Memaknai Spirit Hijrah Menuju Indonesia Bangkit !

Oleh: Rahmat Tuanku Sulaiman

Selamat Tahun Baru 1429 Hijriyah. Tidak terasa waktu terus bergulir, tanpa ada yang bisa menghentikan. Sekarang sudah masuk tahun baru 1429 Hijriyah. Memperingati tahun baru hijrah pada tanggal 1 Muharam tidak sekedar berakhirnya tahun yang lama dan mulainya tahun yang baru, tetapi perlu perenungan dan mengikat apa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya Umar bin Khaththab menjadikan momentum hijrah menjadi awal dari tahun Islam, beliau sadar betul bahwa hijrah adalah satu peristiwa yang besar, dan tidak hanya bagi sejarah Islam tetapi bahkan bagi sejarah manusia secara keseluruhan.

Dengan hijrah terbentuklah Peradaban manusia yang mulia di Madinah dan kaum muslimin mempunyai dan membangun negara sendiri. Dengan hijrah pula kaum muslimin dianggap sebagai satu umat dan dapat membentuk spesifikasi karakternya yang sangat unik. Dan setelah hijrah, barulah turun ayat-ayat al-Quran yang membawa perintah kewajiban dan tatanan hukum formal bagi kaum muslimin. Karena itu, momentum hijrah pada esensinya adalah titik perubahan dan transformasi yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam.

Transformasi dari kenyataan nafsi-nafsi (individualis) tanpa ukhuwah kepada eksistensi integritas ummatan wahidah (umat yang bersatu) dalam akidah, ibadah dan syariah. Maka hijrah sebenarnya adalah konsep perubahan, reformasi dan sekaligus transformasi diri maupun masyarakat dalam Islam. Sebenarnya, jika kita telaah dalam ayat-ayat al-Quran, hijrah merupakan sesuatu yang telah dilakukan oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad. Nabi Ibrahim, misalnya melakukan hijrah ke Syam, kemudian ke Mesir dan akhirnya Nabi Ibrahim bersama anaknya Ismail dan isterinya Siti Hajar hijrah ke Mekkah, dan membangun Baitullah, Ka’bah. Selain itu, hijrahnya Nabi Luth as dari negeri Sadum, karena penduduknya berperilaku sangat buruk, mereka sangat permisif terhadap kemaksiatan. Hati mereka seolah selalu dahaga dengan kesesatan.

Sementara itu, kita dapat menyimak episode panjang dari sejarah Nabi Musa yang hijrah dari Mesir ke Madyan untuk menyelamatkan jiwanya, kemudian dilanjutkan dengan hijrah dari Mesir ke Syam untuk menyelamatkan agamanya. Dan yang perlu dicacat, Ashabul Kahfi juga hijrah ke dalam gua, di tengah komunitas penyembah berhala dan taghut dengan penguasa tiran yang sangat kejam, dan betapa Allah menjelaskan pertolongan-Nya kepada para pemuda tersebut yang mau berhijrah. Kemudian, hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Habasyah, disertai penolakan raja Najasyi. Dan, pada akhirnya, kaum muslimin Mekkah dipimpin oleh Rasulullah melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, dengan sekian pelajaran dan hikmah, salah satunya yang paling menonjol adalah semangat untuk bangkit dengan optimis dan berubah menuju yang lebih baik.

Di antara cara merenungkan semangat bangkit dan berubah dalam Islam, adalah merenungkan kembali dan memaknai hakikat Hijrah. Secara harfiyah, hijrah artinya pindah. Dalam bahasa Inggris, disebut migration. Tetapi orang-orang Barat sering menerjemahkan hijrah dengan flight, padahal flight itu artinya melarikan diri. Dengan bermigrasi dari Makkah ke Madinah, Nabi Muhammad tidak bermaksud melarikan diri, akan tetapi memang pindah, dan kepindahannya bukan atas kemauan sendiri melainkan atas petunjuk dari Allah s.w.t.

Secara historis memang ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hijrah Nabi, antara lain didahului dengan adanya bai‘at-bai‘at (janji-janji setia) yang diikuti oleh orang-orang dari Madinah (waktu itu namanya Yatsrib). Tidak banyak yang diketahui oleh orang-orang luar mengenai Arabia, karena Arabia memang merupakan daerah yang tidak begitu menarik bagi bangsa-bangsa lain. Karena itu tidak ada usaha untuk, menaklukkan daerah tersebut. Orang Arab sendiri menyadari hal itu, karenanya disebut Jazirah.

Pandangan seperti ini penting diketahui untuk sampai pada pemahaman mengapa, Nabi Muhammad hijrah ke kota sebelah Utara yaitu Yatsrib, lalu dengan strategi baru beliau berhasil menghimpun kekuatan orang-orang Arab dan kemudian terjadi apa yang dalam istilah para ahli sejarah disebut “Arab explosion” (“ledakan orang Arab”). L. Stoddard dalam Bangkitnya Bangsa-bangsa Berwarna mengatakan bahwa Nabi Muhammad seolah-olah telah mengubah padang pasir Timur Tengah menjadi mesiu yang dapat disulut dari Madinah dan meledaklah ke seluruh Timur Tengah. Rasulullah menjadi tokoh sejarah yang paling sukses dalam sejarah umat manusia. Michael Hart, seorang wartawan Amerika yang menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia, dengan jujur mengakui bahwa di antara 100 tokoh itu, kalau dilihat efeknya, maka Nabi Muhammad-lah yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia.

