MUI: Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat

Jakarta (04/10) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah sesat dan meminta pemerintah melarang penyebaran paham baru tersebut serta menindak tegas pemimpinnya. “Masyarakat perlu mewaspadai aliran yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq ini karena mengajarkan adanya nabi baru sesudah Nabi Muhammad dengan menobatkan dirinya sebagai nabi terakhir itu,” kata Ketua MUI KH Ma’ruf Amin di Kantor MUI di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis.

Aliran sesat tersebut juga mengajarkan Syahadat baru yakni Asyhadu alla ilaha illa Allah wa asyhadu anna Masih al-Mau’ud Rasul Allah, di mana tidak beriman kepada al-Masih al-Mau’ud berarti kafir dan bukan muslim.

Pendirinya Ahmad Moshaddeq, yang sejak 23 Juli 2006 setelah bertapa selama 40 hari 40 malam mengaku dirinya mendapat wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul menggantikan posisi Muhammad SAW.

Selain itu, ujar Ma’ruf, aliran baru ini tak mewajibkan shalat, puasa dan haji, karena pada abad ini masih dianggap tahap perkembangan Islam awal sebelum akhirnya terbentuk Khilafah Islamiyah.

Kitab Suci yang digunakan adalah al Qur’an tetapi meninggalkan hadist dan menafsirkannya sendiri. Aliran ini juga mengenal penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang kepada al-Masih al-Mau’ud. Dakwah aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini disebutkannya, cukup mengkhawatirkan karena telah menyebar ke beberapa provinsi antara lain di Jabar, Jakarta, Yogyakarta dan tercatat ribuan orang mengikuti dakwahnya.

MUI menyatakan bahwa aliran ini berada di luar Islam dan orang yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari ajaran Islam). “Bagi mereka yang sudah terlanjur mengikutinya diminta bertobat dan segera kembali kepada ajaran Islam yang sejalan dengan Quran dan hadist,” katanya.

Aliran sesat tersebut, tambah Ma’ruf, telah terbukti menodai dan mencemari ajaran Islam karena mengajarkan sesuatu yang menyimpang dengan mengatasnamakan Islam. Dalam foto-foto yang dibeberkan MUI, di depan pengikutnya Ahmad Moshaddeq menggunakan sayap layaknya gambar dewa-dewa dalam literatur Yunani. (ant/mad)

17 thoughts on “MUI: Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat”

  1. ass.. saya turut prihatin dgn adanya aliran baru yg konyol lagunya, segala ngaku nabi lagi, mendingan ngaku dajjal..!! dasar ahmad moshaddeq orang dagglog, gebbleg, gila sungguh terlaaaluuuuuuuuuuh…..!!!

  2. hai… para pembaca klo emang sekiranya mau diadakan penyerangan ane siap lahir batin karna golok ane yg bernama sirenggo udah lama ga nguyup darah wasallam… yg punya sirenggo.”

  3. menurut saya ajaran tersebut perlu ditindak dan diberantas agar tidak ada lagi penodaan agama islam. karena ajaran tersebut telah menyimpang jauh dengan ajaran yang diberikan oleh nabi MUHAMMAD SAW dengan tidak mengijinkan penganut ajaran tersebut untuk menyebar luaskan ajaran sesat ini kepada masyarakat luas

  4. Assalamu’alaikum Wr. Wb, Kami dari kampung yang jauh dari keramaian kota, tetapi takut juga mendengar berita ini tolong Email ke kami tanda-tanda/ciri khusus pengikut Ahmad Mushaddeq, kekawatiran kami karena masyarakat Kami sangat ketinggalan dalam perkembangan Ilmu Agama, sebatas melakukan kewajiban, Shahadad, Sholat, Zakat, Puasa, saja dan mudah juga menerima ajaran dengan Ayat-ayat Islam tanpa memperhatikan Keshohihan Hadist Nabi tersebut, atau minta tolong, ada Yang mau berdakwah secara islami di daerah kami, agar kami tidak sesat ……. alamat; Desa Sidorejo, Kec. Kemalang Kab. Klaten Jawa Tengah, terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr.Wb,

  5. ini cuma aliran orang gila aja kaleeeeeeeeeeeeeeeeeeee, secepatnya dibawa kerumah sakit jiwa aja yaaaaaaaaaaaaaa

  6. goblok, kaya orang ga ber agama aja, yang ada malah ngajakin ribut tuh, malu maluin Islam aja, tolong lah pihak yang berwajib, kirim semua orang-orang al-qiyadah al-islamiyah ke neraka jahiliah secepetnya, hari gini masih ngaku nabi, BASI

  7. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Menyikapi aliran al-Qiyadah al-Islamiyah, yang dipimpin oleh Ahmad Mushoddeq.

