Pungutan Biaya Kunjungan Perpustakaan; Mencerdaskan atau Membodohkan

Oleh: Tim Redaksi

Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah fakultas terbesar kedua di lingkungan UIN Jakarta, setelah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Tentunya juga dituntut untuk dapat melayani seluruh kebutuhan mahasiswa yang jumlahnya tak sedikit tersebut. Salah satunya adalah membuka layanan Perpustakaan, sebagai pusat intelektualisme, baik dalam memenuhi segala literatur maupun informasi yang dibutuhkan civitas akademika.

Kini Perpustakaan FSH telah berhasil menjadi perpustakaan yang sering dirujuk oleh banyak kalangan dalam memenuhi referensi buku dll. Kelengkapan literatur mungkin menjadi penyebab utama membludaknya akademisi yang berkunjung ke Perpustakaan FSH tersebut.

Berita kesuksesan ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi FSH, yang memang mempunyai misi untuk menjadi pusat laboratorium syariah yang diperhitungkan. Sehingga segala sesuatu yang menjadi sarana dan prasarana untuk menunjangnya pun harus dicapai, termasuk dalam hal pemenuhan fasilitas perpustakaan.

Prestasi FSH dalam mengelola perpustakaan tersebut memang harus diakui, sehingga mampu menyihir para pengembara intelektual untuk terus menambah dan menambah sederet daftar literatur. Namun sayang, prestasi tersebut terkesan salah urus. Sehingga kebijakan yang ditetapkan pun menuai kritik.

Hal ini ditunjukkan dengan kebijakan kontroversial mengenai penetapan pungutan biaya berkunjung bagi para akademisi yang ingin berkunjung ke Perpustakaan FSH. Hanya untuk membaca saja, pengunjung dari UIN Jakarta (selain FSH) harus merogoh kocek Rp.3.000, dan Rp.5.000 untuk pengunjung dari luar UIN Jakarta. Apalagi afiliasinya, kalau bukan materialisasi lembaga pendidikan???

Kembali pada pokok masalah. Masalah utamanya adalah membludaknya jumlah pengunjung Perpustakaan FSH. Sementara solusi yang ditempuh untuk menekannya adalah dengan memungut biaya berkunjung. Asumsinya adalah semakin tinggi biaya yang ditetapkan maka akan semakin menekan jumlah pengunjung. ASUMSI CERDAS atau BODOH ya???

Lalu, apakah dengan kebijakan tersebut para akademisi semakin nyaman? Apakah dengan membatasi akses tersebut mahasiswa bisa semakin cerdas??? Atau justeru semakin bodoh???

Karena pokok masalahnya adalah membludaknya jumlah pengunjung, maka kebijakan tersebut bukanlah solusi terbaik. Sungguh sangat disesalkan, hampir saja minat baca mahasiswa tumbuh, namun lagi-lagi materi menjadi penghalangnya. Tak tertutup kemungkinan, mahasiswa akan semakin kerdil dalam berpikir karena akses yang dimiliki kini mulai tertutup. Ke Perpustakaan FSH??? TAKUUUUUT.