Terenggutnya Paradigma Transformatif di Arena KONFERCAB

Oleh: Muhammad Budi Setiawan

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi kemahasiswaan yang berbasis kader. PMII mempunyai amanat untuk tetap menempuh jalur transformasi dalam segala ide dan gagasan. Oleh karena itu pembelajaran adalah sebuah prioritas dalam organisasi ini.

Konferensi Cabang XXXVIII ( KONFERCAB 38 ) PMII Ciputat telah usai. Hal tersebut juga menunjukkan telah usai pula proses perkaderan PMII Ciputat. Paradigma Transformatif yang selama ini menjadi sebuah pegangan edukasi dalam tubuh PMII telah terenggut oleh politisasi perkaderan sebagai buah dari elitisme dan pragmatisme kepemimpinan. PMII yang seharusnya menitikberatkan pada proses perkaderan kini menjadi organisasi politik yang menurut pelakunya terdapat prestis tersendiri, hingga menjadikan PMII lupa pada cita-cita luhurnya, menciptakan kader-kader bangsa yang berakhlakul karimah.

Proses KONFERCAB 38 PMII Ciputat telah ternoda oleh segala bentuk politisasi perkaderan, mulai dari orientasi kekuasaan hingga pragmatisme pada kepentingan-kepentingan yang justru menghianati cita-cita PMII. KONFERCAB sebagai sebuah proses pembelajaran demokrasi telah berubah menjadi sampah demokrasi. Bagaimana tidak? Kalau hal ini terdengar pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) mungkin menjadi sebuah hal yang wajar, “asal bukan partai ini, asal bukan partai itu”. Akan tetapi jika hal tersebut terjadi dalam organisasi kader seperti PMII, yang masih menjadikan edukasi sebagai alat transformasi ide maupun gagasan, maka jelas terlihat bahwa PMII telah terjerembab pada pola-pola pragmatisme dan anti perkaderan.

Sebuah kewajaran dalam pemilihan pemimpin terdapat pihak menang dan pihak kalah. Tetapi menjadi tidak wajar jika proses tersebut hanya dilihat sebagai target politik dalam mencapai tujuan. Proses edukasi yang seharusnya berjalan bebas telah terenggut oleh kepentingan politik yang begitu kuat. Matinya proses kaderisasi yang menyebabkan PMII Ciputat mengalami degradasi perkaderan dan pemikiran kini menjadi bukti riil bahwa PMII Ciputat telah menjadi organisasi kerdil.

Bukan lagi pada tataran teoritis PMII Ciputat mengalami stagnasi pola perkaderan dan pemikiran, akan tetapi lebih dari itu stagnasi ini juga telah jauh merasuk pada tataran empirik. Momen KONFERCAB yang seharusnya menjadi pembelajaran demokrasi yang anti diskriminasi dan kekerasan, kini telah berubah menjadi ajang premanisme yang begitu mendominasi di tubuh PMII Ciputat, dan hanya demi sebuah kepentingan nisbi. Kepentingan yang tidak pro terhadap progresifitas perkaderan.

Ketika proses KONFERCAB 38 tersebut jauh dari sempurna, maka hasil yang tercapaipun begitu jauh tertinggal dari kesempurnaan. Paradigma kader-kader yang menjadi boneka kepentingan, sikap liberasi yang terkebiri, menjadi korban-korban politisasi perkaderan, sebagai ajang penyelamatan kepentingan pribadi dengan cara-cara yang diskriminatif dan anti demokrasi, adalah efek dari kepentingan yang anti perkaderan. Kepemimpinan yang telah cacat pun tidak dijadikan sebagai sebuah tolok ukur pembelajaran untuk menentukan arah PMII di masa yang akan datang. Jika terus demikian, maka ungkapan “PMII Ciputat tinggal sejarah” akan berubah menjadi sebuah kenyataan pahit yang harus kita saksikan bersama.

Adakah aktor intelektualnya tahu kebutuhan kader? Sehingga (menjadikan kader sebagai ruang eksploitasi, boneka kepentingan dan akhirnya menjadi bodoh karena sistem yang dzalim) akan sirna? Atau justru akan semakin mencengkeram? Hanya anda (sebagai kader PMII) yang tahu arah dan kebijakan yang cocok untuk memperbaiki PMII Ciputat yang kini telah sakit. Wallahu a’lam.

3 thoughts on “Terenggutnya Paradigma Transformatif di Arena KONFERCAB”

  1. PMII adalah organisasi yang merekrut para anggotanya untuk menjadi mahasiswa yang berintelektual dalam segala bidang ilmu. Maka tidak diragukan bahwa pada saat ini PMII adalah organisasi mahasiwa yang layak untuk terus diperjuangkan, akan lebih baik lagi bagi para kader untuk terus menimba ilmu pengetahuan untuk mengembangkan organ tersebut dengan tidak melupakn nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

  2. PMII harus tetap hadir di dalam hati sahabat-sahabat meskipun ada banyak keme;ut dan godaan, saya kira itu adalah bagian dari perjuangan kita sebagai kader PMII….
    kunjungi juga website sahabat-sahabat PMII Cabang Makassar Raya di http://www.pmiicamar.com

Komentar ditutup.