Gara-gara Kawin Banyak Peserta UN Absen

Gresik (23/04) – Sama seperti hari pertama, hari kedua ujian nasional (UN) tingkat SMA di Gresik, 11 dari 11.012 orang peserta UN absen. Mereka putus sekolah atau drop out kebanyakan dengan alasan sudah menikah sebagian memilih bekerja ke luar negeri sebagai TKI/TKW, dan satu peserta meninggal dunia sebelum pelaksanaan ujian.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Gresik Chusaini Mustaz Rabu (23/4) menyebutkan siswa yang drop out (DO) untuk SMA sebanyak dua siswa yakni dari SMA Negeri Sidayu dan SMA Kanjeng Sepuh Sidayu. Untuk Madrasah Aliyah (MA) siswa DO empat orang yakni dua siswa dari MA Negeri Bungah, dan dari MA Mambaul Ihsan Sidayu serta MA Darut Taqwa Manyar masing-masing satu.

Satu siswa dari MA Radenpaku Wringinanom meninggal. Adapun siswa SMK yang DO ada empat yakni dari SMA Taruna Jaya, SMK Al Azhar dan SMK Semen Gresik, serta SMK Yasmu Manyar. “Semua DO dengan alasan menikah,” kata Mustaz.

Sementara itu terkait sejumlah lembar jawaban ujian nasional (LJUN) yang rusak saat dihapus, Mustaz menyatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur apakah itu memengaruhi saat koreksi LJUN. “Persoalan ini sudah ditangani provinsi dan katanya tetap terbaca scanner sehingga tidak memengaruhi jawaban saat dinilai,” kata Mustaz.

Lembar jawaban yang rusak saat dihapus dinilai cukup mengganggu konsentrasi peserta UN. Hal itu setidaknya ditemukan di SMA Negeri 1 Gresik, SMA Semen Gresik, SMA Nahdlatul Ulama Gresik dan sejumlah sekolah di Manyar. LJUN rusak saat siswa ingin mengganti jawaban awal dengan pilihan jawaban yang baru misalnya semula memilih A lalu dihapus untuk diubah jawabannya jadi B.

Saat dihapus itulah lembar jawaban rusak bahkan hingga robek berlubang. “Ada tiga kemungkinan, pertama kertas untuk LJUN kurang bagus, penghapus tidak pas dan tekanan saat menghapus terlalu kuat,” ujarnya.

Selain ada temuan lembar jawaban rusak, juga ada temuan soal yang dibagikan dalam satu ruangan sama satu tipe semua seperti di salah satu sekolah di Panceng. Seharusnya tipe soal itu disilang menjadi A dan B agar mengurangi kemungkian peserta unas saling contek.

Bahkan ada soal yang kurang seperti soal Bahasa Indonesia kurang halaman 10, 11, 12 dan 13 sehingga membuat peserta UN sempat resah. Anggota Tim Pemantau Independen Unas Gresik Nur Faqih menyatakan di antara peserta juga ada yang salah tulis, misal nama sekolah SMA Nahdlatul Ulama tertulis Nahdlatul Ulum. “Namun pada ujian kedua ini belum ditemukan adanya kejanggalan atau hambatan teknis,” ujarnya.

Sumber: http://www.kompas.com