    Dalam sejarah kenabian Muhammad SAW, beliau pernah dianggap sebagai orang yang “benar-benar gila” oleh masyarakat kafir Makkah (Quraisy) ketika beliau menyatakan dirinya sebagai Rasulallah yang diutus sebagai penyempurna ajaran di akhir zaman. Beliau juga dianggap menyesatkan karena telah mengajarkan sesuatu yang baru dan bertentangan dengan tradisi nenek moyang. Akibatnya, beliau memutuskan untuk berhijrah dari kota Makkah. Hal ini beliau lakukan untuk menghindari ancaman secara psikis dan fisik dari penguasa kafir Makkah (Quraisy), serta untuk mencari perlindungan kepada pemerintah yang akomodatif (demokratis).

    Kasus Ahmad Mushoddeq, yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai “kegilaan spiritual”, adalah sebuah hal yang wajar, apalagi jika hal ini dilihat dalam persepektif sosial kemasyarakatan (sosiologi).

    Klaim keagamaan, seperti “kafir, masuk neraka, dan kekal didalamnya” bukanlah sebuah produk daripada interaksi sosial kemasyarakatan, akan tetapi menjadi sebuah dogmatisme agama yang memang telah tersistem. Agama manapun, mempunyai klaim keagamaan tersendiri, dan itu menjadi sebuah hak dan keyakinan bagi para penganutnya. Sementara tugas kita hanyalah menghargainya.

    Negara (Yudikatif), sebagai penengah dalam segala sengketa, selayaknya dapat bersikap netral dan mengakomodasi semua kepentingan masyarakatnya, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ketika menjadi pemimpin Madinah. Pemerintah tidak berhak untuk menstigmatisasi kegiatan keagaamaan penduduknya sebagai kegiatan keagamaan yang “sesat, kafir dan lain sebagainya”.

    Di Indonesia, saat ini telah mengikuti sistem yang telah diterapkan oleh pemimpin kafir Makkah dengan menerapkan sistem keagamaan tunggal (yang dilegalisir oleh pemerintah). Jika tidak, maka ajaran, aliran, dan sekte bersangkutan akan dianggap sesat dan akan diproses secara hukum.

    Permasalahannya adalah:
    1. Jika otoritas tersebut dipegang dan dijalankan oleh pemerintah, maka posisi agama, keyakinan, aliran dan sekte berada dibawah kendali pemerintah. Sementara, memeluk agama, meyakini dan menjalankan agama sesuai dengan keyakinan adalah JAMINAN UUD 1945 Pasal 28E, 29, UU No. 39 tahun 1999 dan UU No. 12 Tahun 2005, serta menjadi jaminan al-Qur’an (QS. al-Kafirun). Artinya kebebasan ini adalah kebebasan paling asasi bagi penduduk Indonesia dan manusia secara universal yang tidak dapat diatur oleh siapapun, tanpa terkecuali.

    2. Stigmatisasi “sesat, kafir, masuk neraka dll.” adalah menjadi otoritas wahyu yang diyakini oleh masing-masing individu. Dan seharusnya dijamin oleh Negara, bukan justru harus diberantas dan/atau dianggap sesat. Menjamin kebebasan beragama, berkeyakinan dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan adalah dengan melindungi ajaran dan penganutnya dari ancaman psikis dan fisik dari penganut ajaran lain.

    Dengan demikian, pencitraan sesat terhadap aliran al-Qiyadah al-Islamiyah adalah sikap pemerintah yang tidak akomodatif dan merupakan bentuk provokasi terhadap umat beragama untuk saling menghujat, akibat yang mengancam adalah bentrok fisik yang dilakukan oleh pengikut masing-masing ajaran.

