Pemerintah Pertimbangkan Pembebasan PPN dan PPnBM Produk Mebel

Jakarta (31/01) – Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Ambar Tjahyono, mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan untuk membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang dianggap sebagai kendala berkembangnya industri mebel dan kerajinan di tanah air.

“Kendala industri ini (mebel dan kerajinan) masih seputar regulasi perpajakan untuk barang-barang contoh. Pajak yang tinggi pada barang contoh yang diekspor kembali membebani produsen mebel,” kata Ambar, di Jakarta, Kamis.

Ambar mengatakan saat ini masih diusahakan, tapi tampaknya Menteri Keuangan mempertimbangkan untuk membebaskan pajak untuk barang rusak yang harus diekspor kembali ke Indonesia. Selama ini pajak tinggi dikenakan pada produk contoh, cacat, ataupun produk pameran yang hendak dikembalikan lagi ke Indonesia.

“Barang pameran maupun barang contoh yang dimasukan lagi ditetapkan sebagai barang mewah. Pengenaannya sampai 60 persen, karena itu kita produsen lebih senang menjual barang contoh dan barang pameran dengan harga murah daripada dimasukkan lagi ke Indonesia,” katanya.

Ambar memperkirakan pertumbuhan industri mebel tahun 2008 sebesar 10 persen. Optimisme tersebut didasarkan atas meningkatnya nilai ekspor mebel dan kerajinan kayu Indonesia di tahun 2007, yang perkiraannya mencapai 2,6 miliar dolar AS.

Data dari BPS menyebutkan ekspor furnitur kayu (Wooden Furniture) Indonesia periode 2002 hingga 2006 cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2002 ekspor produk tersebut mencapai 630,47 juta dolar AS, sedangkan pada 2006 ekspor mencapai 816,03 juta dolar AS.

Hingga Juni 2007, ekspor furnitur kayu Indonesia tercatat sebesar 459,11 juta dolar AS. Ambar sendiri mengatakan terdapat peningkatan pencapaian sebesar 10,3 persen.

Konsumen utama furnitur kayu Indonesia masih dipegang Amerika Serikat dengan market share sebesar 32,68 persen, yang diikuti oleh Jepang sebesar 11,16 persen, Belanda sebesar sembilan persen, Perancis sebesar 6,65 persen, dan Inggris sebesar 4,6 persen.

Terkait dengan berkurangnya Hutan Tanaman Industri sehingga dikhawatirkan mengganggu sumber bahan baku produk furnitur tanah air. Dia justru mengatakan, kayu untuk bahan baku mebel masih cukup banyak di Indonesia karena jenis kayu di Indonesia sangat banyak, bahkan kayu mangga pun dapat dijadikan bahan baku mebel.

Sumber: http://www.antara.co.id