Kandidat Ketua Umum BEM FSH UIN Jakarta Telah Terpilih

Jakarta (22/06) – Musyawarah Wilayah (Muswil) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Mahasiswa (PPM) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Jakarta kembali digelar. Muswil yang kali ini mengagendakan Konvensi Calon Ketua Umum BEM FSH dari PPM untuk periode 2007-2008 berjalan dengan sangat ketat. Hasil Konvensi kali ini akan diusung menjadi calon Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FSH UIN Jakarta pada Pemilihan Umum Raya (Pemira) Kampus, September 2007.

Kamis (21/06/2007) di Aula Pertemuan Asrama Puteri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat penuh sesak dengan hadirnya seluruh fungsionaris, kader, dan simpatisan PPM FSH. Sore pukul 13.00 WIB Muswil dibuka oleh Ketua Umum DPW PPM FSH, Sahabat Jazuli, dengan penuh semangat.

Seusai acara pembukaan, Muswil dilanjutkan dengan agenda Sidang Pleno I, membahas Tata Tertib Konvensi. Dilanjutkan dengan Sidang Pleno II dengan agenda Pemilihan Calon Ketua Umum BEM FSH UIN Jakarta yang akan dijagokan PPM pada Pemira nanti.

Meskipun pelaksanaan Pemira masih cukup lama, namun sikap ini harus ditempuh oleh DPW PPM FSH demi soliditas kader dalam konstalasi politik kampus, tutur Sahabat Dede, Ketua Dewan Pimpinan Distrik (DPD) PPM Perbankan Syariah. “Saya adalah orang yang paling ngotot untuk segera melaksanakan Konvensi ini, mengingat cukup banyak persiapan yang harus kita lakukan”, tutur mahasiswa semester 2/a tersebut.

Musyawarah yang langsung dipimpin oleh Pimpinan DPW tersebut, telah menyaring dan mengesahkan 5 bakal calon Ketua Umum BEM FSH, diantaranya, Sahabat Asep Saiful Bahri (PS), Hiton Bazawie (PA), Andreansyah (PH), Khairus Sofyan (SS), dan Sahabat Muhammad Lusan (AS). Mekanisme pemilihan bakal calon, menggunakan sistem satu kali putaran. Setiap peserta Muswil memilih satu nama bakal calon. Dengan ketentuan perolehan suara terbesar berhak menjadi kandidat calon Ketua Umum BEM FSH periode 2007-2008 dari PPM.

Perolehan suara pada tahap pemilihan cukup bersaing, dengan perolehan suara yang hampir berimbang. Namun tetap diakhiri dengan satu nama pemenang. Muswil yang dihadiri oleh 286 pemilih tersebut memenangkan Sahabat Asep Saiful Bahri sebagai calon Ketua Umum BEM FSH, dengan memperoleh 92 suara. Disusul oleh Sahabat Hiton Bazawie dengan mengantongi 86 suara. Selanjutnya Sahabat Andreansyah dengan 85 suara menjadi urutan ketiga. Dan 23 suara dinyatakan abstain. Sementara 2 bakal calon yang lain, Sahabat M. Lusan dan Khairus Sofyan tidak mendapatkan suara sama sekali.

Menurut Majelis Pembina Partai (MPP) PPM FSH, Sahabat Muhammad Dani, yang juga mantan Sekretaris Umum DPW PPM FSH menyatakan, kemungkinan telah terjadi komunikasi politik diantara DPD-DPD dan tim sukses masing-masing bakal calon. Dan komunikasi tersebut saya pikir cukup rapih, sehingga pengalihan suara dapat dilakukan kapanpun dan bagaimanapun kondisi Muswil, buktinya dua kandidat tersebut tidak mendapat suara sama sekali, dan tiga calon lainnya mendapatkan suara melebihi dari target awal, tuturnya.

Sebagai ungkapan bahagia bercampur haru, para peserta Muswil mengumandangkan Shalawat Badar untuk menyambut kemenangan bersama tersebut. Mudah-mudahan ini adalah langkah awal menuju soliditas PPM FSH untuk memperjuangkan hak dan memenangkan kompetisi dari partai lain dalam Pemira nanti, tegas Sahabat Andreansyah, kandidat yang berada pada urutan perolehan suara ketiga tersebut. [aang]

Iklan

6 thoughts on “Kandidat Ketua Umum BEM FSH UIN Jakarta Telah Terpilih”

  1. Menurut saya siapapun calon dari PPM, tidak akan mengalami perubahan. Kita lihat saja, dari sebelumnya. Capres2 dari PPM baik BEMJ & BEMU memble alias loyo, apalagi dgn BEMU bnyak LPJ yg fiktif. Ayo buktikan jgn janji2 saja. Kayanya Hijau akan Kembali Memimpin UIN Jkt menjadi Kampus yg Hijau & penuh Warna, Atau gak malah justru Putih yg lugu dan polos, sebagai penengah, tetapi justru diam2 menghanyutkan. Wass. Sory ya coy . From Mahasiswa POROS Tengah

