Belajar Islam Bersama Gus Dur

Peresensi: Hendri Anak Rahman
Judul Buku:
Islamku Islam Anda Islam Kita Agama Masyarakat Negara Demokrasi
Penulis: Abdurrahman Wahid
Penerbit: The WAHID Institute

Ada empat tokoh simbolik yang bisa dijadikan rujukan jika ingin melihat peta pemikiran Islam di Indonesia. Mereka adalah Nurcholis Madjid yang juga dikenal dengan nama Cak Nur, (almarhum) mewakili pemikiran liberal. Amien Rais bercorak modernis dengan akar Muhammadiyah. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan pemikiran tradisional yang dijewantahkan oleh Nahdatul Ulama (NU) dan Jalaluddin Rahkmat atau dipanggil Kang Jalal dengan pemikiran sufi-nya.

Memang di kalangan masyarakat awam akan susah menerima ketika ada pembaharuan dalam melihat eksistensi agama. Ini disebabkan karena cara datangnya Islam sebagai sebuah agama kepada seseorang bukan dalam taraf pencarian. Akibatnya, ajaran yang disampaikan seorang guru di masa kecil dianggap sebagai sebuah kebenaran dalam beragama.

Padahal maaf, ketika kita menghayati satu bentuk ajaran agama, dengan sendirinya kita sudah menganut satu paham dari mazhab yang ada. Dan ini akan dipengaruhi oleh siapa yang membawa Islam ke sebuah wilayah itu. Jika para Walisongo dulu banyak mendapatkan pendidikan dari mazhab Syafi’i, maka dengan sendirinya ajaran yang dikembangkan ke masyarakat adalah ajaran dengan mazhab Syafi’i. Begitu juga selanjutnya.

Islam bukanlah sebuah ajaran yang diwakili oleh mazhab. Ini menjadi bias ketika kita bicara tentang Islam secara utuh dengan merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Bukankah mazhab itu hanya sebuah pemikiran dari seorang ulama kemudian diajarkan kepada muridnya.

Tidak salah, ketika Gus Dur mencoba memberikan tafsiran ulang terhadap konsep beragama dalam bukunya Islamku Islam Anda Islam Kita; Agama Masyarakat Negara Demokrasi yang diterbitkan The WAHID Institute, bulan Agustus 2006 lalu. Buku ini pernah didiskusikan di SCTV dengan nara sumber langsung sang penulis.

Buku ini menjadi menarik, karena Gus Dur memberi jarak bahwa Islam yang dipahaminya tidak sama dengan Islam yang dipahami orang lain. Namun di sisi lain, kita juga bisa memahami Islam secara bersama-sama. Islamku Islam Anda Islam Kita memberi makna pluralitas dalam beragama dimana tidak ada satu Islam, Islam adalah multi wajah, wajah manusiawi (hal vii).

Kata pengantar yang diberikan M. Syafi’i Anwar seperti menjadi penuntun bagi pembaca untuk melihat sosok pemikiran Gus Dur yang terangkum dalam buku yang berisikan tujuh bab yang ditulis diatas 412 halaman ini. Setiap bab memiliki sengatan tersendiri, dimana kita akhirnya mengerti kearah mana Gus Dur membawa umat dalam memahami Islam.

Syafi’i Anwar menyebut pemikiran Gus Dur dengan tipologi pemikiran substantif-inklusif (hal xix) dengan ciri-ciri, pertama, adanya kepercayaan yang tinggi bahwa al-Qur’an sebagai kitab suci berisikan aspek-apek etika dan pedoman moral untuk kehidupan manusia, tetapi tidak menyediakan detil-detil pembahasan setiap objek permasalahn kehidupan.

Ciri kedua, mereka yakin bahwa misi utama Nabi Muhammad bukanlah untuk membangun kerajaan atau Negara, tetapi mendakwahkan nilai-nilai Islam dan kebajikan. Ketiga, mereka berpendapat bahwa syari’at tidak dibatasi atau terikat oleh Negara. Syari’at adalah sebuah jalan dan gerak langkah yang selalu dinamis dan membawa manusia pada tujuan-tujuan yang benar dan orientasi-orientasi etis yang mulia. Keempat, dalam bidang politik, para pendukung pemikiran ini merefleksikan mengetengahkan eksistensi dan artikulasi nilai-nilai Islam yang intrinsik, dalam rangka mengembangkan wajah cultural Islam dalam masyarakat. Proses Islamisasi haruslah mengambil bentuk kulturalisasi dan bukan politisasi.
Menurut saya, kritik yang diberikan Gus Dur kepada Islam bukan pada persoalan Islam sebagai agama, tetapi terletak kepada orang yang menafsirkan ajaran Islam itu sendiri. Sehingga, kata Gus Dur, perlu dilakukan pembaharuan fiqh.

