Wapres: Jangan Pahami Syariah Kulitnya Saja

Jakarta (16/04) – Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Rabu (16/4) pagi, meminta umat Islam jangan memahami syariah hanya kulit-kulit luarnya saja. Akan tetapi, pahami syariah dengan keyakinan. Hal itu disampaikan Wapres Kalla saat memberikan pengarahan di acara pembukaan Semiloka Mahasiswa dan Kongres ke-7 Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia (Formasi) di Istana Wapres, Jakarta.

Hadir dalam acara itu Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat, Jakarta, Komaruddin Hidayat serta sekitar seratusan mahasiswa dan sejumlah dosen. “Tidak karena dia berbahasa Arab sehingga itu dianggap itu syariah dan sudah betul. Akan tetapi, harus dipahami syariah itu dengan betul, bagaimana keadilannya, kemaslahatannya bagi umat dan kemampuan serta kaitannya dalam melaksanakan semangat kebangsaan kita. Jadi, bukan pahami kulit-kulitnya saja,” ujar Wapres.

Di awal sambutannya, Wapres Kalla mengaku tersinggung jika ada orang yang menyatakan ingin melaksanakan syariat Islam. “Seolah-olah kita tidak menjalankan syariat Islam. Padahal, sejak saya dilahirkan, saya sudah menjalankan syariat Islam di antaranya aqidah, ibadah dan muamalah. Coba tunjukkan kepada saya satu saja apa syariat Islam yang belum dijalankan di Indonesia?, “tambah Wapres.

Menurut Wapres, umat Islam sering sempit melihat pengertian syariah. “Orang jadi sering salah paham tentang syariah. Begitu juga mereka yang non-muslim jadi keliru dan khawatir dengan adanya syariat Islam. Syariat Islam adalah bagaimana kita menjalankan aqidah, ibadah dan muamalah,” lanjut Wapres.

Wapres mengatakan bahwa persoalan syariah sebenarnya diterima oleh sebagian umat Islam dan ditolak sebagian non-muslim. “Yang Islam meminta syariah dilaksanakan antara lain supaya hukum rajam bisa dilaksanakan. Sedangkan yang non-muslim takut dilaksanakan hukuman potong tangan. Padahal, dua-duanya tidak bisa dilaksanakan di Indonesia. Di negara muslim saja seperti Malaysia dan negara-negara Timur Tengah tidak ada yang melaksanakan, kecuali Arab Saudi,” jelas Wapres.

Kedua hukuman Islam itu tidak bisa dilaksanakan antara lain karena selain butuh empat saksi untuk dirajam, juga hukuman potong tangan dilaksanakan dulu karena tidak ada penjara. Sekarang ini sudah banyak penjara.

Sumber: http://www.kompas.co.id