PARMA dan Dekanat FSH Gerah, Ajak Koalisi PIM, Gempur PPM

Jakarta (10/09) – Merebaknya isu pembusukan salah satu partai peserta Pemira Kampus UIN Jakarta 2007 di FSH UIN Jakarta ternyata membuat Partai Reformasi Mahasiswa (PARMA) dan Partai Intelektual Muslim (PIM) nekad berkoalisi. Partai yang berbasis kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) tersebut berkoalisi setelah mendengar isu dana kucuran pihak dekanat FSH UIN Jakarta. Anehnya, isu tersebut menyudutkan Partai Persatuan Mahasiswa (PPM), yang menjadi kendaraan politik kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Merebaknya isu tersebut, diawali dengan keceplosannya kader PARMA, yang menyatakan bahwa pada Pemira kali ini PARMA pasti akan menjadi pemenang di FSH, pasalnya dana dari dekanat untuk suksesi PARMA telah turun, untuk Konsentrasi Peradilan Agama saja dianggarkan Rp 20.000/mahasiswa. Dana ini memang diperuntukkan bagi kader PPM yang mau memilih calon dari PARMA, tuturnya.

Setelah isu berkembang luas di kalangan mahasiswa FSH dan menyebar melalui pesan pendek, pihak dekanat merasa gerah dengan isu tersebut. Hal ini bersambut pada pemanggilan BEM FSH (yang dianggap representasi dari seluruh mahasiswa dan kader partai penguasa yang juga dianggap sebagai tersangka) oleh pihak dekanat FSH. Pemanggilan tersebut sebenarnya tidak ada relevansinya dengan isu yang berkembang, namun untuk menjaga harmonisasi hubungan antar partai, maka BEM FSH harus menyambut dengan tangan terbuka. BEM akan turut mengusut kasus tersebut sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Siapapun yang menyebar isu, kemudian tanpa bisa dipertanggngjawabkan maka harus mendapatkan sanksi dari Panwaslu, tutur Sahabat Oenk, Ketua Umum BEM FSH.

Menurut Sekretaris Umum BEM FSH, Sahabat Muhammad Dani, permasalahan ini adalah permasalahan kompleks, mengingat isu tersebut menyebar melalui pesan pendek. Dan tidak menuntut kemungkinan disebarkan oleh seluruh partai, tentunya demi kepentingannya masing-masing. Oleh karena itu pihak BEM akan lebih hati-hati dalam mengambil sikap, karena ini sudah masuk pada ruang propaganda partai. Sementara BEM tidak mempunyai kepentingan yang terlalu signifikan dalam masalah ini, tutur mahasiswa yang juga kader PMII tersebut.

Karena isu busuk tersebut, akhirnya membuat PARMA dan PIM bertemu dalam koalisi raksasa pada Pemira Eksekutif (11/09), pagi ini. Mereka menggempur PPM yang telah dianggap menyebar isu busuk. Namun hal ini juga ditampik oleh DPW PPM FSH, bahwasannya, pesan pendek tersebut masuk melalui nomor ponsel yang belum jelas siapa pemiliknya. Justru menurut analisis tim kami, merebaknya isu tersebut sengaja dibuat untuk mempertemukan dua partai tersebut, jelas Sekretris Jendral DPW PPM FSH, Sahabat Devison. Dari sini sungguh jelas siapa aktor intelektual yang memainkan.

Namun terlepas dari keterkaiatan dekanat dengan kasus tersebut, pihak dekanat ternyata memang ikut bermain dalam menentukan sikap politik. Dengan merasa gerah menyikapi isu busuk tersebut, pemanggilan BEM FSH, dan bertemunya partai para juniornya dengan pihak PIM, sudah cukup menjadi bukti bahwa dekanat FSH memang mencoba memainkan seluruh strategi, agitasi, opini dan propaganda untuk menggempur PPM. Mengingat kepentingan dekanat yang begitu besar untuk mengamankan posisi, maka bukan tidak mungkin mereka mencoba mencerabut PPM, yang menjadi tempat aspirasi para mahasiswa anti kemapanan yang dipelopori oleh PMII.

Iklan

2 thoughts on “PARMA dan Dekanat FSH Gerah, Ajak Koalisi PIM, Gempur PPM”

  1. PPM, PARMA, PIM sama aja semunya… gak pernah brpihak kepada mahsiswa… itu harus diakui. selama wildan, afiffuddin dan sam’ani menjabat, gak ada ngaruhnya tuh buat kampus…

    PARMA apalagi… yang dipikirin cuma perut, budak rektorat dan dekanat

    PIM, sok paling bener, padahal dia juga linglung dan ga berani buat perubahan di kampus…

    bagaimana dengan boenga?
    sekalipun partai miskin, tapi kita berani menyuarakan apapun. kami berani bentrok dengan rektorat, dekanat dan satpam. membuat kampus jadi lebih egaliter, demokrasi dan tak ada senioritas.

    HIDUP BOENGA

Komentar ditutup.