Ade Jonathan, Calon Presma UIN Jakarta dari Partai Persatuan Mahasiswa

Jakarta ( 21/08 ) – Prosesi Pesta Demokrasi di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta baru saja di mulai. Beberapa partai kampus mulai membangun opini, propaganda dan agitasi, termasuk Partai Persatuan Mahsiswa (PPM). Partai kampus yang berasal dari jiwa-jiwa pemberontak tersebut mulai membusungkan dada dengan momen Kongres Lanjutan, dengan agenda Konvensi Kandidat Presiden Mahasiswa yang akan diusung PPM pada Pemilu Raya (Pemira) Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, nanti 10-11 September 2007.

Partai penguasa kampus tersebut menjaring kandidat untuk dicalonkan pada Pemira melalui mekanisme Konvensi dengan tema Ijtihad Kolektif, Menjaring Sosok Pemimpin Ideal. Diharapkan melalui mekanisme ini, proses demokratisasi di tubuh PPM dapat berjalan dengan baik, serta dapat menuai kemenangan kembali.

Akan tetapi terasa janggal pada Konvensi tahun ini, Fakultas yang biasa mengusung kandidat dengan masa terbesarnya tidak memunculkan satupun nama kandidat, atau boleh dikatakan absen untuk tahun ini. Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) yang setiap tahun ikut andil dalam proses pembangunan student gorenment itu menyatakan absen dalam arena ijtihad kolektif tersebut.

Sahabat Khoerudin el-Ridlo yang juga Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FSH menyatakan tidak siap untuk dicalonkan sebagai kandidat Presiden Mahasiswa. Setelah dikonfirmasi melalui wawancara, oleh redaksi Kampus Keadilan, ia menyatakan bahwa ia tidak siap ambil resiko yang terlalu berat. Karena proses student government kali ini terlalu berat untuk diperjuangkan. Menurutnya, siapapun yang jadi pemimpin eksekutif tahun ini haruslah bisa memperjuangkan student goverment dengan lebih konsisten, artinya harus bisa meredam konflik sejarah yang telah ada. “Sementara saya secara pribadi tidak cukup berani untuk ambil resiko tersebut. Bagaimana tidak? Siapapun yang jadi presiden tahun ini harus siap menormalisasi agenda student goverment yang selama 2 tahun ini dianggap cacat oleh kebanyakan mahasiswa.”, tuturnya.

Siapapun yang terpilih akan banyak berurusan dengan Konstitusi, Legislatif, dan Kongres Mahasiswa. Belum lagi mengenai pelaksanaan program kerjanya. Cukup berat untuk menjadi Presiden tahun ini. Jelas Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPM FSH, sahabat Jazuli.

Dan ternyata benar, hasil akhir dari ijtihat kolektif tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh kader gressroat. Sidang berjalan dengan rusuh. Berbagai tuntutan DPW diabaikan, dan akhirnya, Pemira akan dilalui PPM dengan persiapan yang prematur. Tuntutan DPW Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), mengenai tidak fairnya proses Konvensi dilayangkan kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPM. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui sikap DPP PPM dalam merespon tuntutan tersebut.

Konvensi yang berhasil mengusung Sahabat Ade Jonathan (Mahasiswa Manajemen Ekonomi, 2003, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial -FEIS-), berakhir dengan sebuah ketidakpuasan di pihak yang lain. Kader FDK, Sahabat Abdul, kandidat yang tersisih, merasa dipecundangi dengan adanya treatment yang diterapkan DPP. Disinyalir ada permainan tidak fair yang dilakukan oleh DPP. Baik mengenai absensi, alokasi waktu dll. Tak urung isu yang muncul adalah akan golputnya pihak yang “terdhalimi”, pada Pemira nanti.

Meskipun demikian, pendaftaran nama Calon Presiden Mahasiswa dari PPM (hasil Konvensi) tetap didaftarkan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jika memang demikian adanya, kita tunggu tanggal mainnya, tutur salah satu Pimpinan PPM FDK. (adib)