Kekerasan Agama di Tanah Batak

Peresensi: M. Husnaini
Judul Buku: Tuanku Rao
Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Juni 2007
Tebal Buku: iv + 691 halaman

Memperbincangkan sejarah, serasa tidak akan pernah sampai pada puncak kebenaran. Semua serba nisbi, relatif. Sebab, sejarah erat kaitannya dengan serpihan-serpihan kebenaran dan pengetahuan masa lalu, yang supaya bermakna perlu ditata dan ditafsirkan ulang. Jadi, sejarah (hanyalah) merupakan tafsir. Dan sebuah tafsir bukanlah segumpal kebenaran yang mutlak. Ia baru selangkah upaya untuk mendekati sebuah kebenaran.

Itulah mengapa Friederich Nietzsche, filsuf berkebangsaan Jerman, pernah menyatakan, tidak ada fakta dalam masalah kebenaran dan pengetahuan, yang ada hanyalah tafsir. Tampaknya ungkapan itu juga sesuai untuk sejarah.

Tuanku Rao adalah sebuah buku yang berupaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lampau itu, terutama yang terkait dengan Perang Paderi. Melalui buku ini, penulis (M.O. Parlindungan), mengajak kita mengunjungi kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang, dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Madzhab Hambali di Tanah Batak pada 1816 sampai 1833.

Selama berlangsungnya perang, pasukan kaum Paderi tidak hanya berperang melawan Belanda, namun mereka juga menyerang Tanah Batak Selatan, Mandailing, untuk meng-Islam-kan Tanah Batak Selatan dengan menggunakan kekerasan senjata. Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan, oleh penduduk setempat, sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol), karena para penyerbunya datang dari Bonjol, meski dipimpin oleh orang-orang Batak sendiri, yakni, Pongkinangolngolan Sinambela (Tuanku Rao) dan Idris Nasution (Tuanku Nelo), serta Jatengger Siregar (Ali Sakti).

Menurut penulis, setidaknya terdapat dua alasan mengapa penyerbuan ke Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan Islam Madzhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh adanya dendam lama keturunan Marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, Dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak. Togar Natigor Siregar, pemimpin Marga Siregar pun sampai mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh keturunan Marga Siregar, yaitu akan kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua segenap anak cucunya.

Penyerbuan pasukan Paderi baru terhenti pada 1220, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak pada 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang. Sebagian besar bukan tewas di medan pertempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, pada 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana peng-Islam-an seluruh Tanah Batak tidak dapat diteruskan. Sementara itu, Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Akhirnya, Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo tewas dipenggal kepalanya, dan tubuhnya dicincang-cincang oleh Halimah Rangkuti, yang merupakan salah satu tawanan sekaligus selirnya.

M.O. Parlindungan, dalam buku ini, lebih memilih untuk menuliskan sejarah Batak dengan story telling style (gaya bertutur), yang pada awalnya memang ditujukan kepada anak-anaknya. Di sinilah letak salah satu daya tarik buku ini. Ia muncul secara original karena fokus kajiannya lebih ditekankan pada praktik penciptaan sejarah Batak itu sendiri, ketimbang menjajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan naratif, seperti yang dilakukan kebanyakan sejarawan selama ini. Menariknya lagi, dokumen yang digunakan sumber penulis dalam menulis buku ini, semula adalah warisan dari sang ayah sendiri, Sutan Martua Raja Siregar, cucu Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Lelo (hal. 358).

Meski kita tak harus menyetujui keseluruhan ulasan maupun perdebatan yang menyertainya, praktis buku ini demikian berharga dan sayang untuk dilewatkan. Dengan keruntutan bahasa yang disajikan, buku ini jelas sangat imajinatif. Selain itu, buku ini juga diperkaya dengan 34 lampiran, yang antara lain berisi silsilah Raja-Raja Batak dan Minangkabau, serta dipenuhi serangkaian penelitian Willem Iskandar, di samping dokumen Klenteng Sam Po Kong, Semarang, hasil penyelidikan Residen Poortman, prestasi kesejarahan yang telah dicapai M.O. Parlindungan lewat buku setebal 691 halaman ini sayang diabaikan, terutama bagi kalangan ilmuwan yang memerlukan bahan rujukan atau karya pembanding tema ini.

