Adu Kuat Gus Dur dan Kiai NU

Oleh: Rumadi

Konflik Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan kiai-kiai NU masih terus berlangsung. Konflik itu sendiri dipicu oleh rencana Gus Dur untuk mereposisi Saifullah Yusuf dari jabatan Sekjen PKB. Konflik itu terus berkembang dan mengkristal menjadi konflik Gus Dur dengan kiai NU. Penulis sendiri sebenarnya merasa agak berat menarik konflik PKB sebagai konflik Gus Dur dan kiai NU. Namun, pelan-pelan kita amati bahwa konflik tersebut telah merembet pada jantung kekuatan NU karena melibatkan kekuatan dan tokoh-tokoh yang menjadi “pemilik” NU.

Tidak seperti lazimnya, kehendak Gus Dur yang biasanya diamini (atau minimal dibiarkan) kiai-kiai NU, kini justru ditentang habis-habisan. Tidak tanggung-tanggung, kiai-kiai yang berseberangan dengan Gus Dur adalah tokoh-tokoh yang selama ini menjadi kekuatan inti Gus Dur.

KH Idris Marzuki (Lirboyo), KH Abdullah Faqih (Langitan), KH Noer Iskandar SQ (Jakarta), KH Abdurahman Chudlori (Ponpes Tegalrejo, Magelang), KH MAS Subadar (Pasuruan), KH Muhaiminan Gunardho (Parakan) dan sebagainya. Tokoh-tokoh inilah, yang sering disebut “kiai hos”, yang menjadi poros kekuatan utama Gus Dur.

Pertemuan kiai-kiai NU untuk mencari jalan keluar dari konflik tersebut digelar di Lirboyo Kediri, dilanjutkan di Maslakul Huda Pati yang diasuh KH. Sahal Mahfudh. Inti dari pertemuan tersebut menyerukan hal yang sama agar konflik ini diakhiri dengan win-win solution, kompromi, mengingat waktu pemilu tinggal beberapa bulan lagi. PB NU sebagai “ibu kandung” PKB agaknya tidak bisa membiarkan konflik berlarut-larut, sehingga Kiai Sahal Mahfudh sebagai Rais ‘Am PB NU serta KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) merasa perlu mengadakan rapat gabungan dalam waktu dekat untuk mencari jalan keluar terbaik.

Akankah semua bisa diselesaikan melalui pertemuan tersebut? Saya agak pesimis. Salah-salah perseteruan Gus Dur dengan PB NU semakin menjadi-jadi dan melebar ke mana-mana. Kemungkinan terjelek ini harus diantisipasi betul oleh petinggi NU. Bukan rahasia lagi kalau hubungan Kiai Sahal Mahfudh dan Hasyim Muzadi terhadap Gus Dur tidak sepenuhnya harmonis. Melihat beberapa komentar Gus Dur di berbagai media, agaknya sulit mencari kompromi. Saifullah Yusuf benar-benar sudah “dicap hitam” oleh Gus Dur.

Dari sini agaknya Gus Dur tidak akan mau berkompromi seperti dikehendaki para kiai, karena dia mempunyai keyakinan luar biasa akan selalu menjadi “pemenang” dalam setiap konflik di lingkungan NU. Sejarah telah membuktikan hal itu selama tiga periode Gus Dur memimpin NU. Bila hal ini benar-benar terjadi, maka dapat dipastikan bahwa PKB akan semakin redup karena ditinggalkan kiai-kiai pendukungnya, meskipun Gus Dur sendiri yakin kalau apa yang dia lakukan justru akan menaikkan pamor PKB. Gus Dur lupa kalau perolehan suara PKB sangat ditentukan oleh sikap politik kiai di kantong-kantong NU, bukan oleh tokoh-tokoh di Jakarta.

Dalam situs resminya (www.gusdur.net), Gus Dur menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan dengan memecat Saifullah Yusuf adalah untuk menegakkan konstitusi partai. Saifullah Yusuf dianggap melakukan banyak pelanggaran terhadap partai. Namun, hingga kini publik belum pernah tahu secara clear apa sebenarnya yang menjadi kesalahan fatal Saifullah Yusuf. Gus Dur berulang kali menyatakan kalau dia tidak akan mau menjelaskan ke publik. Namun demikian ada beberapa spekulasi yang berkembang bahwa sikap keras Gus Dur ini tidak lepas dari sepak terjang politik Saifullah Yusuf yang disinyalir suka main uang. Dalam sebuah wawancara, ketika ditanya mengapa Saifullah Yusuf bisa menjadi Sekjen PKB dalam MLB Yogyakarta, Gus Dur menjawab: “Karena uang. Saya tahu persis itu. Soalnya semua pada mengaku kok. Sekarang ini sudah untung saya terima Anda (wartawan). Sebenarnya saya tidak mau lagi terima wartawan.

