai Al Hajj (22) ayat 40 dll.) akan dikumpulkan menjadi persepsi tunggal agama untuk semua agama.

    7. An Nashr (110) ayat 1,2,3: Datangnya Allah menciptakan Agama Allah sebagai wadah semua umat beragama dan kepercayaan masuk berbondong-bondong kedalamnaya dengan damai.

    8. At Taubah (9) ayat 97: Kesemuanya itu diturunkan Allah di Negara Kesatauan Republik Indonesia yang berfalsafah Panca Sila pada awal millennium ke-3 masehi dan PASTI ditolak oleh orang yang kearab-araban.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama Millennium ke-3 Masehi.

  2. UNTUK MENYEBARLUASKAN WAJAH ISLAM INDONESIA KESELURUH PENJURU BOLA ATLAS

    Telah terbit buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 buah lampiran:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis:
    “SOEGANA GANADAKOESOEMA”
    berkenaan penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun dan telah mendapat sambutan dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA DirJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  3. Untuk penjelasan hal-hal tersebut diatas, telah diterbitkan buku panduan:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 buah lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis otodidak penelitian terhadap kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA AGANDAKOESOEMA”
    penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    disambut tertulis dengan hangat oleh:
    “DEPARTEMAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 Masehi.

  4. Dalam Shahih Muslim Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya lelaki yang paling dibenci oleh Allah ialah yang paling keras permusuhannya. Permusuhan kepada aliran sesat begitu kerasnya, padahal pelarangan aliran sesat hanya bisa dilakukan oleh pemerintah dengan memperhatikan pandangan ulama sebagai ilmuean agama. Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw. bersabda: Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, Demikian juga dari riwayat Abu Musa ra.,Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya menjelang terjadinya hari kiamat ilmu akan diangkat, demikian juga dari hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, dan dari Abdullah bin Amru bin Ash ra Bahwa

    “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan” (HR. Muslim)

    Sungguh tanda-tanda kejadian ini telah nampak, sudah saatnya para ulama NU secepatnya menegakkan khilafah, bila ditunda-tunda terus maka akan semakin parah problematika umat manusia di dunia. Di NU banyak sekali ulama yang potensial untuk diangkat menjadi khalifah, jadi umat tinggal menunggu kebangkitan ulama untuk kembali menerapkan syariah yang rahmatan lil ‘alamin itum, umat menanti saat-saat para kyai berkumpul untuk memproklamirkan tegaknya kembali khilafah dan dibaiatnya salah seorang mereka.

Komentar ditutup.