Propesa Cinta 2007 Bertepuk Sebelah Tangan

Jakarta ( 30/08 ) – Warna-warni atribut mahasiswa baru, tampak menonjol di sepanjang jalan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ada warna hitam lengkap dengan atribut ala Carribeannya. Ada warna kuning lengkap dengan sayap ala Manusia Super. Ada warna merah dengan atribut ala Hawaii. Ada juga yang menenteng miniatur CPU, dll.

Mahasiswa baru tersebut bukan hadir dalam rangka pawai bulan Agustus-an, selayaknya peringatan HUT RI 62 kemaren, akan tetapi mereka sedang mengikuti masa Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa) Creatifity, Integrity, Attitude (Cinta) 2007 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Propesa Cinta 2007 wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru yang telah melakukan registrasi akademik, dan berlaku untuk seluruh fakultas dan program studi.

Program yang akan berlangsung selama 2 hari itu, dibuka oleh Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Acara yang dibuka secara simbolis dengan pelepasan balon ke udara tersebut diawali dengan prosesi upacara di Stadion Sepak Bola UIN Jakarta. Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Bapak Purek Kemahasiswaan.

Kegiatan Propesa yang tidak didampingi oleh Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) ini dimulai pada pukul 07.30 WIB. Ritual tahunan ini seakan sepi dari pengawalan UKM-UKM kampus. Tim kesehatan tanpa Korps Sukarela Remaja (KSR), Komandan Upacara tanpa Resimen Mahasiswa (Menwa), dan pengibar bendera tanpa Pramuka.

Propesa yang merupakan salah satu program besar kampus, terkesan dilaksanakan dengan persiapan yang kurang matang. Penunjukan Kepanitiaan yang kurang tepat justru berakibat pada kualitas Propesa yang amburadul. UKM kompak menyatakan sikap tidak ingin terlibat dalam penyelenggaraan Propesa kali ini. Disharmoniasi antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Jakarta dengan UKM, berbuntut pada keringnya nuansa Propesa yang setiap tahunnya menjadi ajang paling heboh di kampus.

Penarikan dukungan UKM pada Propesa kali ini, diawali perdebatan panjang antara BEM UIN Jakarta dengan UKM pada saat workshop. Pihak BEM berdalih, bahwa SK Rektor tidak melibatkan UKM pada Propesa kali ini. Sementara UKM merasa berhak atas keterlibatannya dalam Kepanitiaan Propesa.

Propesa kali ini memang sangat tepat jika disebut dengan Propesa Cinta. Akan tetapi Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebab, bukan kata Creativity yang tergambar, akan tetapi pembatasan. Bukan kata Integrity yang dilaksanakan akan tetapi kata pemasungan. Bukan pula kata Attitude yang tepat untuk disandang, sebab masih terjadi gontok-gontokan.

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat buruk, sehingga student government pun turut terciderai. Kemana Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UIN Jakarta? Kenapa hal ini bisa terjadi ketika semua pihak sudah merasa gerah dengan sistem student government yang telah pincang?. Semua seakan sibuk dengan kepentingan Pemira 2007. (lilis)