Tahu! Karena saya sudah diberi tahu, hati-hati semua wartawan sudah dibayar Saiful (sambil megepalkan tangan dan memukulkan ke meja). Seperti itu pekerjaan dia” (lihat wawancara di Koran Tempo, 13/9/03 yang juga dimuat http://www.gusdur.net). Tuduhan demikian memang sulit dicari bukti materiilnya meskipun aromanya bisa dirasakan dengan jelas.

Ketidaksenangan Gus Dur tersebut terus berlanjut ketika Saifullah Yusuf didukung kiai-kiai NU untuk menjadi calon Gubernur Jatim. Gus Dur sendiri tidak merestui Saifullah Yusuf dan merekomendasikan Abdul Kahfi yang tidak populer di kalangan kiai. Abdul Kahfi sendiri akhirnya kalah karena tidak sepenuhnya didukung kiai NU.

Konflik terus berlanjut dalam menyikapi konflik PKB dengan Matori Abdul Jalil. PKB pro Gus Dur menyiapkan “sekoci” jika kalah di tingkat MA. Namun Saifullah Yusuf justru bersuara lain yang tidak sejalan dengan induk partainya. Saifullah justru menghendaki islah dengan Matori. Saifullah juga diduga ikut bermain dalam Mukernas ulama NU yang diadakan beberapa saat sebelum Mukernas PKB (27-29 mei 2003) dan merekomendasikan KH. Hasyim Muzadi sebagai salah satu calon presiden dari NU. Mukernas PKB sendiri tidak menghiraukan rekomendasi ulama NU tersebut dengan menjadikan Gus Dur sebagai catu-satunya calon presiden PKB. Namun setelah itu, Saifullah Yusuf beberapa kali membuat pernyataan “liar” yang tetap mendorong Hasyim Muzadi sebagai capres alternatif dari NU, sebuah pernyataan yang berseberangan dengan garis kebijakan PKB.

Di luar itu, Saifullah Yusuf juga dipandang tidak bisa bekerjasama dengan tokoh-tokoh PKB yang lain seperti Alwi Shihab dan AS Hikam. Bahkan perseteruan dengan menggunakan identitas ke-NU-an juga semakin menguat. Beberapak kali Kiai Masduqi Mahfudz (Ketua Syuriah PW NU Jatim) mengemukakan bahwa Saifullah Yusuf adalah kades asli NU, sedang yang lain seperti Alwi Shihab, AS Hikam, dan Mahfudh MD, adalah anak nemu di jalan. Hal ini berarti proses akulturasi kader-kader dalam PKB memang masih menyisakan problem serius.

Spekulasi-spekulasi tersebut mungkin tidak seluruhnya benar, dan (mungkin) juga tidak seluruhnya salah. Oleh karena itu, kiai-kiai NU sebaiknya tidak mudah terjebak permainan politik pihak-pihak yang bertikai. PB NU sebagai mediator untuk menyelesaikan konflik tidak boleh terlalu memihak pada salah satu. Tradisi tabayyun untuk menjernihkan persoalan yang berkembang di lingkungan NU harus menjadi instrumen penting dalam menyelesaikan konflik ini. Kiai-kiai NU harus menyadari betul bahwa konflik ini akan membawa dampak yang luar biasa kepada warga NU. Kebesaran NU dan PKB tidak boleh disandera oleh konflik elit-elitnya.

Penulis menduga, kiai-kiai NU tidak akan bisa membendung kehendak Gus Dur, dan dia tidak akan bergeming dari keputusannya mereposisi Saifullah Yusuf. Jika hal ini benar-benar terjadi, tugas berat PKB adalah mengkonsolidasi kembali kekuatannya yang tercerai berai. Kiai-kiai NU yang terlanjur sakit hati kepada PKB dan Gus Dur tentu merupakan problem serius yang akan dihadapi PKB ke depan. Mampukan PKB melakukan itu? Kita tunggu saja.

Sumber: http://www.pmii-ciputat.org

Iklan