Target Akselerasi Perbankan Syariah 2008 Dinilai Tidak Rasional

Jakarta (14/01) – Target akselerasi aset perbankan syariah menjadi lima persen dari bank konvensional, seperti dicanangkan Bank Indonesia, dinilai banyak kalangan tidak rasional. Kepala Divisi Perencanan Bank Syariah Mandiri, Firman Jatmika, dalam acara seminar “Apakah Benar Akselerasi Perbankan Syariah 2008 Mencapai Lima Persen?” di Jakarta, Senin, mengatakan target maksimal yang akan diraih pada 2008 ini adalah 3,16 peresen.

“Pangsa pasar 3,16 persen tersebut bila semua aksi koporasi perbankan syariah dilakukan pada 2008 ini, yaitu bank BRI telah menjadikan BRI syariah menjadi Bank Umum Syariah, BNI syariah melakukan konversi menjadi Bank Umum Syariah, BCA menyelsaikan akuisisi bank untuk kemudian di konversi menjadi bank syariah,” katanya.

Dengan demikian, menurut dia, diperkirakan aset perbankan syariah akan menjadi Rp59 Triliun adri Rp33 triliun atau 3,16 persen dari aset bank konvensional yang mencapai Rp1873 triliun.

“Padahal kita harus memilki aset sekitar Rp93 triliun agar menjadi lima persen dari aset bank konvensional,” katanya. Untuk itu, pihaknya menilai akselerasi lima persen sangat sulit dicapai.

Pengamat ekonomi syariah Adi Warman Karim menyatakan target lima persen tersebut sulit untuk diwujudkan. Namun demikian, pertumbuhan perbankan syariah akan lebih cepat bila terdapat insentif untuk melakukan pembentukan bank baru.

Misalnya dengan memperingan modal bank syariah baru. Ia menambahkan sesuai ketentuan Bank Indoensia modal minimum bank syariah baru sebesar Rp 1 triliun. Padahal menurut dia bila menakukan konversi ke syariah melalui akuisisi hanya sekitar Rp300-500 miliar.

“Sedangkan proses akuisisinya terlalu lama sebelum di koneversi, sehingga bila ada insenteif yang lebih ringan mendirikan bank syariah baru seperti Rp300-Rp500 miliar maka akan mempercepat pertumbuhan perbankan syariah,” katanya.

Selain itu, menurut dia juga mendorong terjadinya spin off (pemisahan unit usaha syariah menjadi bank umum syariah).

Direktur Syariah Bank BNI Bien Subiantoro mengatakan, dari hitung-hitungan yang dilakukan target lima persen tersebut sulit untuk tercapai.

Ia mengatakan, bila dilihat performance bank konvensional saat ini bagus, kredit tumbuh di atas 20 persen sedangkan pertumbuhan pembiayaan bank syariah mencapai 30 persen.

Namun secara nominal, kredit bank konvensional jauh diatas bank syariah sehingga sulit untuk dikejar. “Jurang antara kredit bank konvensional dan perbankan syariah sangat jauh,” katanya.

Untuk itu, menurut dia salah satu alternatif mepercepat akselerasi adalah dengan program pembentukan bank syariah dari bank milik negara. “BTN misalnya bisa diajadikan sebagai bank syariah, dan ini akan memacu pertumbuhan karena selain bank konevensional berkurang, bank syariah bertambah,” katanya.

Selain itu, juga membuat perturan yang memudahkan konversi cabang dari bank konvensional menjadi cabang bank syariah. “Hal ini akan memacu pertumbuhan bank syariah sedangkan bank konvensional akan berkiurang,” katanya. Ia menambahkan pihaknya telah mengkaji bahwa beberapa tempat memiliki potensi tinggi bila terdapat cabang bank syariah.

“Misalnya Aceh dan Madura,” katanya. Ia menambahkan pihaknya telah mengkaji beberapa daerah untuk melakukan konversi cabang dari konvensional ke syariah. Namun demkikian masih adanya hambatan peratuiran hal itu belum bisa dilaksanakan, katanya.

Semenatar itu, dalam seminar tersebut para penelis sependapat bahwa masalah utama lainnya seperti pajak berganda untuk transaksi mudharabah pada bank syariah, belum adanya sukuk serta intrumen moneter yang tidak menguntungkan bank syariah menjadi hamabtan utama pertumbuhan bank syariah.

Sumber: http://www.antara.co.id

Iklan