Khalifah Tuhan dan Tujuan Pendidikan (QS. Al-Baqarah/2: 30)

Oleh: Ahmad Nurcholish

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumopahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah/2:30)

Sehubungan dengan fungsi manusia sebagai deputi (khalifah atau wakil) di bumi ini, al-Quran menjelaskannya melalui surat Hud/11: 61:

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Ayat ini memberikan pengertian bahwa manusia yang dijadikan khalifah oleh Allah, bertugas memakmurkan atau membangun bumi sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah.

Atas dasar itu, maka tujuan pendidikan dalam al-Quran adalah manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah yang dalam bahasa al-Quran itu sendiri kerap menyebutnya dengan bertakwa kepada Allah. (Muhammad Quthub, Minhaj al-Tarbiyyah al-Islamiyyah, 1980:13).

Kekhalifahan mengharuskan adanya empat sisi yang saling berkaitan, yakni: (1) pemberi tugas, dalam hal ini Allah swt; (2) penerima tugas, dalam hal ini manusia secara perorangan atau kelompok; (3) tempat atau lingkungan di mana mereka berada; (4) materi-materi penugasan yang harus mereka laksanakan. (Muhammad Baqir Ash-Shadiq, Al-Madrasah al-Qur’aniyyah wa al-Sunnah al-Tarikhiyyah fi al-Qur’an al-Karîm, 1980: 128).

Tugas kekhalifahan tersebut tidak akan berhasil, apabila materi penugasan tidak dilaksanakan, dan kaitan antara penerima tugas dan lingkungannya tidak diperhatikan. Khususnya menyangkut kaitan antara penerima tugas dan lingkungannya, harus diketahui bahwa corak hubungan tersebut dapat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Oleh karenanya, menurut Umar Shihab (Kontekstualitas al-Quran, 2003:157), penjabaran dari tugas kekhalifahan harus sejalan dan diangkat dari dalam masyarakat itu sendiri.

Para pakar ilmu pendidikan telah sepakat bahwa pendidikan suatu masyarakat tidak dapat diimpor dari atau ke masyarakat lain, tetapi pendidikan harus diangkat dari tatanan kehidupan masyarakat itu sendiri.

Pendidikan adalah pakaian yang harus diukur dan dijahit sesuai dengan bentuk dan ukuran pemakainya, berdasarkan identitas, pandangan hidup, serta nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat tersebut. (Ali Khalil Abu al-‘Ain, Falsafah al-Tarbiyyah al-Islamiyyah fi al-Qur’an al-Karîm, 1980: 179).

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan yang diinginkan al-Qur’an adalah membentuk manusia seutuhnya, yakni, mewujudkan manusia-manusia cerdas, berbudi luhur, dan terampil, sehingga mampu memperseimbangkan antara kepentingan dunia dan akhiratnya, serta memadukan antara ilmu dan iman yang dimilikinya, sebagai suatu keutuhan yang paling menunjang.

Itulah sebabnya dalam dunia pendidikan Islam, dikenal istilah adâbud-dîn dan adâbud-dunyâ. (Muhammad Fadhl alJamali, Falsafah al-Tarbiyyah al-Qur’an, t.t.:13).

Adâbud-dîn adalah hasil pembinaan akal dan jiwa manusia yang melahirkan kecerdasan dan budi pekerti yang luhur. Sedang adâbud-dunyâ adalah hasil pembinaan jasmani yang melahirkan berbagai macam keterampilan.

Kedua hal itulah yang menjadi bekal bagi manusia untuk melaksanakan tugasnya sebagai deputy Tuhan di bumi. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.syirah.com

2 thoughts on “Khalifah Tuhan dan Tujuan Pendidikan (QS. Al-Baqarah/2: 30)”

Komentar ditutup.