Jama’ah Ba’asyir Tegang, Kang Said Imbau Dakwah Tanpa Kekerasan

Jakarta (26/11) – Seminar Nasional tentang implementasi syariat Islam di Indonesia yang diselenggarakan oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Jakarta, Ahad (25/11) tadi malam berlangsung menegangkan. Para anggota MMI berteriak “Allahu akbar” dan tidak segan-segan menghentikan pembicaraan peserta seminar jika dianggap tidak sesuai.

Seminar itu diadakan oleh Lajnah Pimpinan Wilayah MMI DKI Jakarta dan lembaga kajian Islam Al Manar dan dihadiri langsung oleh pemimpin utama MMI Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Pembicara lainnya yang diundang adalah Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj (Kang Said).

Seminar bertajuk “Implementasi Nilai Syari’at Islam dalam masyarakat dan Negara Menuju Indonesia yang Religius, Adil dan Sejahtera” itu sudah dibuka dengan suasana tegang. Moderator Hamzah Zahal baru mengucapkan beberapa kata langsung diintrupsi oleh para anggota MMI. Hamzah memberikan pengantar seputar perkembangan opini tentang Islam akhir-akhir ini, tentang dua tipologi besar Islam yang muncul yakni liberalis dan fundamentalis.

Kontan moderator diinterupsi dan diminta untuk tidak ikut berbicara dalam seminar itu. “Itu pembagiannya orang kafir,” kata anggota MMI. Ismail Yusanto akhirnya mendapat giliran berbicara pertama setelah sebelumnya Abu Bakar Ba’asyir telah menyempaikan pemikirannya saat memberikan sambutan pengantar seminar.

Menurut Ba’asyir, mengamalkan syariat Islam harus didukung dengan kekuasaan, dalam hal ini kekuasaan pemerintahan Islam. Pluralisme, misalnya, kata Ba’asyir, baru bisa dipraktikkan secara adil dalam pemerintahan Islam.

“Jadi kesimpulan seminar ini adalah implementasi Islam dalam bangsa dan negara wajib hukumnya,” kata Ba’asyir saat membuka seminar. “Kalau tidak saya kuatir nanti kena hukum murtad,” katanya.

Senada dengan Abu Bajar Ba’asyir, Ismail Yusanto mengatakan, dakwah Islamiyah yang dilakukan selama ini kurang berhasil karena tidak ditopang oleh negara Isam. “Hanya dengan kekuasaan dan kekuatan, dakwah Islam itu bisa berhasil,” katanya.

Dikatakannya, dakwah pada saat tertentu perlu dengan kekerasan dan kekuatan senjata. “Tergantung pada saat apa dan kepada siapa,” katanya.

Sementara itu Kang Said yang mendapat kesempatan berbicara terakhir menurunkan ketegangan dengan bercerita seputar cara dakwah Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Menurutnya, dakwah yang dilakukan dengan kekerasan selalu tidak berhasil.

“Wali Songo mengganti cara dakwah 180 derajat, tidak dengan kekerasan tapi bil hikmah wal mauidzatul hasanah wal mujadalah billati hiya ahsan. Akhirnya Islam dapat tersebar dengan baik,” kata Kang Said sembari bercerita dengan sangat apik tentang teknik para penyebar Islam di Indonesia.

Namun suasana di ruang pertemuan Hotel Accacia Jakarta itu kembali seperti semula ketika seorang penanya bernama Abu Jibril memprotes cara Kang Said menyampaikan materi. “Cerita Pak Said malah menidurkan kita, padahal Rasul tidak malah membikin kita tidur, tapi malah bangkit,” katanya disambut teriakan “Allahu akbar” dari para anggota MMI.

Suasana semakin menegang ketika peserta lainnya, Luthfi A Tamimi, direktur majalah Sabili, salah satu Majalah yang dikenal menyuarakan aspirasi kelompok Islam yang berdakwah dengan keras, meminta Ismail Yusanto secara tegas mengumumkan nama pemimpin utama atau khalifah yang menjadi memimpin pemerintahan Islam atau khilafah islamiyah yang dikampanyekan HTI.

“Kita tidak ada khalifah hanya amir,” kata Ismail menanggapi dan langsung dibantah oleh Lutfi bahwa khalifah dan amir itu sama saja. Ia menyebutkan bahwa para khalifah diberi gelar amirul mukminin.

Para anggota MMI yang merasa rikuh meminta Lutfi untuk menghentikan pembicaraan. “Jangan ngotot!” kata anggota MMI sambil berdiri dan menodongkan telunjuk.

Diskusi diakhiri pada pukul 22.05 meski saat itu Kang Said belum selesai menjelaskan konsep jihad menurut NU. Moderator bergegas menutup seminar karena saat mencoba menyimpulkan bahwa ada pendapat yang berbeda, dia langsung diprotes anggota MMI. “Islam itu hanya satu,” kata mereka dengan suara keras.

Sumber: http://www.nu.or.id

Iklan

3 thoughts on “Jama’ah Ba’asyir Tegang, Kang Said Imbau Dakwah Tanpa Kekerasan”

  1. seandainya betul khalifah islam akan diterapkan…apakah itu suatu kemajuan secara politik, budaya atau mungkin suatu kemunduran..semua aspek. kalau sebatas wacana itu masih bisa diterima tapi kalau sudah ada upaya penerapan…tentunya dikembalikan ke Warga negara republik ini lewat referendum atau pilihan lain. yang pasti konsep penerapan syariat islam..perubahan luar biasa akan terjadi direpublik ini..terlalu mahal harga NKRI bila konsep khalifah diterapkan…

  2. Ada2 saja pemikiran dan pertanyaan dari mereka yang tdk menginginkan syariat islam. Sangsi dng syariat islam artinya sangsi pd AlQURAN dan AsSUNNAH.dan pasti tahu apa konsekuensi mengingkari satu saja hukum Allah.

  3. Ada2 saja alasan mrk yang tdk menginginginkan syariat islam.Padahal mengingkari AlQURAN dan AsSunnah adalah suatu penentangan thd hukum Allah.Dan sdh pasti tahu apa konsekuensinya.Sebagai org yang mengimani AlQuran pasti akan mentaati dan menjalankan hukum2 yang ada didalamnya dan bukannya malah mengaku islam tapi tdk mau diatur oleh Allah.Indonesia adl bumi Allah,jadi wajah kalau hukum Allah yang lebih mulia dibanding pancasila,uud45 dan KUHP

Komentar ditutup.