Sapulidi Minta MUI Jadi Mediator Dialog

Samarinda (10/07) – Pimpinan Redaksi Buletin Sapulidi meminta kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda, Kalimantan Timur, untuk menjadi mediator dialog antara redaksi Sapulidi dengan pihak-pihak yang merasa terganggu dengan penerbitan Bulletin Sapulidi edisi III, Mewaspadai Gerakan Kelompok Islam Ekstrem.

Hal itu disampaikan Pimpinan Redaksi Buletin Sapulidi Taufik Bil Haqi, saat dikonfirmasi, Selasa (10/07), terkait adanya pengaduan masyarakat kepada MUI Samarinda, karena merasa resah dengan penerbitan Bulletin Sapulidi edisi III, yang diduga memuat karikatur Nabi Muhammad saw. “Kami dari Sapulidi dan PMII minta kapada MUI untuk menjadi mediator pertemuan antara radaksi Sapulidi dengan orang-orang yang mengatasnamakan masyarakat, instansi dan kelompok tertentu, untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan terkait penerbitan Buletin Sapulidi. Supaya tidak ada sembarang klaim,” katanya Bil Haqi.

Pertemuan dialog itu, papar Bil Haqi, rencananya akan diisi dengan klarifikasi dan penjelasan terkait pemuatan dua gambar yang diduga merupakan karikatur Nabi Muhammad saw pada Bulletin Sapulidi, edisi III yang terbit pada tanggal 2 Juni 2007 lalu. Dalam pertemuan antara MUI, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan redaksi Sapulidi, yang berlangsung pada Senin (09/07) kemarin, menurut keterangan Bil Haqi, MUI Samarinda telah menyetujui pihaknya sebagai mediator dialog.

Namun, ketika Syirah menanyakan kapan pertemuan dialog itu akan digelar, Bil Haqi menjawab, “Kapan itu belum. MUI masih banyak agenda. MUI juga masih menunggu bagaimana tanggapan masyarakat. Kalau permintaan maaf redaksi Sapulidi dirasa masih kurang, MUI akan mempercepat pertemuan dialog.”

Selain meminta MUI Samarinda menjadi mediator, redaksi Sapulidi juga melakukan hal yang sama kepada Ketua STAIN Samarinda dan lembaga kemahasiswa yang ada di lingkup STAIN. “Pada intinya, kami juga ingin berkumpul pada intern di STAIN, difasilitasi STAIN Samarinda. Karena ini juga permasalahan masyarakat kampus. Walaupun secara struktural antara PMII dengan STAIN tidak ada hubungan. Tapi media yang melahirkan persoalan menyebut Buletin STAIN Samarinda, sehingga kepada lembaga mahasiswa untuk memberikan peluang kepada kami untuk mengklarifikasi,” ujarnya.

Bil Haqi menambahkan redaksi Sapulidi telah mempunyai satu persepsi, kompak dan merasa tidak terbebani untuk menghadapi permasalahan ini. “Redaksi Sapulidi, sudah kompak dan merasa tidak terbenani, satu persepsi,” pungkasnya.