Tak Ada Perubahan, Muhammadiyah Tetap Lebaran 12 Oktober

Jakarta (03/10) – Muhammadiyah tetap pada pendirian bahwa Idul Fitri 1428 H jatuh pada 12 Oktober, sementara Nahdhatul Ulama (NU) baru menetapkan jatuhnya lebaran usai sidang isbat yang digelar Departemen Agama 11 Oktober. “Secara ilmu, 1 Syawal 1428 jatuh pada 12 Oktober,” kata Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pengurus Pusat Muhammadiyah Susiknan Azhari usai pertemuan di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (2/10).

Susiknan menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi dalam menentukan jatuhnya Idul Fitri 1428 H. Sementara itu Ketua LFNU, KH Ghozalie Masroeri menyatakan, pihaknya memakai metode hisab sebagai patokan untuk melaksanakan rukyat (melihat bulan). Keputusan jatuhnya lebaran tergantung hasil rukyat.

Difasilitasi Depag, sejumlah pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah bertemu dengan pengurus Lajnah Falakiah NU guna berdialog mengenai awal bulan Qomariah pada penanggalan Islam (Hijriah).

Pertemuan tersebut turut dihadiri Menag Maftuh Basyuni, Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. Nasaruddin Umar, serta Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Pertemuan yang merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya di Kantor Wakil Presiden (30/9), dimaksudkan pula untuk mencari titik temu dalam menentukan Idul Fitri.

Sebelumnya Nasaruddin menyatakan, penentuan akhir Ramadhan menjadi sangat penting karena bukan semata soal pranata, melainkan ujung-ujungnya pada urusan halal atau haram. Karena itu, katanya, masyarakat awam menjadi bingung ketika menemui kenyataan adanya perbedaan di dalam penentuan hari raya Idul Fitri.

Sementara Hasyim Muzadi menyatakan, sudah semestinya umat diberitahu bahwa perbedaan tidak selalu berarti bertentangan sehingga umat boleh memilih. “Kadang-kadang saya malu sebagai umat Islam. Orang Barat sudah sampai (mendarat) di bulan, kita umat Islam berkutat di urusan mengintip (bulan) saja,” katanya.

Sedangkan Menag Maftuh Basyuni menegaskan kembali bahwa pemerintah baru mengumumkan jatuhnya Idul Fitri usai sidang isbat yang diikuti sejumlah ormas Islam dan duta besar dari negara-negara Islam. (AM Hasan)

Sumber: http://www.nu.or.id