Mengintip Vietnam Menggenjot Devisa

Jakarta (14/04) – Vietnam kini menjadi negara tujuan ekspor potensial. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyarankan melakukan marketing intellegence untuk memastikan kebutuhan pasar di negara itu sekaligus menyerap ilmu menggenjot ekspor di tengah lesunya ekonomi global.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengeluarkan jurus baru untuk menggenjot peningkatan devisa dari ekspor. Jurus baru itu yakni market intelligence, berupa survei pasar dan selera konsumen di Vietnam agar produk dalam negeri bisa menembus pasar. “Tadi arahan dari Wapres kami diminta untuk melakukan market intelligence. Untuk survei market kita akan libatkan staf KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan konsultan setempat” ujar Dubes RI untuk Vietnam, Pitono Purnomo, di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (14/4).

Dengan melakukan market survei, pemerintah akan melihat secara realistis di mana kelemahan dan keunggulan dalam negeri. Pasalnya, volume perdagangan antara Indonesia dan Vietnam pada tahun 2007 sudah mencapai lebih dari US$ 2 miliar. Indonesia pun mencapai surplus dalam perdagangan 2 tahun terakhir.

“Jadi instead kita ini bersaing, bagaimana kita bangun kemitraan karena kita juga sesama anggota ASEAN dan kita juga punya ikatan historis yang kuat,” jelasnya.

Jurus baru ini selayaknya tidak hanya dilakukan terhadap Vietnam, tetapi juga terhadap pasar-pasar ekspor Indonesia. Apalagi saat ini pemerintah terpaksa merevisi target pertumbuhan ekspor tahun ini ke bawah yang sebelumnya dipatok di level 14,5%.

Hal ini dikarenakan perlambatan ekonomi dunia yang menyebabkan permintaan ekspor akan lebih rendah dibanding 2007. Untuk menjaga pertumbuhan ekspor tetap kuat di tahun ini, pemerintah tengah mencari pasar ekspor di negara-negara yang tidak mengalami gangguan pertumbuhan ekonomi.

“Pasar yang tinggi pertumbuhannya yaitu Timur Tengah dan yang nontradisional seperti Eropa Timur dan Rusia. Itu promosinya harus kita galakkan untuk tahun ini di wilayah yang non tradisional,” papar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, di Jakarta, baru-baru ini.

Ekspor Indonesia selama ini ini didominasi oleh komoditas primer yang memang tidak begitu terpengaruh oleh pelambatan ekonomi global. Kebetulan komoditas primer sedang booming seiring tinggnya harga komoditas pangan dan minyak.

Namun, di luar komoditas primer, ekspor sektor manufaktur akan menurun. Terutama pada sektor tekstil, sepatu, dan elektronika. Sebab, negara besar tujuan ekspor, terutama AS dan Jepang, perekonomiannya terancam resesi.

Dengan melakukan market intelegence itu diharapkan dapat diketahui kebutuhan pasar di negara tujuan ekspor. Sehingga produk ekspor akan terarah menyasar konsumen di masing-masing negara.

Vietnam bisa menjadi sandaran peningkatan ekspor sekaligus sebagai salah satu negara alternatif tujuan produk-produk asal Indonesia. Pemerintah menargetkan nilai perdagangan Indonesia ke Vietnam akan tumbuh 15%.

Produk yang menjadi andalan untuk mendongkrak nilai ekspor adalah produk elektronik, komponen kompoter, besi, dan baja. Sedangkan Vietnam merupakan eksportir pangan nomor dua dunia terutama di sektor beras.

Untuk komoditi perdagangan lainnya, baik Indonesia dan Vietnam sama-sama mengandalkan produk perkebunan, seperti kopi. Namun, Vietnam memiliki volume ekspor yang lebih besar daripada Indonesia. Hal ini mungkin bisa digali lebih jauh untuk melakukan kerja sama.

Indonesia juga bisa berkaca kepada Vietnam dalam urusan ekspor produk pertanian.

Menurut Deputi Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan di Vietnam, Luong Le Phuong, ekspor produk pertanian dan kehutanan negara tersebut selama kuartal I 2008 mencapai US$ 3,2 miliar naik 11,6% di banding setahun sebelumnya.

Produk-produk pertanian meningkat 11,5%, menjadi US$ 1,7 miliar, produk kehutanan dan furnitur dari kayu naik 12% atau mencatat pendapatan US$ 712 juta dan produk-produk akuatik meningkat 11% mencapai US$ 800 juta.

Vietnam berencana untuk melakukan perdagangan bebas yang tergantung pada sektor ekspor dan investasi asing. Perusahaan AS seperti Intel Corp dan Ford Motor Co menanamkan investasi yang cukup besar di Vietnam.

Sebelumnya AS melakukan embargo terhadap Vietnam untuk urusan ekonomi selama kepemimpinan Bill Clinton pada 1994. Saat ini konsumen AS telah membeli seperlima dari total ekspor Vietnam, sehingga membantu meningkatkan pertumbuhan ekonominya hingga mencapai 7,5% semenjak 2000.

Vietnam kini dikenal sebagai ‘China-lite’ dan pada 2006 membukukan pertumbuhan ekonomi hampir 8,2%. Vietnam juga berhasil meraup investasi asing hingga US$ 9,5 miliar.

Sumber: http://www.inilah.com