Kampanye Pemira Kampus UIN Jakarta 2007 Minim Massa

Jakarta (06/09) – Masa kampanye Partai Politik Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah berakhir. Seluruh partai peserta Pemilihan Umum Raya (Pemira) Kampus UIN Jakarta menggelar kampanye dengan masing-masing amunisi yang mereka punya. Namun hal itu tetap direspon dengan sikap apatisme mahasiswa terhadap politik.

Kecenderungan ini bisa dilihat dari massa kampanye yang hanya segelintir. Tingginya sikap apatis mahasiswa untuk merespon pembelajaran politik ini sungguh sangat miris. Masa depan student government di UIN Jakarta kini juga terancam. Partai Persatuan Mahasiswa (PPM) yang mengkampanyekan anti normalisasi kampus, dengan tegas menyatakan sikap antinya terhadap indikasi pihak rektorat yang akan menormalisasi kampus dari student government.

Partai Intelektual Muslim (PIM) yang mengkampanyekan UIN menuju kampus peradaban, tidak kalah nyaring meneriakkan UIN Jakarta harus lebih baik. Tanpa kemudian harus menjelaskan, apakah student government harus tetap diberlakukan atau tidak.

Partai Reformasi Mahasiswa (PARMA), partai berbasis kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga tak luput berpartisipasi dalam kampanye. PARMA mengkampanyekan perubahan secara komprehensif dalam tubuh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Jakarta. Begitupun partai lainnya.

Lima partai peserta Pemira Kampus UIN Jakarta semua berkampanye demi kekuasaan. Mereka tidak punya konsep yang jelas untuk membangun UIN Jakarta lebih baik, terutama calon yang diusung oleh masing-masing partai, itulah yang diungkapkan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPM Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Jakarta.

Sebagai basis PPM terbesar, DPW PPM FSH tidak begitu yakin PPM akan menang melawan dominasi rektorat yang diindikasikan akan melebur sistem student government menjadi sistem senat. Hal ini karena kurang percayanya mahasiswa terhadap PPM. DPW PPM FSH juga tidak begitu yakin ada perubahan signifikan dalam tubuh BEM UIN Jakarta jika dipimpin oleh PARMA, dengan alasan PARMA akan terus ditekan oleh rektorat. PIM yang mengkampanyekan perubahan UIN Jakarta menjadi kampus “peradaban”, justru akan bertentangan dengan misi/konsep yang ditawarkan oleh kampus Islam pada umumnya. Kampus peradaban PIM yang dimaksud tidak jauh dari sistem yang ditawarkan oleh penguasa kampus-kampus Umum, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB). dll. Ada indikasi dominasi tunggal olehnya, sementara UIN Jakarta adalah kampus Pembaharu, dimana sering terjadi dialektika wacana pemikiran.

Semua serba salah, yang kemudian menjebak mahasiswa untuk bersikap lebih baik diam dan apatis. Oleh karena itu, mereka bukan hanya butuh janji, akan tetapi realisasi. Apapun partai penguasanya tidak akan ada masalah jika memang mempunyai misi menciptakan perubahan yang lebih baik, terang mahasiswa FSH yang tidak mau dipublikasikan namanya. Ia juga akan memilih golput di tingkat Universitas pada Pemira nanti. Ia beralasan tidak ada untungnya buat mahasiswa, karena yang lebih riil bekerja justru hanya Eksekutif tingkat Fakutlas ke bawah. (adib)