Sikap Islam Terhadap Anak Jalanan

Perlu kita ketahui bersama bahwa fenomena kehidupan modern dewasa ini telah melahirkan kelompok masyarakat marjinal yang hidup di jalanan. Mereka kerap disebut anak jalanan. Mereka lahir, tumbuh, dan besar di jalanan. Pendidikan yang mereka peroleh juga dari apa yang mereka lihat dan pikirkan tentang jalanan. Rumah tidak mereka miliki, bahkan kehidupan bermasyarakat pun tidak mereka pedulikan karena jalan merupakan tumpuan hidup utama mereka. Kalau dibilang mereka bermasyarakat, ya mereka bermasyarakat di jalanan.

Tempat bersosial mereka di perempatan jalan, perempatan/pertigaan lampu merah, trotoar, dan kolong jembatan. Terutama kehidupan dengan cara mengemis, mengamen, mengais sampah, dan tidak jarang kriminalitas demi mempertahankan hidup. Ini fenomena nyata yang ada di depan mata kita. Sudahkan kita memikirkan sudara-saudara kita itu? Akankah Islam membiarkan mereka hidup di jalanan sepanjang hayat sehingga membiarkan jalanan sebagai media sosialnya? Lalu bagaimana Islam harus bersikap terhadap masyarakat anak jalanan?

Dalam fikih Islam perbincangan mereka cukup menarik perhatian para ulama. Mereka menyebutnya sebagai laqîth anak usia belum baligh yang ditemukan di jalan. Sementara Yusuf Qardhawi lebih memilih berpendapat bahwa anak seperti ini lebih patut dinamakan ibnu sabil atau anak jalanan, yang dalam Islam dianjurkan untuk memeliharanya.

Untuk konteks sekarang barangkali laqîth atau anak jalanan memiliki pengertian yang luas. Sebab dalam fikih yang tergolong laqîth adalah mereka yang tidak diketahui keluarganya. Ditinggal begitu saja di jalan. Namun sekarang ini banyak anak yang dibiarkan berkeliaran di jalan karena orangtuanya tidak mampu membiayai hidup mereka.

Dalam kitab Ahkâm al-Aulâd fil Islâm (Hukum Anak-Anak dalam Islam) disebutkan bahwa Syariat Islam memuliakan anak jalanan. Oleh karena itu hukum memungut dan memelihara mereka adalah fardhu kifayah, kecuali madzhab Hanafi yang mengatakan hukumnya hanyalah sunah muakkad.

Namun ulama lain bahkan ada yang mengatakan hukumnya fardlu ain jika hanya ia seorang saja yang mengetahuinya. Firman Allah swt dalam surat Al-Maidah ayat 32: “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Ada hal lain yang menurut saya menarik bagaimana pandangan fikih soal anak jalanan ini. Fikih menetapkan bagi yang mengambil mereka hendaklah dia mukallaf, merdeka, Islam, adil dan rasyid. Adapun jika orang yang memungut kanak-kanak laqith itu tidak memenuhi syarat di atas, seperti orang fasik, kanak-kanak, orang mahjur ‘alaihi atau orang kafir memungut anak laqîth Islam, maka wajib bagi pemerintah mengambil kanak-kanak laqîth tersebut.

Dalam aturan ini sangat jelas bahwa eksploitasi terhadap anak jalanan itu dihindari. Orang atau lembaga yang tidak bertanggung jawab harus ditindak oleh negara karena merugikan anak jalanan.

Meski demikian pada dasarnya tugas memelihara, mendidik, mengawinkan dan mengurus harta benda anak jalanan (seandainya ada) menjadi tanggung jawab pemerintah. Orang atau lembaga yang mengurusi mereka dalam hal ini hanya membantu pemerintah.

Hal ini merujuk pada perkataan Umar ibn Khattab r.a. ketika ada seorang laki-laki yang memungut anak, “Pengurusannya berada di tanganmu, sedangkan kewajiban menafkahinya ada pada kami.”

Hal ini sesuai dengan UUD kita yang menyatakan, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Anak jalanan adalah salah satu bentuk kemiskinan.

Anak jalanan adalah nama yang lahir dari lingkungan mereka hidup, karena sesungguhnya dalam diri mereka tidak ada sedikitpun kinginan menyandang predikat ini, tapi selama mereka hidup dalam kungkungan kemiskinan, akan sulit bagi mereka lepas dari nama itu.

Mereka sebenanya adalah saudara kita yang belum menemui kesempatan dalam menikmati hidup. Memang mereka berada di bawah tanggung jawab pemerintah, tapi apakah ada jaminan mereka bisa menikmatinya, toh kenyataan yang kita lihat, jumlah mereka semakin banyak bukan?

Sekarang, kita rujuk salah satu sabda Rasulullah: “Sesungguhnya Allah senantiasa memberi pertolongan kepada seorang hamba selama dia menolong sesama saudaranya.” Dari sini kita tahu, bahwa Islam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan bukti paling konkrit adalah ajaran tentang ta’awwun (saling tolong menolong) kepada mereka yang memang mambutuhkan.

Karena itu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dalam penanganan orang miskin atau anak jalanan. Sebenarnya dalam Islam sudah dikenal zakat, tapi mungkin karena belum optimalnya penggunaan, menjadi salah satu faktor lambatnya penanganan kemiskinan umat Islam pada khususnya.

Kepedulian terhadap mereka tidak bisa hanya sepihak menghandalkan pemerintah, tapi kitapun tidak bisa memberikan perhatian maksimal bila tidak ada dukungan dari pemerintah. Jadi harus ada komunikasi dan kerjasama untuk bersama-sama mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan.

Sumber: http://www.syirah.com

Iklan

One thought on “Sikap Islam Terhadap Anak Jalanan”

  1. sejujurnya,ak sangat setuju bgt dgn kepedulian kita terhadap mereka(anak jalanan).
    biar bagaimanapun,mereka adalah saudara kita.
    rasa miris n penuh kesedihan selalu ad dlm hati ku saat ak melihat mereka di jalanan.
    walau terkadang mereka membuat kita resah tpi,,ak pikir semua tu mereka lakukan krena,,tak ad yg memberi dorongan tuk hidoep.
    dgn kata lain,tanpa kasih sayang dan ak sangat memaklumi.

    uhh,,sungguh malang nasib mu kawan.
    I WILL ALWAYS LOVE YOU forever kawan.
    doa`ku semoga kau menemui titik yg terang..Amien.

Komentar ditutup.