UIN Jakarta; Aku Rindu Nusantaraku

Jakarta (14/12) – Kamis (13/12), Auditorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta penuh sesak oleh para perindu Nusantara. Dialog Kebudayaan sebagai refleksi akhir tahun 2007 itu dilaksanakan oleh kerjasama antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Acara yang dihadiri oleh beberapa tokoh nasional tersebut mampu menyedot perhatian civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan dipandu oleh Emha Ainun Nadjib (Budayawan) dengan Kyai Kanjeng-nya, acara dimulai tepat waktu yaitu pukul 19.00 WIB dan berakhir pukul 00.30 WIB, dengan mengambil tema “aku rindu nusantaraku; meneguhkan tujuan, solusi dan target Bangsa”.

Dialog yang dihadiri oleh mahasiswa, dosen, pegawai dan pejabat kampus tersebut menghadirkan pembicara nasional diantaranya, Wawan H Purwanto (Pengamat Intelijen), Sutrisno Bachir (Ketua Umum Partai Amanat Nasional), Riyamizard Riyacudu (Purnawirawan TNI), Sys NS (Partai NKRI), Ketua Umum Sarikat Tani, Raja Denpasar IX (Ketua Asosiasi Keraton Indonesia).

Diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, disambut dengan musik-musik ala Kiai Kanjeng, acara terasa semakin semarak dan sakral. Dalam prolognya, Cak Nun cukup luas memaparkan kondisi Indonesia saat ini, mulai dari politik, hukum, budaya, ekonomi, pertahanan, kebijakan dan keberagamaan.

Pada acara inti, para pembicara memaparkan materi dialog dari berbagai sudut pandang mengenai tujuan dan target bangsa. Dimulai dari Ketua Umum Sarikat Tani, ia menyampaikan bahwa untuk menjadi bangsa yang besar, Indonesia harus mempunyai komitmen kuat terhadap kesejahteraan petani, nelayan dan rakyat miskin kota. Untuk membuat jalan baru menuju Indonesia berdikari tersebut harus dimulai oleh anak muda Indonesia, paparnya.

Raja Denpasar IX menyampaikan, lunturnya rasa nasionalisme bangsa yang saat ini melanda Indonesia diakibatkan oleh tidak pahamnya generasi muda akan budaya dan perjalanan bangsanya. Nusantara adalah Bhinneka tunggal ika, Nusantara adalah satu tubuh, meskipun didalamnya terdiri dari beragam suku, agama dan ras. Ke depan, generasi Indonesia harus mampu memahami budaya bangsanya sehingga mampu memecahkan permasalahan bangsa sesuai dengan budayanya.

Menurut Wawan, Indonesia adalah bangsa yang besar, akan tetapi bangsa ini tidak sadar bahwa ia juga masuk pada peta permainan global yang kemudian menjadikan Indonesia kerdil karena tidak kuasa. Saat ini Indonesia sedang diuji dengan berbagai permasalahan disintegrasi bangsa yang menjadi bergainning dengan pihak asing. Kelemahan Indonesia saat ini adalah bidang sistem informasi, yang seharusnya menjadi kekuatan untuk menguasai informasi global, karena letaknya yang sangat strategis, berada disepanjang garis khatulistiwa. Diakhir paparan, ia berseloroh, jika sekarang Indonesia diobok-obok oleh asing, lalu kapan gantian Indonesia mengobok-obok asing?.

Dengan penuh penghayatan, Sys NS menyampaikan materi dialog melalui karya puisi. Ia menyampaikan, bangsa ini sedang sakit, dan obatnya adalah generasi muda. Jika generasi muda bersatu, maka Indonesia baru akan kita capai. Pemilu 2009 kuncinya. Apakah rakyat Indonesia cerdas utuk memilih pemimpinnya? atau justru hanya melihat figur yang tenar?.

Sementara Riyamizard menyampaikan pesan bahwa Indonesia harus berani dalam menghadapi intervensi asing. Jika di Timur Tengah ada Ahmadinejad, di Amerika Latin ada Hugo Chaves, di Indonesia harus bisa melahirkan pemimpin yang berani untuk mengatakan tidak pada kepentingan asing. Selama ini Indonesia hanya ikut arus kepentingan, hingga ada 63 Undang-undang yang menurutnya adalah pesanan asing. Bangsa ini akan bangkit jika pemimpinnya berani, jelasnya.

Sutrisno Bachir yang tampil sebagai pembicara terakhir, ia mengawali presentasinya dengan orasi sistem kepartaian. Dari semua solusi yang dipaparkan para pembicara eksekusinya ada pada partai politik, tuturnya. Jika ingin semua terealisasi maka harus melalui partai politik. Dan sedikit membuat peserta bergelegar tertawa ketika menyampaikan, bahwa ia tidak akan berkampanye di depan kaum rasionalis, berikut disambung oleh Cak Nun, kampanye terbaik adalah dengan mengatakan tidak kampanye.

Cak Nun yang menjadi moderator pun tak kalah vokal dari para pembicara, seringkali ia menyampaikan pesan-pesan religi yang dibungkus dengan nuansa nasionalisme. Dengan sesekali menyampaikan pernyataan berbentuk karya puisi dengan diiringi oleh musik ala Kiai Kanjeng. “Bagaimanapun kondisi bangsa Indonesia saat ini, saya yakin rakyat Indonesia akan tetap meringis dan optimis”, ucapnya.

Acara ditutup dengan lantunan lagu-lagu daerah ala Kiai Kanjeng dan diakhiri dengan doa. Permohonan agar bangsa Indonesia bangkit menuju Indonesia yang makmur, sejahtera dan dijauhkan dari segala adzab. (ay)

One thought on “UIN Jakarta; Aku Rindu Nusantaraku”

  1. aku adalah seorang wanita yang malang harus pergi merantau ke saudi. sudah nasib, sekarang
    aku minta doanya semoga aku berhasil dan sukses dalam tujuan ku insyaallah aku bisa pulang ke tanah airku indonesia aku kangeeeeeeeeeeen banget udah dulu ya ini cuma percobaan
    terima kasih…

Komentar ditutup.