Keluarga dan Kecerdasan Emosional

Oleh: Nurul Huda Haem

Dari banyak klien yang sharing ke saya, saya mendapati banyak ungkapan hati mereka. Di antara yang paling sering adalah:

“Masalah yang saya hadapi sudah terlalu berat, sulit ditemukan solusinya!”
“Ini sudah akut, rasanya tidak ada jalan lain kecuali cerai”
“Tidak mungkin perkawinan ini dapat dipertahankan!”
“Kalau begini terus, bagaimana bisa sakinah pak?”
“Mungkin ini sudah nasib saya pak punya keluarga yang broken”
“Cape! saya sudah terlalu lelah menghadapi semua ini”

Begitulah ungkapan-ungkapan di atas seringkali diucapkan oleh teman-teman klien yang sedang dirundung masalah. Saya berusaha memahami sudut pandang mereka untuk mencari apakah memang benar keadaannya seperti itu? Toh dari banyak teman-teman yang sharing ada di antara mereka yang berhasil rujuk kembali.

Saya merasa ungkapan-ungkapan di atas merupakan sikap mental yang negatif, itu hanya akumulasi dari perasaan jengkel, marah, kecewa dan lelah menghadapi problem yang tak kunjung selesai.

Pertanyaannya adalah, Apa benar keluarga sakinah atau keluarga super hanya milik orang-orang tertentu? Apa sudah tertutup pintu sukses bagi mereka yang sedang mengalami masalah?

Jawabannya tentu tidak benar, saya sangat meyakini hal ini. Sebab pada saat yang sama, realitanya banyak keluarga yang bermasalah namun dengan kesadaran tinggi mampu menyelesaikan masalahnya dengan happy ending. Yah, saya rasa kata kuncinya adalah awarnes, kesadaran. Tapi apakah mereka yang terpaksa bercerai adalah berarti sekelompok orang yang tidak punya kesadaran?

Jawaban terhadap pertanyaan ini tentu sangat kasuistik, sebab perceraian terkadang menjadi emergency exit yang mau tidak mau harus ditempuh. Bukankah agama juga mengakomodir hukum talak? (saya akan membahas topik ini dalam bab khusus, Indahnya Perceraian!)

Nah kembali ke permasalahan kita, ternyata cara kita memandang masalah itu akan sangat mempengaruhi cara kita menyikapinya. ini yang saya sebut dengan mindset influence atau pengaruh dari pola fikir. Maka perlu difahami sistem kerja fikiran kita.

Dalam sistem berfikir, aksi itu muncul merupakan akibat dari persepsi dan emosi. Jadi urut-urutannya adalah persepsi kemudian emosi baru aksi. Banyak orang tidak memahami sistem ini, sehingga terkadang ada orang yang melakukan pembajakan persepsi. Yakni mereka yang menyikapi sesuatu secara emosional. Sebetulnya, pada kasus inipun, persepsi tetap bekerja, hanya yang bekerja adalah persepsi negatif sehingga yang muncul adalah emosi dan aksi yang negatif.

Berfikir sistematis itu erat kaitannya dengan pengelolaan persepsi, emosi, dan aksi. Dalam kajian Neuro Linguistik Programing (NLP, Program Bahasa Syaraf), ada tiga komponen penting dalam otak kita. Pertama disebut Thalamus, yaitu komponen penerima pesan dari luar diri kita. Kedua, Visual Cortex, sebagai pengolah pesan yang masuk.

Ketiga, Amygdala, sebagai respon yang melahirkan aksi. Biasanya informasi yang kita terima itu melalui panca indera yang akan diteruskan kepada thalamus, sebagai media yang mengarahkan proses jalannya sitmulus yang diterima. Nah, pesan ini akan diteruskan ke dua alternatif: Pertama, ke otak bagian cortex yang akan menerjemahkan dan mengolah pesan (translator), dan kedua bisa saja melalui jalan pintas (short cut) langsung menuju amygdala yang berarti cortex tidak kita fungsikan.