Dus, kehadiran buku ini patut menduduki tempat khusus di dalam penulisan sejarah berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai interpretasi yang tidak mutlak. Adalah tidak berlebihan jika mengatakan bahwa karya yang inovatif ini merupakan satu dari beberapa gelintir karya yang akan menyulut perdebatan kalangan ilmuwan. Utamanya perdebatan mengenai historiografi Indonesia itu sendiri. Sebuah karya yang fantastis.

10 thoughts on “Kekerasan Agama di Tanah Batak”

  1. Bagus dech, PMII UIN Jakarta punya situs.

    Tapi sayang teramat sayang. Resensi Buku TUANKU RAO yang ditulis M. Husnaini di situs ini ternyata plagiat dari dua resensi yang sudah dimuat di media massa. Pertama, resensi M. Husnaini ini banyak mengambil dari resensi Sdr. Tasyriq Hifzhillah di Jawa Pos Minggu dan resensi Sdr. Saifullah Amin di Seputar Indonesia Minggu, yang masing-masing saya kliping. Bahkan, data tersebut juga tersedia di penerbit LKIS sendiri.

    Saya sungguh amat menyayangkan plagiasi ini. Dilihat dari resensi yang ditulis M. Husnaini, sungguh dia cuma mengutak-atik kedua resensi tersebut. Saya berani menjamin, bahwa M. Husnaini sendiri belum atau tidak membaca resensi itu.

    Tabik

    ZEN RACHMAT SUGITO
    Mahasiswa Sejarah UNY Yogyakarta.

  2. RESENSI BUKU TUANKU RAO DI JAWA POS, MINGGU, 24 JUNI 2007.

    “PRAHARA DI TANAH BATAK”

    Judul Buku: Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak.
    Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan
    Editor: Ahmad Fikri A.F.
    Penerbit: LKiS, Jogjakarta
    Cetakan I, Juni 2007
    Isi buku: iv + 691 halaman-Hardcover
    Harga: Rp 135.000

    “Tak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir,” begitu kata Nietzsche berkenaan dengan masalah kebenaran dan pengetahuan. Katakata itu tampaknya berlaku juga untuk sejarah, sebab sejarah erat kaitannya dengan serpihan-serpihan kebenaran dan pengetahuan, yang supaya bermakna perlu ditata dan ditafsir kembali. Karena itu, sejarah juga merupakan tafsir, dan sebuah tafsir bukanlah segumpal kebenaran mutlak. Ia baru merupakan upaya untuk mendekati kebenaran.

    Buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan ini merupakan salah satu upaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu itu, terutama yang terkait dengan Perang Paderi. Melalui buku ini, penulis mengajak kita mengunjungi kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.

    Berbeda dengan sejarawan lain, penulis memilih untuk menuliskan sejarah Batak dengan gaya bertutur (story telling style), yang semula memang ditujukan kepada anak-anaknya. Di sinilah sesungguhnya letak daya tarik buku ini. Ia muncul orisinal karena fokusnya lebih diletakkan pada praktik penciptaan sejarah Batak itu sendiri ketimbang menjajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan naratif seperti praktik sejarawan konvensional selama ini.

    Menurut penulis, setidaknya ada dua alasan mengapa penyerbuan ke Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak. Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar, pun sampai mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh marga Siregar, akan kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

    Agama Islam Mazhab Hambali yang masuk ke Mandailing dinamakan penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol, meski dipimpin orang-orang Batak sendiri, seperti Pongkinangolngolan Sinambela (Tuanku Rao), Idris Nasution (Tuanku Nelo), dan Jatengger Siregar (Tuanku Ali Sakti). Dalam silsilah yang terlampir di buku ini, disebutkan bahwa Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Gana Sinambela (putri Singamangaraja IX) dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela (adik Singamangaraja IX). Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra Singamangaraja VIII, sedangkan Gana Sinambela adalah kakak Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya (hlm. 355).

    Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh tiga orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin Datu Amantagor Manurung. Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati kepada keponakan yang disayanginya dengan menenggelamkandi Danau Toba. Tapi, bukannya mati tenggelam, Pongkinangolngolan terselamatkan arus hingga mencapai Sungai Asahan dan ditolong seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan pergi ke Minangkabau karena takut dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.

    Di Minangkabau, pada 1804, Pongkinangolngolan diislamkan oleh Tuanku Nan Renceh, lalu dikirim ke Makkah dan Syria serta sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri Janitsar Turki. Sekembalinya, pada 1815, Pongkinangolngolan diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan mendapat gelar Tuanku Rao.

    Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadan 1231 H (1816 M) terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis. Muarasipongi berhasil diluluhlantakkan dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorang pun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukan guna penyebaran agama Islam Mazhab Hambali.

    Setelah itu, penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara dilaksanakan 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang untuk memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding satu lawan satu. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi.

    Penyerbuan pasukan Paderi terhenti pada 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak pada 1818, hanya tersisa sekitar 30.000orang. Sebagian terbesar bukan tewas di medan pertempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, pada 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengislaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Sementara itu, Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Akhirnya, Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo tewas dipenggal kepalanya, sedangkan tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

    Akhirnya, buku yang terbagi dalam tiga bagian besar dan berisi 34 lampiran ini jelas memiliki tempat khusus di dalam penulisan sejarah berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai interpretasi yang tidak mutlak.

    Penulis telah menunjukkan adanya kekuatan pada naskah tertulis dalam merekonstruksi visi sejarah Batak bagi perkembangan politik, sosial, dan budaya. Tak dapat disangkal, kontribusi utama buku ini terletak pada temuannya atas faktor lain di luar domain historiografi konvensional. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan mengenai historiografi Indonesia. (*)

    Oleh: TASYRIQ HIFZHILLAH Peminat sejarah asal Probolinggo, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP), Jogjakarta.

  3. RESENSI BUKU DI SEPUTAR INDONESIA, MINGGU, 01 JULI 2007.

    “PENYEBARAN ISLAM DI BUMI BATAK”

    Judul Buku: Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak.
    Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan
    Editor: Ahmad Fikri A.F.
    Penerbit: LKiS, Jogjakarta
    Cetakan I, Juni 2007
    Isi buku: iv + 691 halaman-Hardcover
    Harga: Rp 135.000

    SEJARAH adalah tapak yang seringkali harus ditengok karena dari situ kita dapat menengarai pola yang sama dari peristiwa yang berlainan dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda.

    Sejarah mengajak kita untuk menyadari bahwa pada akhirnya setiap peristiwa dapat tersimpan dalam ingatan masyarakatnya dan menjadi tidak saja ”living memories”, tetapi juga ”living traditions”yang melintasi batas ruang dan waktu melalui penuturan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan ini merupakan salah satu upaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu itu, terutama yang terkait dengan PerangPaderiyangberlangsungdari tahun 1816 sampai 1833.Selama berlangsungnya perang,pasukan kaum Paderi bukan hanya berperang melawan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan,Mandailing,untuk mengislamkan Tanah Batak Selatan dengan kekerasan senjata.

    Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakanolehpenduduksetempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol,meski dipimpin oleh orang-orang Batak sendiri, yakni Pongkinangolngolan Sinambela yang bergelar Tuanku Rao dan Idris Nasution yang bergelar Tuanku Nelo, serta Jatengger Siregar yang bergelar Tuanku Ali Sakti.