  2. Tx. saudara Izuddin (yang mengklaim diri sebagai poros tengah)
    Sejak berdiri SG di kampus tercinta, yang selalu kita bangga-banggakan, menurut hemat saya belum sedikitpun mencapai kesempurnaan, masih banyak kekurangan dan ketimpangan di sana-sini. Arogansi intelektual yang tak terkendali boleh dikatakan sebagai dalang buruknya student goverment di kampus kita (walaupun tidak sepenuhnya benar). Berbagai aliansi partai politik selalu beranggapan bahwa mereka yang paling mampu untuk mengurus kebutuhan mahasiswa dan selalu meremehkan dan bahkan tidak jarang mencemooh bagi lawan politiknya yang lain, yang semua itu menurut hemat saya didalangi oleh arogansi intelektualitas yang dibidani oleh nafsu syaithoniyah. Melihat kondisi objektif kampus, dengan kondisi pelayanan akademik yang masih lemah, mahasiswa yang lebih senang mengaji ditempat tongkrongan ketimbang menggelar diskusi, ditambah lagi dengan selalu gontok-gontokan antar mahasiswa yang “berbeda ideologi pemahaman”, saya yakin siapapun yang melihat kondisi kampus dengan mata hati dan dengan penuh kesadaran pasti akan sedih dan kecewa, tidak perlu jauh-jauh menatap orang diseberang kita sebagai dalang semua ini, coba kita lihat lingkungan kita, sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri, siapakah yang bersalah ???? “orang lain kah??”/lingkungan kita kah??/atau mungkin diri kita sendiri.
    Melihat kondisi obyektif student goverment di kampus kita ini, siapapun yang merasa tidak bersalah adalah orang bodoh yang akalnya sudah diselimuti oleh syaithon, tapi mengapa ketika terdapat kesalahan pengelolaan student goverment selalu saja Badan Eksekutif yang menjadi kambing hitam, bukankah ada lembaga lain seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa yang memiliki fungsi kontrol terhadap BEM, bukankah ada Kongres Mahasiswa yang memiliki posisi tertinggi dalam student goverment ????? Kenapa bukan mereka yang disalahkan??????. Coba kita menoleh kebelakang, ketika saudara Adi Hasan menjabat sebagai Presiden Mahasiswa, ketika BEMU menjadi kerdil karena salah pimpinan, ketika BEMU tidak menyelenggarakan kegiatan apapun selama masa kepengurusannya (satu periode/15 bulan), ketika BEMU dibawah pimpinan Adi Hasan tidak menjalankan amanat demokrasi yang dibebankan dipundaknya minimal untuk menjalankan amanat pelaksanaan pemilu tepat waktu, ketika kehidupan kampus mati suri ditinggal ruh jiwa pemimpinnya. Dimana DPMU, dimana KMU ketika semua itu sedang terjadi, apakah kita melihat satu agendapun dari DPMU dan KMU pada saat itu untuk mencegah, ketika seribu kesalahan dilakukan oleh saudara Adi Hasan????? DIMANA MEREKA??????????????? DAN DIMANA KITA SEMUA????????????????.
    Tetapi apa yang terjadi, berbagai hujatan, berbagai cemoohan bahkan hinaan tumpah membludak kepada saudara Adi Hasan saja sebagai Presiden BEMU dan kepada partai politik yang mengusungnya karena dianggap tidak becus. Kenapa tidak ada yang menghujat DPMU, KMU dan lembaga lainnya yang padahal merekapun turut berkontribusi terhadap carut-marutnya kondisi student goverment ini.
    Siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini, apakah PARMA, karena memilih kader yg kurang baik untuk Presiden BEMU, atau PPM yang menempatkan salah orang untuk pimpinan DPMU atau mungkin PIM yang menutup mata ketika menunjuk kadernya untuk diposisikan di pimpinan KMU?????.
    Alih-alih bukannya mengalami kemajuan, malah sejarah berulang kembali. Ketika beribu permasalahan muncul dalam tubuh student goverment akibat warisan pengurus sebelumnya, BEMU pimpinan Sukron Jamal pun menjadi sasaran empuk kambing hitam. Yang lebih menyedihkan lagi DPMU dan KMU turut menggunjingi BEMU yang dianggap paling dan satu-satunya yang bersalah terutama dalam keterlambatan pelaksanaan Pemira kampus yang padahal kalau kita boleh jujur, siapa yang paling bersalah Sukron Jamal kah atau Adi Hasan kah?????. Yang jelas kita semua yang bersalah.
    DPMU dan KMU bertindak sebagai panglima penegak demokrasi “kesiangan” yang selalu berkumandang atas nama demokrasi untuk melakukan Pemira kampus bulan Juni demi dan atas nama demokrasi “demokrasi yang mana”. Wajar bila BEMU di bawah kepemimpinan Sukron Jamal belum siap untuk melakukan Pemira bulan Juni, karena memang banyak agenda yang belum terlaksana karena keterbatasan waktu, coba kita lihat dari awal kepengurusan saudara Sukron Jamal berapa kegiatan yang sudah terlaksana dengan baik dan berapa yang masih dalam pelaksanaan dan masih diagendakan, semua itu butuh waktu untuk dengan sempurna dilaksanakan. (kenapa ketika saudara Adi Hasan memimpin BEMU selama 15 bulan dengan tidak ada agenda kegiatan tidak ada yang berkoar-koar atas nama demokrasi untuk melaksanakan Pemira tepat waktu dan berusaha secepatnya menurunkan saudara Adi Hasan dari singgasana BEMU, kenapa sekarang ketika saudara Sukron Jamal memimpin BEMU yang hanya baru 8 bulan memimpin diisi dengan berbagai kegiatan selalu digoyang untuk diturunkan), padahal yang tidak siap untuk menjalankan Pemira kampus bulan Juni bukan saja BEMU, tetapi seluruh jajaran Badan Eksekutif baik Fakultas ataupun Jurusan menyatakan tidak siap untuk menjalankan Pemira bulan Juni, karena berbagai agenda belum terlaksana dan padahal BEMU, BEMF dan BEMJ adalah representasi dan boleh dikatakan perwakilan dari PARMA, PIM dan PPM, tetapi kenapa hanya saudara Sukron Jamal dari PPM yang menjadi sasaran tembak?. BUTAKAH MEREKA, BUTAKAH ANDA, BUTAKAH KITA, BUTAKAH SAYA??????????????????????????????????????????.
    MARI BERKACA DAN BERSATU MENUJU PERUBAHAN TANPA “WARNA”
    Asep Saiful Bahri
    Menteri Jaringan Komunikasi
    Badan Eksekutif Mahasiswa
    Jurusan Muamalat-Perbankan Syariah

