Rais Aam: Sosialisasi Khittah Sedang Macet

Pati (19/01) – Khittah NU untuk terbebas dari jerat dunia politik praktis sudah dicanangkan 24 tahun silam, namun hingga kini masih banyak pengurus NU yang asyik bermain politik. Apalagi belakangan semakin banyak saja ketua NU yang ingin menjadi kepala daerah di tempat masing-masing.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH MA Sahal Mahfudh menyatakan, sampai saat ini warga, para kiai dan pengurus NU masih sulit untuk disapih (dipisahkan) dari dunia politik. “Memang kembali ke Khittah ini belum bisa disosialisasikan secara benar sejak dulu, masih terdapat kekurangan, dan kekurangan ini sulit ditutupi karena sudah terlanjur lama,” kata Kiai Sahal saat ditemui di kediamannya, Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati pada Kamis (18/1).

Ia mengaku kesulitan mengubah orientasi berpikir yang sudah terlanjur mengakar itu. Namun Kiai Sahal tidak menyerah. Ia tetap terus menyosialisasikan di berbagai kesempatan.

Untuk terus memompa semangat ber-Khittah juga diakui tidak mudah oleh Kiai Sahal. Apalagi dirinya merasa sendirian dalam melakukan hal itu. Sudah sering ia mengajak anggota yang lain, namun belum mendapatkan respon yang positif. “Kita tidak bisa menjamin berapa lama lagi nilai-nilai Khittah akan bisa terlaksana secara sempurna. Karena sosialisasi Khittah sekarang ini macet. Tidak ada lagi orang yang konsisten di jalur itu,” tegas Kiai Sahal.

Ia juga tidak menampik masih banyaknya orang NU belum paham, atau yang berpura-pura tidak paham terhadap Khittah. Padahal panduan memaknai Khittah (semacam juklak) tertulis juga sudah lama dibuat. Namun masih saja pemahaman Khittah berbeda-beda. “Karena mereka sudah terlanjur ada kesenangan lain. Sudah paham, tapi tidak tega dengan partai dan politik itu,” lanjut Kiai Sahal, yang juga Ketua Umum MUI Pusat.

Anehnya, menurut Kiai Sahal, masih banyak juga tokoh NU yang kelihatan bergulat di dunia politik, namun pada hakikatnya mereka tidak mengerti apa itu arti politik.

Politik itu sendiri, menurut Kiai Sahal, adalah sikap prilaku yang bertujuan untuk kepentingan kenegaraan. Ujungnya kepentingan masyarakat banyak, tapi lewat jalan kenegaraan.

Menurutnya, orang yang benar dan sehat akan berpikiran seperti itu. Repotnya, pengertian politik semacam itu malah tidak dipakai. “Pokoknya dia terjuan di partai politik, katanya sudah politik, belum tentu itu,” tegasnya.

Kembali ia menegaskan bahwa jalan Khittah yang netral dalam pilihan politik, adalah jalan yang terbaik bagi NU. Dari sepanjang sejarah perjalanannya, baik saat menjadi partai politik sendiri, saaat melakukan fusi ke dalam partai politik, hingga mendirikan partai politik sendiri, semua sudah dilakukan. “Hasil, tidak ada yang lebih baik dari jalan Khittah. Sayangnya, sosialisasi itu saat ini masih macet,”kata pemimpin tertinggi NU itu.

Sumber: http://www.nu.or.id