Memang, seperti yang diakui Gus Dur (hal 66), bahwa pengalaman pribadi seseorang tidak akan pernah dirasakan atau dialami orang lain dalam memahami Islam. Hal ini berangkat dari pengalaman Gus Dur ketika ia aktif dalam gerakan Ikhwanul Muslimin di Jombang, kemudian mempelajari Nasionalis Arab di Mesir dan Sosialisme Arab di Baghdad, dengan kesimpulan bahwa Islam adalah jalan hidup yang saling belajar dan saling mengambil idiologi non agama, serta berbagai pandangan dari agama-agama lain.

Dari kenyataan itulah, tulis Gus Dur, bahwa Islam yang dipikirkan dan dialaminya adalah sesuatu yang khas, yang dapat disebutkan sebagai “Islamku”, sehingga watak perorangan seperti itu patut dipahami sebagai pengalaman pribadi yang patut diketahui orang lain tanpa memiliki kekuatan pemaksaan.

“Islam Anda” lahir dari pemahaman seseorang terhadap keyakinan yang dianutnya. Disini Gus Dur memberi contoh dalam haul/peringatan kematian Sunan Bonang di Tuban setiap tahunnya. Tanpa diumumkan, orang berduyun-duyun datang, membawa tikar dan makanan sendiri-sendiri untuk sekedar mendengarkan ceramah. Tidak penting benar, adakah Sunan Bonang pernah hidup? Dalam pemikiran pengunjung memang demikian, dan itu kenyataan –yang dalam pandangan mereka “tidak terbantahkan”. Nah, kebenaran yang diperoleh seperti ini adalah sesuatu yang didasarkan pada keyakinan, bukan sebuah pengalaman.

“Islam Kita” diartikan sebagai pemikiran yang mementingkan masa depan Islam. Ia dirumuskan karena perumusnya merasa prihatin dengan masa depan agama tersebut, sehingga keprihatinan itu sendiri mengacu kepada kepentingan bersama kaum muslimin. Satu kesimpulan dalam “Islam Kita” ini mencakup “Islamku” dan “Islam Anda”, karena ia berwatak umum dan menyangkut nasib kaum muslimin seluruhnya.

Kata Gus Dur (hal 69), kesulitan dalam merumuskan pandangan “Islam Kita” itu itu tampak nyata di depan mata. Di sini terdapat kecendrungan “Islam Kita” yang hendak dipaksakan oleh sementara orang, dengan wewenang menafsirkan segala sesuatu dipegang mereka. Pemaksaan kehendak itu sering diwujudkan dalam apa yang dinamakan “idiologi-Islam”, yang oleh orang-orang tersebut dipaksakan sebagai idiologi negeri ini.

Bagi Gus Dur, kalau kita ingin melestarikan “Islamku” maupun “Islam Anda”, yang harus dikerjakan adalah menolak Islam yang dijadikan idiologi Negara melalui Piagam Jakarta dan sejenisnya. Bisakah hal-hal yang esensial yang menjadi keprihatinan kaum muslimin, melalui proses yang sangat sukar, akhirnya diteriuma sebagai “Islam Kita”, dengan penerimaan suka rela yang tidak bersifat pemaksaan pandangan?.

Pemahaman itulah yang membuat Gus Dur kemudian tampil membela Inul Daratista, saat anggota Fatayat NU itu dicerca habis-habisan oleh berbagai kalangan –karena aksi ngebornya—sehingga membuatnya ingin pension dari penyanyi. Begitu juga ketika membela Ulil Abshar-Abdala, intelektual muda NU dan juga pendiri Jaringan Islam Liberal yang dihujat habis-habisan oleh sejumlah ulama, yang menganggap pemikiran Ulil telah sesat dan keluar dari Islam. Gus Dur berprinsip, perbedaan pendapat harus dihargai dan tidak seharusnya melahirkan kecaman atau kekerasan.