Ketika Universitas Terjebak pada Orientasi Dunia Kerja

buku.jpg Peresensi: M Ali Faki AR
Judul Buku: Dasar-Dasar Intelektualitas
Penulis: Agus Suwignyo
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I, April 2007
Tebal Buku: xi+133 hlm

Tidak sedikit dari para pengamat pendidikan yang mengatakan, bahwa banyaknya realitas disposisi Universitas yang berkembang di Indonesia sebagai suatu langkah yang fatal.

Sebagai contoh adalah tentang banyaknya Institut-Institut swasta maupun negeri yang diubah menjadi Universitas demi untuk menumbuhkan peluang baru bagi pengembangan dan untuk menarik lebih banyak calon mahasiswa.

Hal ini tidak dapat terbantahkan lagi bahwa ada unsur pragmatisme, sehingga menafikan nilai substantif yang seharusnya dibangun oleh perguruan tinggi berkenaan dengan visi dan misi awal berdirinya yang tidak lain sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat.

Problem inilah yang kemudian mendasari dari berbagai problematika lainnya yang sedia muncul. Utamanya ialah perubahan paradigma yang menjadi kendala universitas dalam mengemban misinya. Perubahan paradigma ini bermuara pada ketegangan antara dimensi ekonomi dan dimensi-dimensi sosio-kultural manusia, karena orientasi yang salah, yaitu dunia kerja. Manusia sekarang memandang dirinya dan manusia lain sebagai homo economicus, sehingga dimensi-dimensi lain dari identitas manusia sebagai mahluk sosial dan kultural cenderung terlupakan. Hal ini sangat ironis sekali, sebab insan-insan universitas bukan hanya tidak lagi mampu berada dalam suatu sikap yang alternatif terhadap kekuatan perubahan, tetapi telah ‘terikonomikan’ oleh arus perubahan.

Menurut Agus, perubahan paradigma ini tidak lain karena telah terkonstuk oleh arus globalisasi yang bermadzhab kapital, sehingga semangat universitas yang semula reflektif, eksploratif, dan humanis, berubah pada semangat utilitarian dengan membatasi pada studi yang spesialistik dan aplikatif yang sedia membuka harapan pada dunia kerja.
Dasar intelektualitas yang demikian, menurut Agus, telah terpraktekkan di Indonesia sejak dulu, setidaknya saat dunia kerja merupakan hal yang teramat penting untuk bekal masa depan. Dasar-dasar intelektualitas semacam ini sepenuhnya bobrok. Ada sesuatu yang terlupakan dan bahkan hilang dari relasi universitas dan dunia kerja.

Dasar-dasar intelektualitas yang hilang itu meliputi kemampuan menalar dan sikap kritis, kemampuan mengapresiasi dan berkomunikasi, kepekaan atas konteks suatu pengalaman hidup, dan integralitas cara pandang atas suatu persoalan. Mungkin, menurut Agus, program pendidikan liberal art dapat dijadikan suatu elemen konsep yang perlu dibaca ulang sebagai sebuah tawaran menarik.

Liberal art adalah program yang dikembangkan di Eropa sebagai ewejantah dari pendidikan yang mengasah kemampuan otentik dalam kesadaran dan kematangan individu. Istilah liberal art pertama kali diperkenalkan oleh Cicero dan dikembangkan oleh Gellius yang dimaksudkan untuk menyiapkan manusia bebas yang mampu menjadi individu mandiri sekaligus warga masyarakat. Agus Suwignyo menengarai program ini pada dua muatan, yaitu dalam perspektif kurikulum pendidikan sebagai kurikulum objek kajian, dan disposisi sikap sebagai kurikulum tersembunyi. Kurikulum objek kajian berkaitan dengan ilmu yang dipelajari, mencakup sains formal, sains alam empiris, dan sains sosial empiris. Sementara kurikulum tersembunyi berhubungan dengan etos keilmuan dalam suatu disposisi sikap yang melekat pada kepemilikan ilmu disposisi sikap merujuk pada kemampuan mencetuskan gagasan otentik yang mendasari sikap dan perilaku kelimuan. (hal. 85-96).

Pendidikan liberal art menekankan pada pengembangan kemampuan berfikir dan menalar, yakni pengolahan kompetensi untuk menemukan dasar rasional bagi suatu gagasan dan sikap, disamping juga mengolah kopetensi-kempetensi yang umum dan mendasar. Umum artinya tidak spesifik atau khusus; mendasar artinya esensial dan tidak pragmatis. Pendidikan liberal art juga mencakup keseluruhan dimensi kemanusiaan secara utuh, yakni manusia sebagai mahluk yang menalar, berinteraksi dan berkembang, dan menciptakan individu yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab. Intinya, secara kontekstual dalam perspektif Agus Suwignyo, liberal art menekankan pada kompetensi membaca, mengkaji dengan kritis dan mengimplimentasikannya. (hal. 101-107).

Hal inilah yang dimaksudkan Agus Suwignyo – penulis buku ini – sebagai sesuatu yang terlupakan dari relasi universitas dengan dunia kerja di negeri ini. Universitas di negeri ini telah terjebak pada disorientasi yang akut, mengorientasikan kepada dunia kerja, sedang untuk dimensi lain – setidaknya yang menjadi visi dan misi pendidikan secara umum – termarjinalkan dalam konstruk paradigma yang sesungguhnya salah. Untuk itu pendidikan liberal art – suatu kompetensi yang lama berkembang di Eropa – dinilai perlu mendapat sambutan hangat sebagai dasar untuk mengokohkan relasi universitas dengan dunia kerja secara berkesinambungan. Pendidikan liberal art, sebagai tesis dari buku ini, mengajak pada suatu pemahaman positif yang serta-merta meninggalkan paradigma dan orientasi yang salah yang sejak dulu menghantui kita sebagai insan akademis.

(Peresensi adalah Kerani Rumah Baca Hasyim Asy’arie . Alumnus PP. Annuqayah Sumenep Madura. No. HP: 085931336626).

Sumber: http://www.nu.or.id