    Menurut M.O.Parlindungan, penulis buku ini,setidaknya ada dua alasan kenapa penyerbuan tersebut dilakukan dengan kekerasan. Bahwa, selain menyebarkan Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan ini juga dipicu dari dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, dinasti Singamangaraja,yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak.

    Dan,Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar,mengucapkan sumpah yang diikuti oleh seluruh marga Siregar, yaitu: kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya. Sebelumnya, buku ini pernah diterbitkan penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964. Akan tetapi, setelah menuai kontroversi karena memuat banyak rahasia keluarga, buku ini ditarik dari peredaran oleh penulisnya sendiri.

    Menariknya, dokumen yang digunakan sumber M.O.Parlindungan dalam menulis buku ini awalnya adalah warisan ayah penulis, Sutan Martua Raja Siregar,cucu Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Lelo (halaman.358). Meskipun kita tak perlu menyetujui keseluruhan ulasan maupun perdebatan yang menyertainya, buku ini demikian berharga untuk beberapa aspek atau dimensinya.Dengan keruntutan bahasanya, buku ini jelas sangat imajinatif.

    Diperkaya dengan34lampiranyangantaralain berisi silsilah raja-raja Batak dan Minangkabau, serta dimuati serangkaian penelitian Willem Iskandar di samping dokumen klenteng Sam Po Kong Semarang hasil penyelidikan Residen Poortman, prestasi kesejarahan yang telah dicapai M.O. Parlindunagn lewat buku bertebal 691 halaman ini sayang diabaikan, terutama bagi yang memerlukan bahan rujukan atau karya pembanding tema ini.

    Adalah tidak berlebihan mengatakan bahwa karya yang inovatif ini merupakan satu dari sedikit karya sejarah Indonesia mutakhiryangtelahmenyulutperdebatan kalangan ilmuwan pelbagai disiplin ilmu,dalam cara kita melihat, menginterpretasikan, dan memahami kompleksitas sejarah Tanah Batak pada awal abad ke-19,di mana sejarah Indonesia termasuk di dalamnya.(*)

    Saifullah Amin
    Pengajar IAI Nurul Jadid Paiton,Probolinggo

  4. RESENSI BUKU TUANKU RAO DI JAWA POS, MINGGU, 24 JUNI 2007.

    “PRAHARA DI TANAH BATAK”

    Judul Buku: Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak.
    Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan
    Editor: Ahmad Fikri A.F.
    Penerbit: LKiS, Jogjakarta
    Cetakan I, Juni 2007
    Isi buku: iv + 691 halaman-Hardcover
    Harga: Rp 135.000

    “Tak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir,” begitu kata Nietzsche berkenaan dengan masalah kebenaran dan pengetahuan. Katakata itu tampaknya berlaku juga untuk sejarah, sebab sejarah erat kaitannya dengan serpihan-serpihan kebenaran dan pengetahuan, yang supaya bermakna perlu ditata dan ditafsir kembali. Karena itu, sejarah juga merupakan tafsir, dan sebuah tafsir bukanlah segumpal kebenaran mutlak. Ia baru merupakan upaya untuk mendekati kebenaran.

    Buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan ini merupakan salah satu upaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu itu, terutama yang terkait dengan Perang Paderi. Melalui buku ini, penulis mengajak kita mengunjungi kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.

    Berbeda dengan sejarawan lain, penulis memilih untuk menuliskan sejarah Batak dengan gaya bertutur (story telling style), yang semula memang ditujukan kepada anak-anaknya. Di sinilah sesungguhnya letak daya tarik buku ini. Ia muncul orisinal karena fokusnya lebih diletakkan pada praktik penciptaan sejarah Batak itu sendiri ketimbang menjajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan naratif seperti praktik sejarawan konvensional selama ini.

