Penculik Raisya Ternyata Pelajar Aktivis Rohis SMA 35 Jakarta

Jakarta (02/09) – Benar-benar mengejutkan! Penculik bocah Raisya yang menarik perhatian segenap masyarakat, tidak terkecuali Presiden SBY ternyata adalah para pelajar dan alumni SMA 35 Jakarta yang aktif di ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis).

“BH, JN, dan FR adalah siswa kelas III SMU 35, Jalan Bendungan Hilir, Jakpus. Sedangkan YP dan ANG adalah alumni sekolah yang sama. Namun, YP lulusan 1998 dan ANG lulusan 1999. Hubungan alumni dan ketiga adik kelasnya itu, karena YP dan ANG pernah menjadi pembimbing kegiatan ekstrakurikuler Rohis di SMU 35 itu,” ungkap Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Adang Firman.

Dari pemeriksaan penyidik, otak penculikan adalah Yogi. “YP (Yogi Permana, Red) punya kios buku Amanah di kawasan Jalan Kramat Raya. Karena usahanya sempat bangkrut dua kali, YP terlilit utang hingga Rp 150 juta yang digunakan untuk membangun usaha kios bukunya itu kembali. Karena terus ditagih, dia nekat menculik korban dan minta tebusan,” ujar Adang lagi.

Bagaimana hubungan tersangka Yogi dengan korban? Adang mengatakan, istri kedua Yogi bernama SR merupakan guru mengaji di rumah kakak ibunda korban. Kebetulan rumahnya tak jauh dari rumah korban di kawasan Kompleks TNI-AU, Jatiwaringin, Bekasi.

“Korban juga sering datang ke rumah kakak ibunya ini untuk ikut belajar mengaji dengan SR. Dari sana YP berniat menculik korban lantaran dia tahu bahwa korban sangat disayang keluarganya,” terang Kapolda lagi. Dia menambahkan, keterlibatan SR dalam penculikan itu juga masih disidik.

Para Penculik Siswa Pintar dan Aktif di Rohis, IPNU Prihatin

Sementara itu, Kepala SMAN 35 Maria Gunawarti, sekolah berpandangan bahwa para siswa yang diduga terlibat penculikan tergolong baik, cukup berprestasi,tidak pernah bermasalah, bahkan aktif di organisasi kerohanian. Sementara salah satu teman satu kelas pelaku, Yusia yang duduk di kelas 3 IPS, mengaku bahwa salah satu pelaku adalah orang yang tergolong pendiam dan jarang bergaul dengan teman lainnya, kecuali dengan teman yang aktif di organisasi kerohanian.

Orang tua FR salah seorang penculik, pasangan Jimmy Darlen (38) dan Zuzi Zahrek (38) warga Petamburan Jakarta menyatakan tidak percaya anak mereka adalah penculik Raisya. Menurut mereka FR selama ini dikenal pendiam dan penakut. Namun, sikap FR berubah sejak FR akrab dengan alumni YP dan ANG, alumni SMA 35 angkatan 1998 dan 1999 yang menjadi pembimbing Rohis di SMA 35. Menurut Zuzy dan Jimmy sikap FR berubah sejak akrab dengan alumni tersebut. FR tidak mau lagi mendengar omongan orang tua dan sering tidak pulang ke rumah. Jimmy menegaskan FR tidak akan menculik karena kekurangan uang.

Terlibatnya para pelajar muslim aktivis Rohis dalam penculikan Raisya mengundang keprihatinan IPNU. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU (IPNU) Idy Muzayyad menyatakan keterlibatan para pelajar tersebut dalam tindak kriminal penculikan merupakan tanda gagalnya sistem pendidikan formal membentuk karakter siswa. Keaktifan mereka di Rohis, menurut Idy juga tidak menjamin para pelajar muslim jauh dari perilaku kriminal. Menurut Idy, sistem kaderisasi Rohis di sekolah umum yang menekankan pada kesalehan ritual-individual dan mengabaikan kesalehan sosial merupakan salah satu penyebab keterlibatan mereka dalam penculikan Raisya.

”Yang pasti mereka bukan kader pelajar IPNU!”, pungkas Idy menutup pembicaraan via telepon dengan reporter http://www.gusmus.net.

Sejak Orde Baru hingga kini, para pelajar muslim di sekolah-sekolah negeri di kota-kota besar terutama Jakarta memang sangat jarang yang menjadi kader IPNU ataupun ormas pelajar lainnya seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Orde Baru memang tegas melarang kehadiran ormas-ormas pelajar yang berinduk pada ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah.

Sebagai gantinya, otoritas sekolah dan pemerintah hanya mengizinkan pelajar muslim berkiprah di Rohis yang menjadi bagian dari OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Para pelajar muslim aktivis Rohis di Jakarta umumnya tidak punya hubungan kultural dengan dua ormas Islam terbesar di tanah air seperti NU dan Muhammadiyah. Sejak reformasi 1998, para alumni dan aktivis Rohis SMA di Jakarta sebagian besar bersimpati pada sebuah partai Islam ideologis yang memenangkan pemilu 2004 di Jakarta.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

3 thoughts on “Penculik Raisya Ternyata Pelajar Aktivis Rohis SMA 35 Jakarta”

  1. gimana 35 mw maju……murid nya aj kriminal……..qlo mw tau d 35 tuch banyak yg g bener……………..kalo tdk prcaya coba geledah………….

Komentar ditutup.