Y(o)udoyo(u)(k)no(w)

Oleh: Parni Hadi*

Susilo Bambang Yudhoyono (Yahoo! News/REUTERS/Lee Jae-Won)BINGUNG? Sudah pasti. Siapa yang tidak bingung ketika mendengar bule Amerika bercerita bahwa ia ingin berjumpa Gas Dar setelah sebelumnya mengunjungi kota Bendang? Saat ditanya siapa yang dimaksud dengan Gas Dar, bule itu dengan penuh percaya diri menjelaskan bahwa Gas Dar adalah mantan Presiden Republik Indonesia. Oo, ternyata yang dimaksud adalah Gus Dur.

Memang, jika orang terbiasa dengan pengucapan dalam bahasa Inggris dan belum kenal pengucapan kata bahasa Indonesia, Gus akan diucapkan Gas. Lalu, kota Bendang yang dimaksud adalah Bandung. Memang kata ”dung” dalam bahasa Inggris, yang artinya kotoran hewan, dilafalkan ”dang”.

Karena itu, jangan terlalu bingung jika ada orang asing melafalkan nama Presiden Yudhoyono dengan You do you know. Tapi si bule dapat bingung jika kita beritahu bahwa kediaman pribadi sang presiden dekat Salzburg, Florence, Monaco, Barcelona, Amsterdam, Den Haag, Raffles Hills, Acropolis, Spinx, Vancouver, San Francisco, Beverly Hills, Eldorado, Orlando, dan Georgia. Boleh jadi, ia akan bertanya-tanya: ”Kok, kaya amat presiden yang baru gencar kampanye antikorupsi ini?” Ia akan tambah bingung jika alih-alih menjawab pertanyaan itu, kita memberitahu bahwa sang presiden pada akhir pekan tinggal berdekatan dengan Van Gogh, Vivaldi, Marcopolo, Cleopatra, Rembrandt, dan Galileo.

Sebagai orang Indonesia, apalagi jika tinggal di Jakarta atau Bogor, Anda tidak perlu ikut bingung. Nama-nama kota besar, bangunan-bangunan bersejarah, dan tokoh-tokoh dunia tersebut terdapat di Kota Wisata dan Legenda Wisata, kompleks perumahan indah dan mewah tidak jauh dari Puri Cikeas, kediaman pribadi Pak SBY, di sebelah selatan Cibubur, Jakarta Timur. Mereka digunakan untuk nama blok-blok rumah, nama jalan, tempat pemberhentian bus, taman, dan fasilitas umum.

Tidak percaya? Silakan lihat sendiri, apalagi jika Anda juga ingin berbelanja di Cibubur Junction atau latihan main golf di Cibubur Driving Range. Atau ingin sekalian makan di Warung Sate Cikeas Hot Plate, yang terletak di samping jalan masuk Puri Cikeas?

Berdirinya bangunan-bangunan dalam beragam arsitektur dan nama-nama yang serba luar negeri, barangkali Cibubur, Cikeas, dan desa-desa sekitarnya kini telah menjadi global village atau desa global. Luar biasa, begitu cepatnya berubah wajah desa-desa yang dulu penghasil buah rambutan, pisang, dan petai itu. Yang mencolok dipandang mata, bahkan menyilaukan, adalah berbagai macam spanduk dan umbul-umbul yang mencolok dengan tulisan dalam bahasa Inggris yang tampak seperti ingin berlomba merebut perhatian.

Indonenglish
Luar biasa kekuatan pengaruh budaya global yang dibawa para pemodal. Mereka masuk, merangsek, dan mendominasi lanskap desa-desa yang sekitar 20 tahun lalu masih tergolong tradisional. Berada di kawasan itu, orang bisa merasa bak di sebuah negeri antah-berantah. Yang juga luar biasa adalah keberanian para pemodal itu membangun berbagai fasilitas serba wah dengan nama-nama serba asing di kawasan yang sering dilalui, minimal sepekan dua kali, oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang namanya menyiratkan kekukuhan mempertahankan nilai-nilai tradisional (Jawa) dan nasional Indonesia.

Apa mereka tidak khawatir bila tiba-tiba Presiden SBY ingat dan membuka buku Pedoman Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing terbitan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, edisi kedua, tahun 2003? Buku, yang pertama kali terbit Mei 1995 itu memuat kata dan ungkapan asing berikut padanan Indonesianya untuk delapan bidang usaha, yakni 1) bisnis dan keuangan, 2) pariwisata, 3) olahraga, 4) properti, 5) perhubungan, 6) industri, 7) kecantikan perlengkapan pribadi, dan 8) informasi dan elektronika.

Tahun 1995, di zaman Orde Baru, ada gerakan pengindonesiaan nama-nama bangunan megah seperti bank, hotel, dan pusat perbelanjaan. Memang ada kesan pengindonesiaan itu masih setengah-setengah. Misalnya, kata grand hanya diganti dengan gran (tanpa d), mall dengan mal, dan villa dengan vila. Kini tampak tidak ada pedoman apa pun untuk menggunakan nama-nama asing, seperti junction dan town square.

Tatkala sejumlah sesepuh pendiri republik ini sedang sibuk menyemaikan jati diri bangsa, dan kita baru saja memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-77, perlu kita memperhatikan munculnya bak jamur di musim penghujan kawasan-kawasan permukiman dan industri yang mempergunakan istilah atau kata-kata asing itu. Itu jika kita konsisten ingin memiliki integritas nasional sebagai bangsa.

Buku pedoman itu, antara lain, menyebutkan bahwa badan usaha atau bangunan yang menggunakan nama asing, nama lokal mesti disebut dulu, baru nama asingnya. Misalnya, Balai Sidang Jakarta, baru di bawahnya Jakarta Convention Center, atau Tepian Danau Bogor, di bawahnya Bogor Lakeside. Kini semuanya tampak ”semau gue”, amburadul, acak-acakan, campur aduk antara bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, dialek Jakarta, bahasa Inggris, dan bahasa asing lain. Misal, di dekat Cibubur Junction terdapat spanduk berbunyi ”Nyok kite bangun Jakarte…!” Bahasa pergaulan resmi, dan lebih-lebih lagi yang tidak resmi, akhir-akhir ini dinamai Indonenglish (Indonesia campur aduk dengan bahasa Inggris).

Bisa dimaklumi bila penduduk negeri ini, terutama yang berpendidikan rendah, terbengong-bengong tidak mengerti bahasa para petinggi negeri yang banyak disiarkan media massa secara apa adanya atau tidak disunting. Banyak juga pedagang kecil yang ikut-ikutan. Misalnya, dulu ada tulisan di depan sebuah restoran kecil, entah keliru atau disengaja, yang berbunyi sedia ”satay prawan”. Mungkin maksudnya ”prawn satay” alias sate udang, bukan sate prawan. Pak SBY, sebagai panutan, Anda harus membenahi lingkungan sekitar Anda. Itu cocok lho dengan nama Anda, menurut lidah bule: ”You do you know”.

*Dirut RRI, anggota Badan Pertimbangan Pusat Bahasa

Sumber: http://www.gatra.com

Iklan

One thought on “Y(o)udoyo(u)(k)no(w)”

  1. Luar biasa semrawutnya, belum lagi kalau dengar nama anak-anak sekarang.Ada Estelle, Leonardo, ViVien, Rivaldo, Salsabilla, Ainur Rofiq, Bilqies, Chiqita dll.Aku rindu mendengar anak2 yang dipanggil Putri, Kusuma, Bagus Wibowo,Kuncoro dll.
    Oh Indonesia, oh negeriku oh bangsaku oh bahasaku….

Komentar ditutup.