Alternatif pertama akan memberikan kesempatan otak kita melakukan tabayyun (klarifikasi) lalu meneruskannya kepada amygdala sebagai pencetus perasaan, biasanya yang akan muncul adalah emosi positif. Sedangkan alternatif kedua, dengan cara potong kompas yang akan terjadi biasanya munculnya emosi yang negatif, keadaan ini oleh Daniel Goleman –penggagas Kecerdasan Emosional (EQ)- disebut sebagai hijacking amygdala (pembajakan oleh amygdala).

Untuk menyederhanakan penjelasan ini, kita dapat memahaminya melalui kisah tragis yang pernah terjadi di Amerika Serikat, yaitu kisah seorang ayah yang berdinas di kepolisian pulang ke rumahnya. Ketika tiba di rumah ia mendengar suara mencurigakan dari atas loteng, setahu dia, istri dan anak-anaknya sedang berkunjung ke rumah mertuanya.

Nalurinya sebagai seorang polisi mulai bekerja, “Jangan-jangan ada perampok menyatroni rumahku” fikirnya. Secara refleks ia menarik pistolnya dan perlahan-lahan mendekati loteng melalui ruangan dapur di bagian belakang rumahnya.

Sesaat kemudian, sebuah bayangan berkelebat keluar dari internit atap rumah dan mengejutkannya. Secara refleks ia menarik pelatuk pistolnya dan terdengarlah letusan keras. Beberapa detik kemudian, ia baru sadar, bayangan itu adalah anaknya sendiri, terkapar bersimbah darah! Ternyata putranya tidak jadi pergi bersama ibunya. Sang putra bungsu yang semula hanya ingin bermain kejut-kejutan dengan ayahnya, ternyata berakhir dengan fatal!.

Bagaimana agar tidak terjadi pembajakan amygdala, berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan:

1. Stop, berikan waktu otak anda untuk berfikir, berhati-hatilah terhadap pesan yang dikirim oleh panca indera, belum tentu pesan yang melahirkan persepsi itu benar bahkan bisa menyesatkan. Anda bisa mengujinya melalui test berikut; buatlah gambar kotak hitam bersegi empat yang banyak di atas kertas yang berwarna putih, lalu amatilah bagian putih di antara kotak-kotak hitam itu, kemudian hitunglah berapa titik hitam yang berada di antara kotak-kotak hitam itu? Apa yang akan Anda dapati, sesekali titik hitam akan muncul dan sesekali menghilang. Jika Anda mengatakan telah melihat sejumlah titik hitam, maka berarti mata Anda baru saja menipu otak Anda!. Sekali lagi jangan tertipu dengan pesan yang dikirim panca indera Anda.
2. Observasi lapangan melalui BDP yaitu Bimbing Dengan Pertanyaan. Ajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, mengapa ini bisa terjadi? Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari permasalahan ini? Apa yang masih dapat saya syukuri dari masalah ini? Pertanyaan-pertanyaan ini bergantung dengan konteks masalah yang dihadapi, tapi cara ini sangat efektif untuk membuat ketenangan pertama, istilahnya P3K, Pertolongan Pertama Pada Kecemasan. Pada bagian ini, Anda sedang mengaktifkan korteks dari otak Anda, jadi biarkan korteks Anda menganalisa lebih lanjut pesan-pesan yang masuk itu.
3. Tentukan sikap Anda! Apa yang harus Anda putuskan sekaranglah saatnya, gunakan bimbingan suara positif dalam korteks Anda.

Beberapa tips ini bukan harga mati, Anda mungkin akan atau bahkan sudah membaca dari banyak literatur tentang kecerdasan emosi, tapi saran saya coba saja! Bagi saya, keluarga super adalah just a mind game, sukses atau tidak keluarga kita tergantung kita, Apakah kita mau SUPER (berarti mengikuti berbagai proses di dalamnya) atau mau GAGAL semuanya berpulang kepada kita.

Ingat, “Saat kita mampu menepis badai yang menimpa keluarga kita dengan kekuatan kesabaran dan keteguhan, maka Keluarga Super PASTI MENJADI MILIK KITA, tanamkan keyakinan ini dan amalkan!!!”

*Konsultan Keluarga dan Penulis Buku “AWAS! ILLEGAL WEDDING” yang diterbitkan PENERBIT HIKMAH, PT MIZAN PUBLIKA, April 2007

Iklan