Maling Kayu dari Negeri Seberang

Jakarta (23/04) – Hipokritis negara-negara maju membuat gelondongan kayu ilegal dari Indonesia tiada tertahankan. Dalam 10 tahun terakhir, negara dirugikan sedikitnya Rp10 triliun.

Pembalakan kayu wajar membuat pemerintah geram. Sudah lama para pencuri itu lalang di perbatasan Kalimantan-Serawak, atau di daratan Riau. Aparat hanya baru-baru ini saja bertindak frontal. Sebelumnya, sempritan aparat seperti mandul. Wajar saja karena hukum diperjualbelikan. Wajar pula karena sempritan berbunyi di tengah korupsi-kolusi.

Mantan Sekjen Dephut, Soeripto pernah menyatakan, kasus pencurian itu sudah berlangsung puluhan tahun. Negara dirugikan minimal Rp10 triliun akibat pencurian kayu dalam 10 tahun terakhir ini. “Itu angka yang minimal, sangat mungkin lebih dari itu,” kata Soeripto, anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Malaysia tercatat sebagai negara pengekspor utama kayu tropis dunia. Padahal, hutan tropis mereka tak sampai sekuku milik Indonesia. Negeri serumpun yang mempunyai hutan produksi 11,8 juta hektar tersebut mampu mengekspor kayu yang sangat besar ke Uni Eropa: 5 juta m3 kayu bulat dan 3 juta m3 kayu gergajian tiap tahun. Di samping itu, Malaysia juga mengekspor kayu tropis ke China sebesar 4,5 juta m3 per tahun.

Prestasi Malaysia sebagai pengekspor kayu tropis yang amat besar itu memang patut dipertanyakan. “Lebih heran lagi, belakangan China juga tumbuh menjadi pengekspor kayu tropis ke Eropa, Amerika, dan Jepang,’’ kata Prof Hadi S Alikodra, guru besar kehutanan IPB. Layak dipertanyakan, dari mana kayu tropis China itu.

Lembaga kajian kehutanan independen di Jakarta, Greenomics, dalam pernyataannya akhir tahun lalu, sangat menyayangkan, kenapa AS, Eropa, dan Jepang percaya saja bahwa kayu tropis dari China itu memenuhi standar internasional. Salah satu standar itu adalah kayu diperoleh dari hutan produksi lestari. Padahal, jelas-jelas kedua negeri itu tidak mempunyai hutan tropis luas yang mampu menghasilkan produk kayu sebanyak itu.

Amerika, misalnya, mengimpor kayu tropis dari China dan Malaysia sebesar US$23,3 miliar per tahun, Uni Eropa US$13,2 miliar per tahun, dan Jepang US$11,8 miliar per tahun. Dari mana kayu tropis yang diekspor Malaysia dan China tersebut? Mereka mestinya tahu bahwa kayu-kayu itu tidak mungkin sepenuhnya berasal dari kedua negara tadi.

Melihat maraknya pencurian kayu dari Indonesia, AS, Eropa, dan Jepang seharusnya curiga, dari mana kayu-kayu tropis itu. Faktanya, ketiga negara adidaya itu diam seribu bahasa. Itulah sebabnya, Greenomics menuduh negara-negara maju bersikap munafik. Di satu sisi lantang mengkritisi kerusakan hutan tropis di Indonesia, di sisi lain mereka bertindak sebagai penadah kayu curian asal Indonesia.

Karena itu, dalam hal kerusakan hutan tropis Indonesia, negara maju sebetulnya punya kontribusi. Dalam kajian Greenomics Indonesia, data perdagangan kayu dunia itu aneh. Soalnya, Malaysia juga menyatakan Indonesia sebagai salah satu pemasok kayu bulat ke negerinya. Padahal sejak 1985, Indonesia telah melarang ekspor kayu bulat untuk mengembangkan industri hilir domestik.

Kajian Greenomics itu diperoleh dari hasil analisis laporan tahunan produk-produk kayu tropis di pasar dunia tahun 2004–2007 yang dikeluarkan Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa bersama FAO. Selama empat tahun itu, tercatat Malaysia mengekspor kayu bulat sebanyak 20 juta m3 dan kayu gergajian 12 juta m3 ke pasar Eropa.

Menurut Greenomics, jika sistem tebang lestari diberlakukan di Malaysia, seperti klaim negara itu di berbagai konferensi lingkungan hidup internasional, termasuk di Bali belum lama ini, maka Malaysia hanya dapat mengekspor 3,6 juta m3 kayu bulat per tahun.

Yang jadi soal, Malaysia mengaku bahwa produksi kayunya mencapai 35–40 juta m3 per tahun. Di pihak lain, Indonesia yang memiliki 38,8 juta hektare hutan produktif hanya menghasilkan 12 juta ton kayu bulat per tahun secara lestari (60 juta m3 dalam lima tahun). Jumlah tersebut masih melebihi kebutuhan industri kayu nasional yang mencapai 40–45 juta m3 dalam lima tahun (2002–2007). “Informasi bahwa Malaysia sebagai penadah kayu curian sebetulnya sudah lama didengar pemerintah Indonesia,’’ kata Prof Hadi Alikodra. Sayangnya, law enforcement’ lemah dan loyo di Indonesia. Dan, akhirnya kita yang merugi pula. Sudah merugi, tersudut pula oleh tudingan negara-negara hipokrit itu.

Sumber: http://www.inilah.com