Puasa Anti Kapitalis untuk Indonesia

Oleh: Muhammad Budi Setiawan

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 36 tahun terakhir, Indonesia saat ini sedang berada pada masa yang sangat mencemaskan, di sepanjang perjalanan sejarahnya selalu dirundung duri yang seakan tak pernah lengang dimakan waktu. Tidak sedikit rakyat Indonesia yang saat ini mengalami penderitaan, penderitaan berupa kemiskinan, kebodohan, pengangguran, dsb.

Sang waktu pun begitu cepat berlalu, 62 tahun sudah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, tanpa terasa, bahwa Indonesia seharusnya telah menjadi bangsa yang makmur, masyarakatnya sejahtera, cerdas, dan mampu bersaing dengan bangsa lain di segala bidang. Namun ternyata jauh dari panggang, bangsa yang berpenduduk mayoritas Muslim ini justru terjerembab pada jurang yang seharusnya tidak perlu kita rasakan.

Umat Islam Indonesia juga seharusnya mampu untuk membuktikan kepada bangsa lain bahwa Indonesia adalah bangsa yang memang benar-benar merdeka. Bangsa Indonesia mampu bangkit untuk melawan kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keberagamaan yang dimiliki.

Tak terasa pula bahwasannya (umat Islam) saat ini segera kembali akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Dengan datangnya bulan Ramadhan ini, adalah momentum yang sangat tepat bagi bangsa Indonesia untuk dapat menyamakan persepsi, bahwa kita ini adalah satu tubuh, apabila salah satu organ tubuh terserang sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakit yang sama.

Bulan Ramadhan ini merupakan ruang untuk melakukan refleksi, introspeksi (muhasabah al-nafs), dan evaluasi diri atas segala tingkah polah kita dalam setahun terakhir. Dan semoga umat ini juga ditunjukkan jalan yang benar, yaitu jalan dimana para pejuang kebenaran diberikan kejayaan atas orang-orang pembuat kerusakan.

Sebagai bahan refleksi dan perenungan, kita harus berani bertanya pada diri sendiri, apakah selama sebelas bulan sebelumnya, kita telah tampil menjadi manusia yang takwa. Atau malah meluncur menjadi ‘manusia binatang’ yang menodai eksistensi dirinya sebagai hamba (‘abid) dan sebagai representasi Tuhan (khalifah) di bumi? Apakah selama ini, kita hanya mengikuti kehendak hawa nafsu belaka atau senantiasa berjalan secara paralel dengan dasaran etik-moral yang mengikat diri kita?

Perdefinisi, puasa tidak hanya berarti menahan diri bagi pemenuhan keinginan-keinginan biologis semata, melainkan juga merupakan latihan terbaik dalam -meminjam istilah intelektual muslim Isma’il al-Faruqi- pengendalian diri (the art of self mastery), melatih kesabaran, bersikap jujur pada diri sendiri, dan memupuk solidaritas kemanusiaan yang universal.

Ramadhan melatih seseorang untuk menjadi orang yang berdisiplin, tunduk pada hukum, empati kepada orang lain, istiqamah, menerapkan pola hidup selektif, yang diharapkan terus berlanjut secara sinambung pada bulan-bulan berikutnya.

Dengan demikian, di samping sebagai ibadah habl min Allah pada saat yang sama puasa juga menekankan habl min al-nas. Sehingga, tak pelak lagi, sepanjang bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah baik ibadah ritual (mahdhah) maupun ibadah sosial (ghair mahdhah).

Ibadah sosial seperti mengeluarkan zakat, memberikan infak atau sedekah, menyantuni fakir-miskin. Dalam lanskap itu, sepanjang bulan Puasa ini kita bisa menggalang dana, apakah bernama zakat mal, zakat fitrah, zakat profesi atau yang lainnya, untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang terpuruk. Misalnya para pengungsi, orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat PHK, korban kekerasan, mereka yang terkena musibah banjir, lumpur, yatim-piatu, anak jalanan dan yang lain-lainnya.

Sedangkan ibadah ritual seperti banyak membaca seraya merenungkan (tadabbur) ayat-ayat al-Quran (menggali ilmu darinya dengan cara mengkajinya), salat tarawih, salat witir, shalat tahajjud, dengan terus-menerus memohon bimbingan dan ampunan Tuhan.

Dengan demikian, di samping sebagai aktivitas fisik, puasa juga secara sekaligus sebagai aktivitas psikis dan sosial. Secara fisik, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan melakukan kontak seksual semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara psikis, ini berarti penahanan diri dari upaya memanjakan gelora hawa nafsu yang dapat berimplikasi buruk pada diri manusia. Dan, secara sosial, Hasan Hanafi menjelaskan dalam al-Din wa al-Tsawrah (1990: 63, VII), puasa melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan. Dalam konteks itulah kita bisa memahami adanya perintah untuk mengeluarkan zakat fitrah di penghujung bulan Ramadhan.

Terang sekali, secara fungsional dan simbolis perintah zakat fitrah merupakan refleksi bagi adanya sasaran sosial yang hendak diraih dalam berpuasa, yaitu sebuah komitmen moral dan keprihatinan sosial untuk menimbun jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Di bulan Ramadhan ini kita dituntut untuk mampu menunjukkan nilai kemanusiaan kita masing-masing, in optima forma, dalam bentuk yang setinggi-tingginya. Seperti disebutkan dalam Alquran (QS, 3:134) tentang kaum beriman, “Mereka yang tetap berderma baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dan mereka yang mampu menekan amarah, lagi pula bersifat pemaaf kepada sesama manusia.”

Sikap hidup dengan cita rasa kemanusiaan yang tinggi inilah yang disebut dalam Kitab Suci sebagai al-‘aqabah, jalan yang sulit (tapi mulia dan benar) yaitu perjuangan untuk membebaskan kaum mustadh’afin (orang-orang yang terbelenggu dan tertindas).

Sebab, ibadah ritual apa pun, tak terkecuali ibadah puasa, dalam pandangan Islam tidak memiliki nilai apa pun kalau tidak mempunyai dampak positif, secara internal pada dirinya dan secara eksternal pada orang lain sekaligus.

Inilah barangkali yang dimaksudkan oleh Umar ibn Khattab tatkala mengatakan, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”

Mereka itu adalah orang yang telah menjadikan ibadah puasa sebagai sebuah rutinitas, tanpa ruh-spirit. Termasuk juga, mereka yang melakukan ritual puasa pribadi, tapi melupakan pesan untuk melakukan puasa sosial. Puasa yang demikian adalah puasa yang tidak sinkron dengan janji-janji ideal Islam.

Dengan konsep bulan Ramadhan tersebut, marilah kita wujudkan masyarakat Indonesia yang benar-benar merdeka. Merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran. Serta mendorong tegaknya moralitas bangsa yang selama ini telah terenggut demi kepentingan nafsu individu.