    Menurut penulis, setidaknya ada dua alasan mengapa penyerbuan ke Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak. Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar, pun sampai mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh marga Siregar, akan kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

    Agama Islam Mazhab Hambali yang masuk ke Mandailing dinamakan penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol, meski dipimpin orang-orang Batak sendiri, seperti Pongkinangolngolan Sinambela (Tuanku Rao), Idris Nasution (Tuanku Nelo), dan Jatengger Siregar (Tuanku Ali Sakti). Dalam silsilah yang terlampir di buku ini, disebutkan bahwa Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Gana Sinambela (putri Singamangaraja IX) dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela (adik Singamangaraja IX). Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra Singamangaraja VIII, sedangkan Gana Sinambela adalah kakak Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya (hlm. 355).

    Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh tiga orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin Datu Amantagor Manurung. Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati kepada keponakan yang disayanginya dengan menenggelamkandi Danau Toba. Tapi, bukannya mati tenggelam, Pongkinangolngolan terselamatkan arus hingga mencapai Sungai Asahan dan ditolong seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan pergi ke Minangkabau karena takut dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.

    Di Minangkabau, pada 1804, Pongkinangolngolan diislamkan oleh Tuanku Nan Renceh, lalu dikirim ke Makkah dan Syria serta sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri Janitsar Turki. Sekembalinya, pada 1815, Pongkinangolngolan diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan mendapat gelar Tuanku Rao.

    Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadan 1231 H (1816 M) terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis. Muarasipongi berhasil diluluhlantakkan dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorang pun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukan guna penyebaran agama Islam Mazhab Hambali.

    Setelah itu, penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara dilaksanakan 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang untuk memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding satu lawan satu. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi.

    Penyerbuan pasukan Paderi terhenti pada 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak pada 1818, hanya tersisa sekitar 30.000orang. Sebagian terbesar bukan tewas di medan pertempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, pada 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengislaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Sementara itu, Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Akhirnya, Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo tewas dipenggal kepalanya, sedangkan tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

    Akhirnya, buku yang terbagi dalam tiga bagian besar dan berisi 34 lampiran ini jelas memiliki tempat khusus di dalam penulisan sejarah berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai interpretasi yang tidak mutlak.

    Penulis telah menunjukkan adanya kekuatan pada naskah tertulis dalam merekonstruksi visi sejarah Batak bagi perkembangan politik, sosial, dan budaya. Tak dapat disangkal, kontribusi utama buku ini terletak pada temuannya atas faktor lain di luar domain historiografi konvensional. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan mengenai historiografi Indonesia. (*)

    Oleh: TASYRIQ HIFZHILLAH Peminat sejarah asal Probolinggo, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP), Jogjakarta.

  5. Aku gak ada urusan dengan plagiat apa kagak. Aku kagak pernah juga urusin dan ambil pusing. Yang kuurusin nama ane dipake2 orang kagak jelas. Buat ngatain orang plagiat lagi. Kampret menungso kuwi yg pake2 nama orang.

  6. Buku Mangaradja saya nilai tidak sesuai fakta sejarah yang dituliskan. Pembaharuan Islam di jazirah Arab dilaksanakan pada abad ke 16 masehi. Bertolak belakang dengan tiga pemuka agama Islam dari Minang kabau yang dikatakan pernah menjadi pasukan Kavaleri Janitsat Turki. Lihat tahunnya saja antara dua peristiwa sangat jauh berbeda.
    Perjuangan kaum wahabi di Minangkabau terjadi dua abad setelah pembaharuan islam di jazirah Arab.
    Fakta dangkal lainnya, hubungan antara Sisingamangaraja dengan Tuanko Rao tidak mungkin pernah terjadi. Karena periode hidup kedua tokoh jauh berbeda. saya menilai ada upaya membalikkan fakta sejarah yang dilakukan Mangaradja Parlindungan.
    Untuk lebih faham tentang sejarah Islam di Minangkabau silahkan baca karya Hamka yang berjudul antara Fajta dan Khayal Tuanku Rao yang diteribitkan Mangaradja Parlindungan..

  7. saya juga meresensi buku itu lho. dimuat di suara muhammadiyah tapi. suer! hehehehe

Komentar ditutup.