Transaksi Syariah Tidak Spekulatif

Wawancara dengan Adiwarman Azwar Karim

Perbankan syariah tidak mengakomodir transaksi spekulatif sehingga risiko kredit macet lebih kecil dibanding perbankan konvensional. Karenanya, perbankan syariah mampu meredakan kemerosotan kredit serta likuiditas seperti yang terjadi pada sistem perbankan AS.

Citibank atau Merrill Lynch dan beberapa lembaga investasi di AS yang terkena krisis subprime kini sahamnya dibeli dari dana-dana asal Timur Tengah, papar Adiwarman Azwar Karim, Direktur Utama Karim Business Consulting (KBC), di Jakarta, Senin (11/2). Artinya, bukan hanya berpotensi atau tidak, tapi juga sudah terbukti dan sudah terjadi.

Dalam wawancara dengan INILAH.COM, Adiwarman mengungkapkan fakta bagaimana perbankan syariah tangguh menghadapi badai krisis. Berikut petikannya.

Apakah perbankan syariah bisa menjadi obat bagi krisis ekonomi yang mengancam AS maupun kawasan Eropa?

Ada dua hal. Yang pertama, memang kawasan Timur Tengah sekarang boleh dibilang menjadi pemain penting untuk mengatasi kesulitan atau krisis ekonomi. Misalnya, beberapa bank-bank besar di Amerika yang mengalami kesulitan akibat subprime crisis, sahamnya dibeli pemilik modal dari Timur Tengah.

Jadi sekarang ini pelaku bisnis melihat dana-dana dari Timur Tengah menjadi salah satu alternatif penyelamat bagi perusahaan-perusahaan mereka yang jatuh bangkrut karena kesulitan keuangan.

Yang kedua, selain mereka melihat dana-dana dari Timur Tengah ini menjadi sumber modal untuk menyelamatkan krisis, juga memang pada sistem ekonomi syariah, harus selalu ada underline aset-nya. Artinya, transaksi perbankan syariah tidak membolehkan transaksi yang spekulatif.

Lantas apa implikasinya bagi perbankan di AS dan Eropa itu?

Dengan masuknya dana-dana Timur Tengah baik ke AS ataupun ke Eropa, akan meminimalisir gejolak ekonomi yang terjadi di negara-negara tersebut. Karena praktik spekulatif diminimalkan dengan masuknya dana-dana dari Timur Tengah itu.

Berarti kesempatan bagi sistem perbankan syariah untuk tumbuh makin terbuka. Apa sebenarnya kelebihan perbankan syariah?

Kalau soal kemerosotan kredit, itu lazim. Baik di bank syariah maupun konvensional. Begitu juga dengan kredit macet. Tapi yang menarik adalah perbankan syariah tidak melakukan transaksi-transaksi yang sifatnya spekulatif. Maka, risiko kreditnya lebih kecil dari pada kredit macet yang muncul di perbankan konvensional.

Apakah bank syariah sendiri benar-benar siap meredakan kemerosotan kredit dampak dari krisis di AS itu?

Kenyataannya bukan siap lagi, bahkan sudah masuk. Jadi, misalnya seperti Citibank, Merrill Lynch dan beberapa lembaga investasi di Amerika yang terkena krisis subprime kemudian sahamnya dibeli dari dana-dana asal Timur Tengah. Jadi bukan hanya berpotensi atau tidak, tapi juga sudah terbukti dan sudah terjadi.

Di Indonesia sendiri seperti apa?

Indonesia, imbasnya kan belum terasa. Karena bank-bank di Indonenia itu kan tidak diperbolehkan oleh Bank Indonesia untuk masuk ke transaksi derivatif. Sehingga, jarang menginvestasikan dananya ke bentuk subprime tersebut. Selain karena memang dampaknya belum begitu terasa di Indonesia.

Sumber: http://www.inilah.com