    Dalam konteks Indonesia, persoalan tuduhan “sesat, kafir, masuk neraka dll” atas kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah harus diselesaikan dengan jalan dialog. Jika tidak, maka negara (dalam hal ini pemerintah sama halnya dengan para pemimpin kafir Quraisy) yang menindas orang-orang yang tidak sepaham, mendzolimi, mengekang, dan memaksaan kehendak sektarian seperti yang dahulu pernah dirasakan oleh Rasulullah SAW dalam menyampaikan berita kerasulannya. Wallahu A’lam.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

  8. Assalamu’alaikum wr.wb.

    Dalam sejarah kenabian Muhammad SAW beliau adalah pemegang tongkat estapet terakhir para Nabi dan Rasul. Sudah jelas dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan dan menerangkan bahwa tidak ada Nabi lain lagi setelah Nabi Muhammad SAW.

    Kebebasan beragama bukan berarti mendirikan agama diatas agama, islam sudahlah jelas shalat, puasa dibulan ramadhan adalah wajib dan menunaikan ibadah haji jika mampu, Rosul Muhammad Saw adalah rosul terakhir. Tidak ada perdebatan lagi mengenai agama islam (terutama 5 rukun islam ) kecuali orang yang tidak tau tentang islam dan silahkan anda mempelajari islam seutuhnya.

    Dan jika aliran ini ingin mendirikan agama baru di indonesia (agama dengan rosul baru) silahkan minta izin ke presiden karena agama yang diakui di negara ini hanya ada 5.

    Bpk. M. Budi Setiawan mungkin anda belum memahami makna dan konsep rukun iman dan rukun islam.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

  9. klo menurutku Al-Qiyadah Al-Islamiyah tu gak kreatif, kalo memang bikin konsep keagamaan baru ya jangan Niru/Mbajak miliknya orang. dalam islam tu ud jelas ALLah tuhannya dan Muhammad rosulnya jangan diganti-2. kalo masih tetep pengen ganti ya jangan pake istilah Islam. tu nyatanya Gak Cerdas!

    oh ya Jangan merusak Pemahaman Orang yang sudah Mapan, kalo anda dituduh SESAT ya pantas. lawong gk kreatif, ber-Islam tapi anda Menyelewengkan. Lawong Mbajak Lagu saja dilarang apalagi Membajak AGAMA…? tul gak ..?

  10. Assalamualaikum Wr. Wb.

    Terima kasih atas sanggahan Saudara Digo.

    Entah untuk keberapa kalinya, tudingan kafir (pentakfiran) terjadi kepada kelompok aliran atau individu yang “tidak sepaham”. Kini kelompok al-Qiyadah al-Islamiyah beserta jamaahnya yang menjadi sasarannya. Kita bisa bayangkan, bagaimana perlakuan kelompok yang mengaku “paling benar” terhadap kelompok minoritas tersebut. Kafir, sesat, masuk neraka, dan kekal di dalamnya, mungkin itulah yang akan dilontarkan. Dan tidak ketinggalan sedikit menggunakan otot dan senjata untuk memeranginya.

    Melihat fenomena ini, mari kita kembali kepada istilah ijtihad. Jika ijtihad kita maknai kembali sebagai “kebebasan berpendapat”, maka aspek yang penting untuk kita pikirkan dalam diskursus soal ijtihad adalah masalah perlindungan atas hak itu. Praktek pengkafiran dan pembid’ahan berlawanan dengan semangat ijtihad sebagai kebebasan berpendapat. Dalam pengertian yang baru ini, ijtihad telah masuk dalam kategori “civil right” yang tidak bisa dibatalkan oleh siapapun. Aliran al-Qiyadah al-Islamiyah adalah korban tuduhan tersebut karena mengajukan interpretasi yang berbeda mengenai isu-isu tertentu dalam agama.

    Sejarah juga mencatat bagaimana Imam Ibnu Hambal dipenjara dan dianiaya akibat pendapatnya bertentangan dengan interpretasi pemerintah mu’tazilah terhadap wahyu. Dalam mainstream Islam otoritas itu dianggap sesuatu yang naif. Maenstream Islam adalah otoritas agama terdesentralisasi sedemikian rupa pada pribadi pribadi tokoh (ulama) atau pada organisasi-organisasi keagamaan, yang satu sama lain bisa berbeda fatwa atau bahkan saling menolak.