  3. Aslmk,
    Salam Sejahtera
    Hidup Mahasiswa
    yang gak hidup berarti mati
    Student Goverment yang menyedihkan, seharusnya jika ingin jadi mahasiswa yang reformis dan menjadi elit of change taati donk aturan, jangan mentang-mentang proker belum selesai kok PEMIRA di Undur begitu aja, jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk mengundur PEMIRA, cari alasan yang lain, jujur aja karena masih ada pemilihan Gubernur Jakarta, kitakan dapat tempelannya, dari FOKE gitu….??????????
    Jangan sok bicara nafsu syaitoniyah, kalau Anda sendiri seperti itu, toh nyatanya PEMIRA di undur. jangan bicara intelektual kalau “anda-anda” tidak intelektual dalam berpolitik, jangan pernah bicara tentang moral jika “anda-anda” tidak bermoral, intinya jangan bicara soal politik jika “anda-anda” tidak paham politik sebenarnya, mau diajarin cara berpolitik yang baik, berpolitiklah untuk perubahan mahasiswa dari yang amoral menjadi bermoral, dari yang tidak sholat menjadi sholat, dari yang tidak suka baca Al-qur’an jadi cinta dengan Al-qur’an, dari yang lupa dengan ALLAH SWT menjadi ingat ALLAH SWT, intinya kembali kepada ALLAH SWT, insya Allah “anda-anda” menjadi politikus yang bersih, disenangi, dan disegani………

  4. Jangan sok bicara nafsu syaitoniyah, kalau Anda sendiri seperti itu, toh nyatanya PEMIRA di undur. jangan bicara intelektual kalau “anda-anda” tidak intelektual dalam berpolitik, jangan pernah bicara tentang moral jika “anda-anda” tidak bermoral, intinya jangan bicara soal politik jika “anda-anda” tidak paham politik sebenarnya, mau diajarin cara berpolitik yang baik, berpolitiklah untuk perubahan mahasiswa dari yang amoral menjadi bermoral, dari yang tidak sholat menjadi sholat, dari yang tidak suka baca Al-qur’an jadi cinta dengan Al-qur’an, dari yang lupa dengan ALLAH SWT menjadi ingat ALLAH SWT, intinya kembali kepada ALLAH SWT, insya Allah “anda-anda” menjadi politikus yang bersih, disenangi, dan disegani…

  5. Siapa saja yang memegang TONGGAK kekuasaan……..

    yang penting JUJUR N ga Neko2…..

    Pa kbr Daulay…..Ni w Dee (sory VGA) blm dianterin

Komentar ditutup.