Zamroni, Pejuang yang Konsisten

Di awal kebangkitan orde baru, siapa yang tidak mengenal nama, Mohammad Zamroni. Nama mencuat sejak tahun 1965 hingga 15-20 tahun kemudian dalam kancah perpolitikan Indonesia. Namun, kemudian tiba-tiba tenggelam ditelan zaman karena memegang teguh idealisme, ia enggan larut dalam tuntutan pragmatisme politik. Dimana teman seangkatannya pada saat itu banyak menduduki posisi penting dalam kekuasaan, karena menjadi pendukung Golkar, sementara ia tetap di Partai NU dan kemudian bergabung bersama PPP, yang saat itu menjadi partai oposisi paling potensial dalam melakukan kontrol terhadap kekuasaan.

Dengan sikapnya yang konsisten itulah perjuanggannya tidak dihargai oleh rezim orde baru, berbeda dengan temannya yang menjadi penopang rezim tersebut. Mereka bisa menikmati kekuasaan, namun dengan menggadaikan idealisme mereka, dan bersedia menjadi aparat untuk merepresi rakyat, pembelenggu kebebasan.

Lanjutkan membaca Zamroni, Pejuang yang Konsisten

Iklan

Infotainment di Televisi Bukan Karya Jurnalistik

Tayangan infotainment yang semakin marak di sejumlah stasiun televisi bukan karya jurnalistik, karena topik yang dipilih dan tujuan tayangan itu tidak mencerminkan karya jurnalistik.

“Karya jurnalistik harus memenuhi beberapa persyaratan, sementara tayangan infotainment di televisi tidak memenuhi persyaratan jurnalistik,” kata pakar komunikasi dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Masduki, Ahad (24/6).

Ia menyebutkan syarat pertama sebuah karya jurnalistik adalah harus menampilkan fakta yang benar-benar terjadi, bukan sekedar informasi yang dibuat-buat. “Sedangkan infotainment idenya dibuat sendiri kemudian digosipkan, dan gosip itu nantinya ditanyakan kepada narasumber yang biasanya kalangan selebritis,” katanya.

Lanjutkan membaca Infotainment di Televisi Bukan Karya Jurnalistik

Membangun Budaya Kepemimpinan a la Indonesia

Ketika masyarakat Indonesia bersilang pendapat mengenai keabsahan proses pengalihan jabatan presiden dari Jenderal Besar TNI Purn. Soeharto pada Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie pada hari Kamis, tanggal 21 Mei 1998 di Istana Negara, Jakarta, wacana publik (public discourse) kembali pada pertanyaan klasik, apakah Indonesia tidak memiliki budaya kepemimpinan sehingga belum bisa menyelenggarakan transisi kepemimpinan yang mulus?

Sebagai bangsa yang mewarisi sejarah berbagai kerajaan besar di masa lalu, Indonesia memiliki khazanah kepemimpinan yang beragam, sesuai dengan kebhinekaan suku bangsa yang ada. Baik suku, bangsa, agama, ras, kepercayaan, wilayah, budaya, bahasa,  dll. Sayangnya, selama ini berbagai ragam khazanah budaya kepemimpinan ini bagai tenggelam dalam budaya kepemimpinan yang mitologis, yang tumbuh subur selama masa pemerintahan Orde Baru.

Lanjutkan membaca Membangun Budaya Kepemimpinan a la Indonesia