Tren Pluralisme Agama; Sebuah Tinjauan Kritis

Pluralisme agama pada awalnya ternyata digaungkan oleh para misionaris kristen dengan tujuan untuk melemahkan agama-agama lain, khususnya Islam. Tapi ternyata justru tren itu juga mengerogoti agama kristen itu sendiri.

Dr. Anis Malik Thoha, satu-satunya pakar pluralisme agama di indonesia telah meluncurkan karya luar biasanya, yakni Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis. Buku ini pernah mendapatkan perhargaan ilmiah bergengsi setelah bukunya berjudul “ Al ta’adudiyah al Diniyah: Ru’yah Islamiyah “ (Kuala Lumpur : IIUM, 2005), yang kemudian diterjemahkan ke dalam edisi Bahasa Indonesia yang menjadi buku ini.

Dalam bukunya, Anis mengutip definisi populer dari Pluralisme Agama yang dirumuskan John Hick. “..pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama – agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap Yang Real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi dan bahwa tranformasi wujud manusia dari pemusatan diri menuju pemusatan hakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut terjadi, sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama.”

Dengan kata lain, Hick ingin menegaskan bahwa sejatinya semua agama adalah merupakan manifestasi-masifestasi dari realitas yang satu. Dengan demikian semua agama sama dan tak ada yang lebih baik dari yang lain. Sangat jelas, rumusan Hick tentang pluralisme agama diatas adalah berangkat dari pendekatan substantif, yang mengungkung agama dalam ruang (privat) yang sangat sempit, dan memandang agama lebih sebagai konsep hubungan manusia dengan kekuatan sakral yang transendental dan bersifat metafisik ketimbang sebagai suatu sistem sosial.

Dengan demikian telah terjadi proses pengebirian dan “reduksi” pengertian agama yang sangat dahsyat. Sesungguhnya, pemahaman agama yang reduksinstik inilah yang merupakan “pangkal permasalahan” sosio-teologis modern yang sangat akut dan komplek yang tak mungkin diselesaikan dan ditemukan solusinya kecuali dengan mengembalikan “agama” itu sendiri ke habitat aslinya. Ke titik orbitnya yang sebenarnya, dan kepada pengertiannya yang benar dan komprehensif, tak reduksionisti.

Menurut Anis, yang juga Ketua Syuriah NU Cabang Malaysia, ternyata “pemahaman reduksionistik” inilah justru yang semakin populer dan bahkan diterima di kalangan para ahli dari disiplin ilmu dan pemikiran yang berbeda, hingga menjadi sebuah fenomena baru dalam pemikiran manusia yang secara diametral berbeda dengan apa yang sudah dikenali secara umum.

Yang unik dalam fenomena baru ini adalah bahwa pemikiran “persamaan” agama (religious equality) ini, tidak saja dalam memandang ekssistensi riil agama-agama (equality on exixtence), namun juga dalam memandang aspek esensi dan ajrannya, sehingga dengan demikian diharapkan akantercipta suatu kehidupan bersama anatar agama yang harmonis, penuh toleransi, saling menghargai atau apa yang diimpikan oleh para “pluralis” sebagai “pluralisme agama”. Alih alih menciptakan kerukuan dan toleransi, paham pluralisme agama itu sendiri sebenarnya sangat tidak toleran, otoriter, dan kejam, karena menafikan kebenaran semua agama, meskipun dengan jargon menerima kebenaran semua agama.Dengan dalih Piagam Hak Asasi PBB, maka semua agama harus tunduk dan patuh. Bahkan penganutnya mengangap Piagam PBB lebih pluralisme agama.

Iklan

5 thoughts on “Tren Pluralisme Agama; Sebuah Tinjauan Kritis”

  1. Berbincang pluralisme agama memang sangat menarik tapi bukan hal yang baru untuk dibincangkan. memang pada kenyataannya dengan analisa politis semua tidak terlepas dari kepentingan orang yang melendingkan isu pluralisme, akan tetapi sahabat pada esensinya pluralisme bukanlah menegasikan aspek terdalam dimensi agama (teologis atau spiritual-baca). pluralisme hanya sekedar counter terhadap kesewenang-wenangan kelompok mayoritas terhadap minoritas. saya sepakat dengan Pak Anis tapi marilah kita mencoba bersama-sama menganalisa historisitas islam dengan mengesampingkan egoisme kita.
    dalam hal ini PMII seharusnya lebih fleksibel dan elegan menyikapi apa yang berkembang.

    trims

    Hisan PMII Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya

  2. adapun mengenahi tren pluralisme agma memang sangat dominan dan memecu para ilmuan yang untuk lebih mengkaji secara mendalam. terjadi pro dn kontra di klngn akademisi muslim dan non muslim, soalnya hal ini sangat problematis dan rancu jika di incom kedalm pemikiran islam. saya sungguh memberikn afresiatif yaang setinggi-tingginya atas tulisannya…………….

  3. saya setuju bila isu pluralisme di kedepankan, tapi bukan untuk kepentingan satu pihak saja. Semuanya diuntungkan dalam hal ini.
    pluralisme adalah sebuah pemikiran dimana semua penganut agama menganggap bahwa penganut agama yang berbeda dengan agamanya adalah juga saudaranya, bagaimana mungkin negara ini bisa damai dan sejahtera bila semua tokoh2 agama mengangggap bahwa pluralisme ini tidak penting dan bahkan menyudutkan ahama yang satu. Dan yang perlu ditidaklanjuti, bahwa pluralisme bukan persoalan antara islam dan non islam, jangan membawa agama menjadi alat untuk memperalat umat yang membuat menjadi sesat.

    terima kasih
    dukung terus pluralisme agama

  4. Sebaiknya, mari kita mulai membaca dan mendengar..
    Bukan hanya cuap-cuap kayak burung!
    nggak ada artinya!

    apa sih arti toleransi?
    toleransi nggak cukup!

    we need to know eachothers!
    tolerance is just ignorance!

    berbaik-baik kata hanya topeng!
    kalau mau mengkritik orang, katakan langsung pada orangnya!

Komentar ditutup.