Menggugah Gerakan Simbolisme Islam

Peresensi: Fathor Rasyid
Judul Buku: Gerakan Islam Simbolik
Penulis: Al-Zastrouw Ng
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, November 2006
Tebal Buku: xviii + 192 halaman

Maraknya gerakan Islam simbolik yang radikal-fundamintalis di Indonesia dewasa ini semakin mewarnai pentas politik kebangsaan, baik dalam wilayah struktural ataupun kultural. Dengan memperluas jaringan dijajaran pemerintahan, non-pemerintah, atau pula dengan memperlebar sayap lewat rekrutmen kader.

Gerakan Islam radikal-fundamintalis ini biasanya selalu menyuarakan simbolisme Islam sebagai dasar negara. Seperti halnya penulakan terhadap asas-asas Pancasila, dan pemaksaan pemberlakuan syariat Islam sebagai dasar negara. Walau pada kenyataannya sangat beresiko besar terhadap persatuan dan kesatuan republik Indonesia yang bersifat homugen, namun gerakan Islam fundamintalis ini seolah tidak pernah memperhatikan akan hal tersebut.

Pada mulanya gerakan Islam radikal-fundamintalis bergerak secara laten, dan diakhir tahun 90-an gerakan ini mulai menampakan diri walau tidak berdiri secara resmi, namun pertumbuhannya terlihat begitu pesat. Semisal munculnya halaqah di kampus-kampus atau meningkatnya jamaah pengajian dengan pakaian yang khas dan eksklusif. Memang kelompok Islam fundamintalis ini dimasa Orde Baru tidak ubahnya anak nakal yang keluar dari susuan Soeharto, kadang dicambuk, kadang pula perlu diberi roti agar berhenti ngoceh. Sebaliknya, pada saat bergulirnya reformasi gerakan Islam radikal-fundamintal seperti singa kelaparan. Kebebasan untuk meng-ekspresikan gagasannya tentang penegakan syariat Islam terkadang melalui jalan kekerasan.

Padahal menurut Al-Zastrouw Ng dalam buku ini menjelaskan, kelompok Islam radikal-fundamintalis di Indonesia bukanlan dari kalangan orang-orang berbasis pendidikan agama yang tinggi, atau bukan pula terjadi dilingkungan sosial yang kuat keberagamaannya, seperti di pesantren, kauman, dan IAIN. Melainkan gerakan tersebut tumbuh dari kalangan menegah keatas, dan umumnya terjadi diwilayah perkotaan. Namun pada kenyataannya kelompok tersebut seolah-olah telah mencapai puncak pemahaman keislaman yang sempurna. Sehingga mereka bersikap eksklusif terhadap semua pendapat dari luar, dan juga kurang toleran terhadap kelompok lain.

Untuk mengkaji persoalan diatas Zastrouw menggunakan dua kerangka teoritik, yang pertama, agama sebagai realitas sosial. Dengan menggunakan teori Peter L. Berger, penulis mengungkapkan bahwa agama bisa menjadi alat untuk membangun sebuah konstruksi sosial masyarakat, terlepas dari pandangan bahwa agama (Islam) sebagai sesuatu yang abstrak, dan tidak berbentuk. Dalam artian Islam tidak sekedar mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Jadi agama (Islam) adalah wilayah yang sangat strategis untuk membentuk sebuah komunitas dengan doktrin-doktrin tertentu, atau pula kemudahan untuk menjadi tunggangan kepentingan kelompok, atau politik.

Dari itulah untuk menuju konstruk sosial sebagai realisasi kelompok Islam fundamintalis mengalami beberapa proses, diantaranya adalah peresapan realitas (internalisasi), kemudian keluar dari realitas dengan membentuk kelompok baru yang sejalan dengan ideologinya (objektivasi), dan yang terakhir barulah Islam fundamintal melakukan pencurahan secara terus-menerus terhadap objek (eksternalisasi), atau melakukan konstuk sosial masyarakat dengan membuat garis pembatas terhadap kelompok-kelompok lain. Makanya tidak heran jika kelompok ini bersifat ekslusif dan tidak toleran.

Dan yang kedua, teori modernisme dan fundaminalisme. Moderenisme adalah sebuah era yang menandai gaung kemajuan peradaban Barat, dengan membawai bebagai komponin-komponinnya seperti industrialisasi, scientisme, demokrasi, ekonomi, dan lain sebagainya. Maka secara politik dan paradikmati negara-negara Barat mendapatkan preoritas utama, bahkan menjadi acuan negara lain. Dan Timur (Islam) adalah yang merasa paling terancam. Sebab kekuasaan wilayah Timur (Islam) mulai terkikis. Dan umat Islam yang merasa paradigmanya dicabik-cabik oleh moderenisme mulai menyingkir, kemudian membuat kelompok-kelompok baru. Khususnya Islam Timur Tengah yang merupakan basis gerakan-gerakan fundamental. Ketidakpuasaan terhadap modernisasi inilah yang membentuk Islam fundamental melakukan gerakan-gerakan radikal.

Namun tidak semua umat Islam mengambil jalan berlawanan dalam merespon modernisme, seperti yang dijelaskan dalam buku ini (hal 25). Misalnya, seorang tokoh neomodernis asal Pakistan, Fazlur Rahman mengungkapkan bahwa, kaum fundamentalis adalah sebagai orang-orang yang dangkal dan superfisial, anti intelektual, dan pemikirannya tidak bersumber pada al-Qur’an dan budaya intelektual tradisional Islam. Lebih keras lagi seperti pernyataan Nurcholis bahwa, fundamintalisme telah membawa sumber kekacauan dan penyakit mental yang baru dalam masyarakat dan akibat-akibat yang ditimbulkannya jauh legih buruk dibandindingkan dengan masalah-masalah sosial yang telah ada, seperti kecanduan minuman keras dan penyalah gunaan narkotika.

Sepedas apapun pernyataan dua tokoh diatas tentang fundamintalisme Islam, tetap saja gerakan simbolisasi Islam hidup, bahkan gerakan tersebut semakin marak di Indonesia. Walau pada sejatinya ide-ide yang diusung Islam fundamental tidak relevan bagi keberlangsungan Indonesia. Sayang sekali dalam buku ini Zastrouw tidak menyinggung masalah teori kekuasaan Foucaul dan J.F. Lyoitard sebagai pelengkap dari dua teori yang penulis ajukan. Padahal antara teori sosiologi yang menjadi rujukan Zastrouw dalam buku ini sangat berkaitan erat dengan teori-teori kekuasaan. (IC)

Sumber: http://www.gp-ansor.org