Ramadhan; Jalan Menuju Ketakwaan Hakiki

Peresensi: Lukman Santoso Az*
Judul Buku: Ramadhan; Agar Puasa tak Sekadar Lapar & Dahaga
Penulis: Dr. A’idh al-Qarni, MA
Penerjemah: Yasir
Penerbit: Aqwam Media Profetika, Solo
Cetakan: I, Agustus 2007
Tebal Buku: vi + 136 halaman

Bulan Ramadhan—seperti apa yang tertera dalam kitab suci umat islam—merupakan bulan dimana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan para iblis yang menggoda manusia dirantai. Dalam ajaran Islam, berpuasa pada bulan Ramadhan hanya diperuntukkan bagi Allah swt dan merupakan bagian dari iman serta separuh dari keseluruhan tindakan sabar manusia.

Dalam al-Quran pun dijelaskan bahwa Allah swt telah menjanjikan untuk bertemu dengan orang yang berpuasa di Surga kelak. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa apabila datang bulan Ramadhan, Rasulullah saw kerapkali berseru, “Selamat datang wahai yang menyucikan.” Para sahabat pun terkejut lantas bertanya, “Siapakah gerangan yang menyucikan itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Yang menyucikan itu ialah bulan Ramadhan, Dia menyucikan kita dari dosa dan maksiat.”

Saat ini, panggilan “yang menyucikan” itu telah menggema di tengah-tengah berjuta-juta umat Islam diseluruh dunia, seperti yang tertuang dalam QS al-Baqarah ayat 187, yakni “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. Sayyid Mohammad Rasyid Ridha dalam kitab Tafsir Al-manarnya menafsirkan ayat ini sebagai isyarat bahwa faedah dan hikmah tertinggi puasa adalah mempersiapkan jiwa orang yang berpuasa mencapai derajat takwa kepada Allah. Jangan sampai kita menyia-nyiakan bulan yang mulia ini, kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk melaksanakan ibadah sebaik mungkin disertai dengan ibadah penunjang lainnya serta berbagai perbuatan-perbuatan baik (’amalus shalih) lainnya.

Dalam konteks ini, Dr. A’idh al-Qarni, MA, seorang seorang ulama kenamaan Arab, melalui buku yang berjudul asli “aqbalta yaa ramadhan” ini, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif tentang berbagai persiapan dan upaya yang harus ditempuh dan dijalani oleh seorang yang akan berpuasa agar puasa yang ia jalankan itu tidak sekadap lapar dan dahaga saja. Selain itu, al-Qarni dalam buku ini juga mengajak pembaca untuk mengali makna-makna terpendam dalam bulan ramadhan yang selama ini banyak terlupakan orang. Termasuk menelusuri jejak puasa dan rutinitas Nabi dan para sahabat dalam bulan ramadhan.

Puasa (shaum) menurut al-Qari memiliki beberapa makna dan pengertian, pertama, puasa merupakan sarana dan jalan menuju takwa kepada Allah swt. Kedua, puasa merupakan sarana untuk mengingatkan kita kepada kemiskinan dan kefakiran, yang tak pernah diketahui orang-orang kaya. Ketiga, puasa memiliki makna sebagai wahana untuk berubah secara total pada setiap hamba. Hal ini hampir senada dengan pengertian puasa yang kita pahami sehari-hari, bahwa puasa merupakan upaya untuk menahan diri dari makan, minum, dan melakukan kegiatan seksual, serta hal-hal lain sejenis dari terbit fajar sampai maghrib dengan disertai niat mengharap ridha Allah swt. Namun, tampaknya pengertian yang diuraikan al-Qarni diatas lebih memiliki kedalaman makna ilahiah.

Dalam konteks yang lebih luas, berpuasa bukan sekadar bertapa, bukan pula suatu tindakan penolakan diri terhadap keduniaan dan kehidupan dengan beranggapan bahwa keduniaan dan kehidupan itu hina dan menyesatkan. Puasa dalam hal ini lebih sebagai latihan untuk menguasai diri, dalam artian bahwa puasa merupakan media kontrol terhadap manusia dalam interaksi sosial di masyarakat.

Selanjutnya kalau kita melihat literatur-literatur klasik mengenai puasa dalam agama-agama samawi, kita akan menjumpai penggunaan kata yang sama, yakni shaum, untuk praktik puasa. Shaum dalam berbagai agama dimaknai sebagai menghentikan tindakan makan minum dan sekaligus ekspresi rasa penyesalan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Bagi seorang Muslim, ibadah puasa Ramadhan bisa dimaknai pada dua tataran; Pertama, pada tataran individual, puasa adalah riyadhah, latihan jiwa yang dilandasi kepasrahan seorang mukmin untuk mencapai derajat muttaqin. Puasa merupakan ibadah yang dilakukan atas kesadaran dan kehendak bebas dalam meningkatkan ketakwaan. Hal itu dilakukan semata-mata demi Allah. Ibadah puasa memberikan perasaan mengharap dan pandangan hidup yang positif di dunia dan di akhirat dalam diri orang yang bertakwa. Selain itu, puasa juga menanamkan sikap disiplin.

Disiplin ini akan menjadi lebih mudah kalau orang meningkatkan kekuatan kehendak dan mengatur diri kepada sikap pertengahan (moderat) melalui pengendalian diri. Menurut Imam Al-Ghazali, ibadah puasa adalah milik Allah karena merupakan alat untuk memerangi musuh Allah yaitu ego manusia yang bekerja lewat nafsu dan amanah yang tak semestinya. Dalam Asrar ash-Shaum (Rahasia Puasa), Imam Al-Ghazali mengatakan, “Puasa adalah satu-satunya ibadah yang tak dapat dilihat oleh orang lain melainkan Allah karena merupakan amalan batiniah yang dilakukan dengan pertahanan dan kesabaran yang sungguh-sungguh.”

Pada tataran kedua, yakni dalam konteks sosial, bahwa nilai-nilai moral dan nilai-nilai spiritual yang dibangun dan ditingkatkan di bulan puasa adalah semangat persaudaraan, keadilan, dan kejujuran. Semangat ini timbul dari kemampuan mengendalikan hawa nafsu melalui disiplin diri secara tulus. Dengan pengembangan nilai-nilai ini, kita mampu memahami penderitaan orang lain. Orang menjadi lebih terdorong untuk membantu sesama dan menyantuni kaum lemah serta membela mereka yang tak berdaya. Dengan demikian, ramadhan bisa dijadikan sebagai “kesempatan baru” untuk melakukan “perubahan batin”. Melalui perubahan batin inilah, kita mempelajari makna kehidupan yang dilandasi kejujuran, kedermawanan dan kerendahan hati, sehingga derajat ketakwaan yang hakiki akan benarbenar kita raih.

Dengan menggunakan metode perenungan, muhasabah (introspeksi) yang tenang dan bahasa yang teduh dan mengalir, al-Qarni melalui buku setebal 136 halaman ini telah memberikan mata air kepada kita untuk mempersiapkan diri secara matang dalam mengarungi samudera kemulyaan bulan ramadhan.

*Pecinta buku dan pemerhati Keagamaan pada Center for Studies of Religion and State [CSRS] Yogyakarta.

Sumber: http://www.gp-ansor.org