    Yang kemudian menjadi pokok pembahasan adalah aturan interpretasi ulang terhadap teks dan jaminan atas hak interpretasi. Jika permasalahannya terletak pada hal tersebut, maka pertanyaan saya, kenapa hal ini terjadi? Kenapa kemudian pentakfiran dan sikap anarkis lebih diutamakan? Bukankah jalur dialog akan lebih efektif? Bukan justru dengan membuat stigma baru yang implikasinya pada sikap anarkisme massa.

    Menjadi kewajiban pemerintah yang Islami adalah tetap melindungi hak warganya dengan cara menciptakan keamanan. Permasalahan sesat atau tidak, kafir atau bukan, masuk neraka atau surga adalah menjadi sebuah diskursus pemikiran otoritas agama. Sedangkan permasalahan aliran keyakinan al-Qiyadah al-Islamiyah hanyalah permasalahan hak untuk berijtihad (dalam kerangka pemikiran Islam -bukan urusan Negara-). Kepentingan Negara hanya pada penindakan kepada siapapun yang dicuriagai melakukan tindakan kriminal, tentunya harus tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan dan keadilan.

    Sementara otoritas perizinan pendirian agama kepada pemerintah (Negara), seperti apa yang disampaikan sahabat Digo adalah pernyataan yang tidak beralasan. Hidup beragama adalah pilihan warga, hal tersebut juga harus dilindungi oleh pemerintah. Lalu bagaimana jika agama atau keyakinan yang dipilih warga tidak diakui. Apakah kemudian keyakinan tersebut harus dipaksakan pada agama atau keyakinan yang diakui Negara. Jika demikian yang ditawarkan sahabat Digo, maka seperti yang penulis katakan, sungguh hal yang demikian adalah termasuk pada perilaku penguasa kafir Makkah (Quraisy) kala itu. Serta merupakan bentuk daripada intervensi Negara terhadap agama yang benar-benar suci. Wallahu a’lam.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

  11. Aku hanya faham beberapa ayat AL-QUR’AN.

    Sepengetahuanku, jika orang mengucap SAHADAT itu belum ISLAM baru berikrar masuk ISLAM (islam yang dibawa Muhammad SAW).

    Orang telah ISLAM jika “bersahadat, menjalankan sholat, mebayar zakat, berpuasa, naik haji” tentu dgn tatacara/aturan/ kadar/syarat2 yang dituntunkan Muhammad SAW.

    Sahadat adalah IKRAR: MAU-atau-TIDAK harus mengakui keESAan ALLAH dan mengakui Muhhamad sebagai utusan Allah.

    Mengakui Muhammad sbg Rosulullah artinya MAU-atau-TIDAK harus mengkikuti TUNTUNANnya.

    AL-QUR’AN melalui Rosulullah menyempurnakan agama Islam yang dibawa nabi2 sebelumnya, artinya jika kita mengakui Rosulullah artinya harus mengakui adanya Nabi2/Rosul+Kitab2 sebelumnya yang juga menyerukan Islam. Dan seruan2 tersebut sudah dilebur menjadi satu ALQUR’AN yg notabene “sebagai penyempurna yang ada”. Dengan menjalankan perintah AL-QUR’AN berarti juga menjalankan perintah2 kitab2 yg di bawa Nabi/Rosul sebelumnya.

    Demi hari pembalasan, jika ada IKRAR kerosulan baru berarti bukan ISLAM, berarti agama baru + BUNTUTnya akan ada kitab/tutunannya baru dikemudian hari…(maka sebelum tersesat tinggalkan) dan ALLAH telah menyatakan “tidak ada lagi rosul + tentunya kitab2 baru, setelah Muhammad SAW”.

    Jika NDOMPLENG yang ada perlu dipertanyakan… apalagi jelas menghilangkan pilar2 yg mensyaratkan “sehingga disebut ISLAM” maka perlu dipertanyakan..

    Agar umat Islam tidak SAK UDEL LE DEWE menafsirkan AL-QUR’AN: Muhammad Rosulullah memberikan TOULADAN & TUNTUNAN langsung, dalam rangka mengimplementasikan perintah2 & larangan yg ada dalam ALQURAN (agar umatnya tidak banyak tafsir) melalui hadis2nya.

