Venezuela Bela Iran, Kecam Kebijakan Munafik AS

New York (3/10) – Menteri Luar Negeri Venezuela Nicolas Maduro, Selasa, memanfaatkan podium Sidang Majelis Umum di New York untuk membela Iran dan mengecam kebijakan munafik Washington mengenai terorisme.

Ia mengecam meningkatnya aksi media internasional yang bertujuan menjadikan pemerintah dan rakyat Iran sebagai momok dan menyerukan diakhirinya kegilaan perang di Irak.

Maduro, yang merujuk kepada pernyataan yang mengancam perdamaian rakyat Iran, mengatakan sudah tiba waktunya “untuk menghentikan kampanye guna menciptakan momok ini …, untuk membina aliansi guna menghentikan kegilaan elit gila perang yang menguasai Amerika Serikat”.

Washington belum mengesampingkan penggunaan kekuatan militer guna memaksa Iran, yang diduga sedang berusaha memperoleh senjata nuklir, untuk menghentikan kegiatan bahan bakar nuklir sensitifnya sebagaimana dituntut oleh Dewan Keamanan PBB.

Maduro menggantikan presidennya, Hugo Chavez, yang mengumumkan pada saat terakhir bahwa ia takkan pergi ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.

Pekan lalu, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengunjungi Caracas untuk mengadakan pembicaraan dengan Chavez, dalam kunjungan-mini sekutu anti-AS yang juga membawanya ke Bolivia. Ia melakukan kunjungan tersebut setelah mengunjungi New York untuk berpidato di Sidang Majelis Umum.

Venezuela dan Bolivia telah mencapai kesepakatan dagang dan bantuan dengan Iran, terutama dalam sektor energi.

Maduro juga mencela kebijakan munafik Washington mengenai perang melawan terorisme, sementara pada saat yang sama melindungi “salah satu teroris paling berbahaya”, tokoh militan Kuba anti-Castro, Posada Carilles.

Menteri itu menyampaikan kembali permintaan Caracas bagi ekstradisi Posada, mantan agen Dinas Intelijen Pusat AS (CIA) yang dicari oleh Havana dan Caracas sehubungan dengan pemboman pada 1976 terhadap satu pesawat Kuba sehingga menewaskan 73 orang.

Posada, kata Maduro, bebas dan dilindungi oleh pemerintah AS di Florida. “Teroris ini telah bertugas untuk CIA selama 40 tahun,” katanya.

Maduro mengatakan ia telah meminta bantuan komite kontra-terorisme di Dewan Keamanan dalam upaya menjamin ekstradisi Posada sehingga ia dapat diadili di Venezuela.

Posada (79) dibebaskan dari penjara Mei lalu oleh seorang hakim Teksas yang menolak dakwaan pelanggaran imigrasi yang diajukan terhadap dirinya pada Mei 2005, setelah ia ditangkap karena “diduga memasuki Amerika Serikat secara tidak sah”.

Pemerintah AS telah menolak untuk mengabulkan permintaan ekstradisi dari Venezuela dan Kuba, tempat Posada juga dicari sehubungan dengan pemboman pesawat pada 1976, dengan mengutip konvensi PBB yang “melarang deportasi ke negara yang menggunakan bentuk penyiksaan atau pelanggaran hak asasi manusia secara terang-terangan”.

Kuba juga menuduh Posada merencanakan beberapa upaya pembunuhan terhadap Presiden Kuba Fidel Castro, dan meledakkan bom di beberapa hotel Havana pada 1997.

Warganegara Venezuela kelahiran Kuba tersebut belum divonis di Amerika Serikat karena kasus serangan, meskipun dewan juri di New Jersey dilaporkan sedang menyelidiki perannya dalam pemboman satu hotel di Havana pada 1997 sehingga menewaskan seorang wisatawan Italia.

Meskipun kata-katanya menyerang Washington, Maduro, Senin malam, bertemu dengan Asisten Menteri Luar Negeri AS Urusan Bumi Belahan Barat Ton Shannon di misi Venezuela di PBB guna membahas ujicoba hubungan bilateral, demikian AFP.