Geliat Asuransi Syariah

Jakarta (14/03) – Asuransi syariah kini jadi primadona baru. Asuransi ini punya prinsip saling melindungi dan menolong. Tak ada unsur judinya. Dengan tetap menganut pakem tolong-menolong asuransi syariah melenggang di tengah menjamurnya asuransi-asuransi konvensional. Bahkan, asuransi konvensional pun berbondong-bondong memeluk syariah sebagai salah satu tombak bisnisnya.

Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) Ma’ruf Amien mengatakan, asuransi syariah memiliki kelebihan dibandingkan asuransi konvensional. Menurutnya, kelebihan asuransi ini tidak adanya unsur judi alias gambling. “Tidak gambling, tak ada unsur judinya,” katanya kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (14/3).

Sedangkan asuransi konvensional, menurutnya, hanya memiliki dua kemungkinan: kalau bukan perusahaan yang untung, maka investor yang untung. Beda dengan asuransi syariah yang memiliki prinsip takaful, saling membantu dan tolong-menolong. “Tidak ada salah satu yang dirugikan,” katanya.

Ma’ruf Amien mengingatkan prinsip asuransi syariah yakni usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang, melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru. Sementara pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui perjanjian (akad) yang sesuai dengan syariah.

DSN, lanjut Ma’ruf, telah mengoptimalkan penetrasi pasar asuransi syariah di Tanah Air. Salah satunya dengan terus-menerus melakukan sosialisasi dan penguatan regulasi.

Sampai 14 Maret 2008 sudah terdaftar 40 perusahaan asuransi yang bergerak di sektor syariah. “Asuransi lokal bahkan intenasional juga ikut di bisnis asuransi syariah ini seperti Prudential Life,” tukas Kyai Ma’ruf.

Ke-40 asuransi syariah itu di antaranya, PT Asuransi Takaful Umum, PT MAA Life Assurance, PT Great Eastern Life Indonesia, PT AJB Bumiputera 1912, PT Asuransi Jiwa BRIngin Life Sejahtera, PT Asuransi Central Asia, PT BNI Life Indonesia, PT Asuransi Adira Dinamika, serta PT Asuransi Allianz Life Indonesia.

Berbeda dengan Ma’ruf, praktisi asuransi Andri Irwanto mengatakan, sebenarnya asuransi syariah sama saja dengan unit link biasa. Prinsip tolong-menolong (takaful) baik dalam asuransi konvensional maupun syariah tetap ada. “Itu sama,” katanya. “Cuma yang beda adalah pengelolaannya.”

Dana asuransi syariah pengelolaanya di Islamic Index dan tidak masuk ke saham-saham umum. Kalau syariah, maka dananya harus dikelola secara halal. Sedangkan di asuransi konvensional bisa saja disimpan di saham yang bergerak di sektor usaha minuman (keras), dan rokok.

Sedangkan syariah, uangnya tidak boleh dikelola di bidang itu. “Cuma itu aja sih prinsipnya,” tandas Andri. Sedangkan faktor gambling kedua-duanya baik syariah maupun konvensional sama-sama memiliki unsur itu. “Yang namanya investasi semuanya ada unsur gambling-nya meskipun itu syariah.”

Sekali lagi, Andri menegaskan, yang dititikberatkan adalah bagaimana menjalankan bisnis dengan uang yang beredar itu adalah uang yang halal sesuai syariat Islam. “Itu saja bedanya, sedangkan instrumennya sama saja semuanya,” Andri menegaskan.

Makin tingginya kesadaran dan pengetahuan tentang syariah membuat asuransi jenis ini bakal terus meningkatkan penetrasi pasarnya. Tinggal bagaimana dukungan pemerintah agar bisnis ini tidak hanya menguntungkan pelaku usaha tetapi juga para nasabah asuransi.

Sumber: http://www.inilah.com