Efek itu ada terutama karena kepindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Yasthrib. Kalau diingat bahwa Nabi di Makkah selama 13 tahun tanpa hasil yang mengesankan, Di antara ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa Nabi pernah putus asa sehingga kemudian turun surah al-Dhuhâ. Karena itu surah al-Dhuhâ adalah teguran kepada Nabi Muhammad. Dan, secara historis, akhirnya kemenangan yang dijanjikan oleh Allah itu terealisir setelah 10 tahun di Madinah. Karena itu, ”wa lal-akhiratu khayrul laka minal ula” itu bukan hanya bermakna ‘akhirat lebih baik daripada dunia’ tetapi dalam bahasa sekarang dapat dikembangkan, ‘bahwa yang jangka panjang itu lebih baik daripada yang jangka pendek’.

Itulah satu hal yang bisa ditarik dari peristiwa hijrah. Yaitu, supaya manusia jangan sampai terjebak kepada hal-hal yang bersifat jangka pendek sambil melupakan yang bersifat jangka panjang. Banyak para pemimpin, pejabat dan orang-orang penting di negeri ini yang terpesona untuk sekadar meraih hasil sehingga terperangkap dalam pola pragmatis, namun melupakan proses yang bernilai strategis yang harus dilewati. Pemerintah sekarang berbangga, bahwa pembangunan sekarang mengalami pertumbuhan, padahal masih jauh dari pemerataan. Kebijakan yang hanya memperkaya yang kaya dan memiskinkan yang miskin. Yang diharapkan sekarang adalah pemimpin yang berpikir strategis dan tidak berpikir praktis.

Jika kita telisik dari aspek sejarah, hijrah mempunyai paling tidak ada tiga hikmah besar, yang sampai kini masih tetap aktual. Pertama, Peristiwa hijrah mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu perlu persiapan dan perencanaan yang matang. Bahwa dalam berjuang, iman dan doa saja tidaklah cukup. Mungkin ada orang yang setiap malam berdoa, namun jika tidak dibarengi dengan persiapan, membuat perencanaan dan melaksanakannya maka akan mengalami kegagalan. Ali berkata:

(Siapa yang jelek perencanaannya, akan cepat kehancurannya). Makanya ada ungkapan, ”Plan your work, and work your plan”. Dalam hijrah, Nabi melakukan persiapan dengan perencanaan yang cermat, akurat, matang dengan pembagian tugas yang bagus.

Kedua, Para pendukung hijrah Nabi itu kebanyakan para pemuda. Ali bin Abi Thalib, yang menggantikan Nabi untuk tidur di tempat tidur Nabi. Kemudian Amir bin Tahirah, Asma seorang pemudi, Abdullah bin Abu Bakar, dan seorang yang bertugas untuk membuka jalan bernama Mas’ad bin Umair. Di sini terlihat betapa peran pemuda dalam peristiwa hijrah itu demikian besar. Gerakan Islam berhasil secara meyakinkan dan mengesankan, jika para pemuda banyak berperan dalam perjuangan.

Ketiga, Arti pentingnya disiplin. Misalnya, kalaulah waktu itu Ali tidak disiplin untuk menetap di atas tempat tidur Nabi, meski ancamannya adalah nyawa. Kemudian, kalau Abdillah bin Abu Bakar tidak melaksanakan tugasnya, tidak memberitahu Nabi bahwa mereka sudah kelelahan dan tidak menemukan jejak, mungkin Nabi tidak berangkat. Kalau Asma tidak berangkat mengantar makanan, kalau Amir bin Tahirah tidak menghapus jejak, mungkin peristiwa hijrah itu akan gagal.

Dalam pandangan ilmu psikologi, nama atau simbol tertentu, akan memberi inspirasi bahkan makna sugestif kepada seseorang. Maka, nama atau kata “hijrah” pun memberikan kesan untuk menggerakkan setiap muslim agar selalu ada dinamika dalam hidupnya. Isyarat hijrah dalam al-Qur’an sebagai berikut ::

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia” (QS. Al-Anfal 74).

Kemudian Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya juga bersabda “Hijrah adalah engkau meninggalkan segala kekejian baik yang tampak ataupun yang tersembunyi. Engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, kemudian engkau disebut sebagai Muhajir sekalipun engkau tetap berada di tempatmu. (HR Ahmad)

Lalu sekarang, kita perlu mengambil spirit yang terdapat dalam semangat Hijrah itu dengan menata bangsa yang besar ini menuju bangsa yang sejahtera, bermoral dan berusaha bangkit dari semua keterpurukan. Jika spirit Hijrah ini dimiliki oleh seluruh elemen bangsa, pemimpin, masyarakat dan semua penyelenggara pemerintahan. InsyaAllah Indonesia akan bangkit dari semua krisis yang selalui meliliti bangsa ini. Belajar kembali kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW suatu keharusan, jika kita ingin berubah. Semoga!

* Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU) Padang Pariaman

Sumber: http://www.nu.or.id