Unjuk Rasa di Depan Gedung DPR/MPR Berakhir Rusuh

Jakarta (24/06) – Unjuk rasa elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Selasa, memanas sehingga terjadi bentrokan dengan aparat keamanan.

Bentrokan mahasiswa dengan aparat kepolisian terjadi setelah mahasiswa merangsek brigade pertahanan polisi yang menjaga gedung parlemen.

Mahasiswa kemudian menjebol pagar pembatas jalan tol dalam kota di depan gedung parlemen dan memblokir jalan tol yang mengakibatkan kemacetan kendaraan.

Di ruas jalan tol dalam kota, mahasiswa membakar ban bekas. Mahasiswa juga melemparkan batu ke arah brigade polisi.

Aparat kepolisian yang mengerahkan lebih dari sepuluh kendaraan “water canon” termasuk kendaraan pemadam kebakaran kemudian menyemprotkan air ke kelompok pengunjuk rasa.

Mahasiswa lari kucar-kacir terkena semprotan air dan polisi kemudian memburu mahasiswa sampai ke dalam ruas jalan tol.

Setelah mahasiswa kabur, polisi kemudian membersihkan jalan tol dari ban bekas dan bebatuan dengan menyemprotkan air.

Polisi akhirnya membuka kembali arus jalan tol dalam kota di depan gedung DPR/MPR setelah bersih dari bebatuan dan ban bekas yang dibakar.

Selanjutnya, tiga kendaraan “water canon” yang dikerahkan di ruas jalan tol, dan semua kendaraan “water canon” yang dikerahkan untuk menyemprot mahasiswa ditarik kembali ke dalam gedung DPR/MPR.

Aparat kepolisian yang bersenjata pentungan dan melindungi diri dengan tameng dan helm, juga ditarik lagi ke balik pagar dalam gedung DPR/MPR.

Di beberapa tempat, pagar pemisah tol dalam kota rusak terkoyak. Kerusakan paling parah terjadi di pagar jalan tol di depan gedung DPR/MPR yakni sejauh 30 meter.

Arus jalan tol dalam kota perlahan-lahan mulai bergerak, tetapi ruas jalan dari Semanggi menuju Slipi masih tertutup.

Aksi mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM itu, tidak saja memporak-porandakan pagar pembatas jalan tol, tetapi juga membobol dan merobohkan pagar gedung DPR/MPR.

Pagar kokoh yang terbuat dari besi dengan tiang-tiang beton berkonstruksi kuat, dijebol massa pengunjuk rasa, sebelum mereka dibuat kocar-kacir oleh polisi dengan semprotan air.

Petugas Pamdal DPR berusaha mendirikan kembali pagar yang roboh.

Kelompok pengunjuk rasa yang menolak kenaikan harga BBM tersebut terdiri atas beragam unsur, antara lain Solidaritas Mahasiswa Universitas Nasional (Unas), Jaringan Aktivitas Pro-Demokrasi (Prodem), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), dan Solidaritas Buruh Maritim dan Nelayan Indonesia (SBMNI).

Mereka datang ke lokasi demo dengan menggunakan sekitar 30 kendaraan angkutan umum bus sedang seperti metromini dan kopaja.

Sumber: http://www.antara.co.id