    Melalui hadis2, Muhammad SAW mengajarkan secara rinci kepada umatnya tatacara SHOLAT,ZAKAT,PUASA, HAJI, dll. yang diperintahkan ALQUR’AN. Untuk memperbaiki KAUM YG RUSAK (semoga tidak terjadi keruskan lagi), Muhammad juga mengajarkan tuntunan AKLAQ yang meliputi seluruh kehidupan di dunia dan langsung dipraktekan kepada diri sendiri, keluarga dan lingkungannya (umatnya).

    Artinya, Nabi BARU (mengakui AL-QUR’AN) tentunya juga mengajarkan bagaimana cara: silaturahmi, cara menghormati orang tua, menghormati tetangga, cara berdebat, berpakaian, cara nyisir rambut, cara nyemir rambut, cara makan, cara berpergian, cara bernegara, cara menjadi pemimpin, menghitung zakat, menyantuni orang miskin, cara tidur, cara nongkrong di jalan, cara perang, cara menangani mayat, dll…buanyaaaaaaaaaaaaakkk lagi! Tentunya, dgn TUNTUNAN YANG RINCI – SEBAGAI IMPLEMENTASI DARI PERINTAH2 di dalam ALQURAN – SEHINGGA TIDAK SALAH TAFSIR.

    Setahuku, Allah melalui ajaran dalam AL-QUR’AN dan hadis2, orang Islam dilarang menyakiti orang, termasuk meninggalkannya, walaupun tidak seiman. (di TV banyak berita, setelah seseorang bergabung AL-Qiyadah banyak yg meninggalkan orangtua karena dianggap kafir). Setahuku, ALLAH tidak rugi sedikitpun “KITA ini mau beriman atau tidak” tugas kita hanya mengajak kebaikan (jika mau).

    Semoga, kita tidak TERJERUMUS ALIRAN SESAT, sehingga di dunia dilaknat umat, diburu seperti lalat, dicacimaki… seperti pengkianat dan ketika “sekarat!” .. dipencet liang “lahat”… sampai di akhirat…. (itulah pemahamanku yg hanya faham beberapa ayat AL-QUR’AN).

    Jika setuju ikutilah, jika tidak jangan disanggah… SUDAH CUKUP JELAS MANA YANG BENAR DAN MANA YG SALAH… tidak perlu diperdebatkan.

  12. Ass
    Menurut saya, yang masih bayi bgt bljr Islam
    Untuk bpk Setyawan, saya jg orang sosiologi (meskipun baru belajar)
    Dan, menurut pandangan saya, orang dapat menginterpretasikan agamanya jika ia hidup di negara Liberal. Sementara kita hidup di negara yang ber-hukum, yang ber-adat. Dimana aturan2 tentang sebuah adat dan agama telah diyakini dan dipegang kuat oleh para pemeluknya. Jadi, apabila ada penyimpangan, tentu harus segera “diluruskan”. Baik secara coercif maupun sebaliknya.
    Begitu.
    Syukron.

  13. Nabi palsu dengan sahadat palsu, memproklamirkan menjadi rosul bukan barang baru, secara umum harusnya masyarakat paham, ternyata ada saja yang menjadi pengikutnya.

    Lihat saja Syahadatnya orang2 jerman, amrik, italia, jerman yang baru masuk islam di web video dibawah ini, serta liputan tv CNN ada kilasannya di Amerika yang menayangkan ucapan sahadat dari para bule2 yang masuk Islam :

    http://khansamedia.bravehost.com/video.htm
    http://khansamedia.bravehost.com/video2.htm

    Semoga bisa menjadi pelajaran yang berguna, dan semangat keislaman yang muncul, agar bisa menjalankan agama secara baik dan tidak memperburuk masalah yang sudah banyak, sehingga tiap muslim bisa menjadi contoh bagi kalangan lain bagaimana berislam yang benar, yakni sesuai dengan Qur’an dan Sunnah

  14. Posting yang bagus sekali.

    Memang organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.

    Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.

    Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.

    Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.

    Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.

    Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, tapi rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.

    Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjata api polisi itu tidak ada artinya.

Komentar ditutup.