Jejak Langkah Tokoh Pemikir Sejarah

Peresensi: Muhammad Ali Fakih AR
Judul Buku: 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah
Penulis: Marnie Hughes-Warrington
Penerjemah: Abdillah Halim
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal Buku: xxxix+695 Halaman

Buku 50 Tokoh Penting Dalam Sejarah hadir dalam rangka memberikan panduan kepada pembaca untuk memahami historiografi sembari menyelami pemikiran para tokohnya masing-masing dari lajur perkembangan historical knowledge dari zaman kuno hingga sekarang. Terdapat 50 tokoh pemikir sejarah (tingkers on history) yang menjadi perhatian dasar penulis buku ini untuk mencoba menjelaskan tentang fakta sejarah, pola dan karakteristik pemikiran 50 tokoh itu serta pengaruhnya terhadap ilmu historiografi dikemudian hari.

Kontribusi terpenting buku ini bagi mereka yang mempelajari ilmu sejarah adalah penyajiannya yang praktis tentang pemikiran-pemikiran pokok para filsuf sejarah yang dikombinasikan dengan informasi biografisnya. Buku ini bakal merangsang dan membuat penasaran pembaca untuk menelusuri lebih jauh historiografi dunia menurut pemikiran para tokohnya masing-masing dalam setiap zamannya. Buku ini juga dilengkapi dengan rujukan-rujukan penting pada bagian akhir dari setiap pembahasan si tokoh dan pemikirannya, sehingga sangat berguna untuk lebih memperluas memahami si tokoh dan pemikirannya tentang sejarah.

Meskipun tanpa adanya distingsi dari penulisnya tentang metode yang dipakai secara spesifik untuk membahas pemikiran 50 tokoh pemikir sejarah yang dipilihnya, ketika benar-benar menyelami buku ini, seperti ada penekanan terhadap suatu corak deskripsi cara-pandang terhadap sejarah yang terbangun antara satu kelompok sejarawan dengan kelompok lainnya. Secara deskriptif, penulisnya menyuguhkan sejumlah tokoh sejarawan yang lahir dari peradaban China, Yunani hingga Roma, mulai dari abad-abad sebelum masehi, pertengahan, ingga Eropa kontemporer, Amerika, Afrika dan Australia. Bisa disebut disini bagaimana pengaruh Bede terhadap para penerusnya hingga sampai Braudel, dari Ssu-ma Chien hingga Ibnu Khaldun, Marx hingga Mechelet, Ranke hingga Rowbotham, Foucault hingga Fukuyama.

Buku ini membahas dua studi pokok, yaitu pemaparan tentang perkembangan pemikiran sejarah selama kurun waktu tertentu, sejak Herodotus (484-424 SM) hingga Francis Fukuyama (1952-sekarang), dan teori umum tentang struktur mode of thought (moda pemikiran) yang disebut dengan hisrotical (berfikir historis) hasil perasan dari pemikiran mereka.

Para filsuf sejarah kuno, pertengahan dan modern memandang kesadaran sejarah (historical consciousness) sebagai sebuah moda pemikiran yang khusus dan pengetahuan sejarah (historical knowledge) adalah domain otonom di dalam spektrum ilmu humaniora dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, para pemikir sejarah abad XX atau dikenal sebagai tokoh historiografis post-modernis lebih merasa kurang percaya diri dalam menerima sejarah sebagai sebuah pengetahuan. Mereka mulai meragukan apa yang dinamakan historical consciousness.

Sekalipun demikian, tampaknya hal ini tidak akan menghentikan laju para sejarawan dan filsuf sejarah untuk terus melahirkan pemikiran-pemikian alternatif bagi ilmu sejarah itu sendiri. Kajian yang terus-menerus terhadap pemikiran sejarah akan terus dilakukan untuk kemajuan ilmu sejarah. Tidak lain karena lajur dua pemikiran tersebut adalah karena adanya pengaruh ilmu-ilmu lain, perkembangan ideologi dan situasi dunia yang terus berubah. Karena pemikiran sejarah selalu paralel dengan perkembangan sejarah itu sendiri. Pemikiran sejarah selalu parelel dengan perkembangan sejarah itu sendiri.

Hal ini tampak, misalnya, dari pemikiran Francis Fukuyama tentang ‘akhir sejarah’. Pemikiran Fukuyama ini dapat dipahami dalam konteks sejarah pertarungan ideologi-ideologi besar, kemunduran ideologi sosialis-komunis dan berkembangnya pemikiran demokrasi liberal Barat dan superoritas negara-negara Super Power.

Juga, berdekatannya antara ilmu-ilmu lain dengan historiografi. Diketahui pada abad XX, terutama setelah aliran Anales dimana sebagai pelopornya adalah March Bloch dan Lucient Febvre, bahwa ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, psikologi, dan antropologi semakin populer sebagai auxillary science bagi ilmu sejarah, yang mempengaruhi prakarsa penumbangan atas dominasi sejarah politik dan lahirnya sejarah sosial.

Dari sini penting diperhatikan bahwa bentuk sejarah tidak hanya ditentukan oleh sejarawan dan oleh mereka yang mendukung pentingnya soal itu, tetapi arus zaman turut menjadi atau bahkan lebih dominan untuk dipahami sebagai roda-kehidupan yang tidak akan pernah berhenti sebelum mengalami akhir riwayatnya. Bagaimanapun, bentuk-bentuk penelusuran yang membentuk pemikiran tentang sejarah, jenis-jenis isu yang dibahas dan cara-pandang para sejarawan dikonstruk dan ditanggapi menurut geneologi interpretasinya masing-masing dari sudut yang berbeda-beda.

Disinilah letak pentingnya bahwa walaupun para filsuf post-modern meragukan akan berkembangnya kajian tentang historical consciousness, bukan berarti tokoh-tokoh historiografi yang terekam dalam buku Marnie Hughes-Warrington ini merupakan suatu akhir dari generasi pemikir sejarah. Historical knowledge akan terus berlanjut bersama dengan lajur perubahan zaman dari waktu ke waktu di hari depan yang tentunya dengan metode dan interpretasi baru yang lebih berkembang. Itu karena tidak dapat dielakkan bahwa memang historical knowledge menemukan bentuknya sendiri secara terus-menerus dan berkesinambungan dari pengaruh ilmu-ilmu lain dan perkembangan ideologi serta situasi dunia yang terus saja berubah.

* Penulis adalah peminat sejarah bergiat di I: BOEKOE Yogyakarta.

Sumber: http://www.gp-ansor.org