Menyoroti Isra’ Mi’raj; Sebuah Perspektif terhadap Aspek Tersirat dalam Isra’ Mi’raj

Oleh: Masbahur Roziqi

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu hari besar umat Islam di seluruh dunia. Hari besar ini diperingati untuk mengingat kembali perjalanan Rasulullah SAW dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Bila dijadikan beberapa fragmen, maka kata Isra’ Mi’raj ini dapat dibagi pada dua kata yaitu Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti perjalanan Rasulullah dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj berarti perjalanan Rasulullah dari masjidil Aqsa naik ke tiap langit sampai Sidratul Muntaha. Segala sesuatu memiliki hubungan sebab akibat, dalam hal ini peristiwa Isra’ Mi’raj memiliki latar belakang tersendiri. Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun kesedihan, sebuah masa ketika nabi SAW kehilangan dua orang yang menjadi pilar perjuangannya, orang yang dicintainya, dikasihi, sangat dihargai, bahkan melebihi rasa sayang pada diri beliau sendiri. Dua orang tersebut adalah Abu Thalib (paman Rasulullah SAW) dan Siti Khadijah (istri Rasulullah SAW), dua orang yang selalu mendukung dan membantu perjuangan Rasulullah SAW.

Rasulullahpun sangat sedih menyikapi hal ini, sehingga Allah kemudian memerintahkan malaikat Jibril untuk memperjalankan Rasulullah dari masjidil Haram (Makkah) ke masjidil Aqsa (Palestina) untuk kemudian menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa ini berlangsung hanya dalam waktu semalam, sebuah waktu yang sangat pendek atau dapat dikategorikan perjalanan luar biasa.

Perjalanan tersebut bila ditelaah memiliki suatu misi dari Allah SWT, yaitu pemberitahuan hal ghaib dan pemberian perintah sholat dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Pemberitahuan hal ghaib dapat dilihat dari kunjugan Rasulullah ke surga dan neraka, pertemuan Rasulullah SAW dengan para nabi terdahulu, dan fenomena perjalanan itu sendiri. Hal ghaib merupakan salah satu fenomena yang harus dipercayai oleh kaum muslimin. Meskipun hal ini juga menyangkut konteks keimanan yang ranahnya menyangkut pada eksistensi hakikat keimanan seseorang. Mengapa masuk dalam konteks keimanan? Karena hal ghaib ini juga termuat dalam rukun Iman yaitu percaya pada Allah dan malaikatNya. Jadi hal ghaib merupakan aspek yang berada di luar jangkauan nalar manusia yang notabene memiliki keterbatasan, sehingga pengimanan terhadap hal ghaib menjadi substansi keimanan seseorang. Sedangkan mengenai pemberian sholat dapat dipersepsikan bahwa inilah tujuan utama Allah SWT meng Isra’ Mi’raj kan nabi Muhammad SAW selain secara eksplisit yaitu guna menghilangkan kesedihan Rasulullah dan menyadarkan bahwa beliau adalah harapan bagi terciptanya kehidupan baru yang konstrukif secara fundamental. Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam menjadi tulang punggung perjuangan penyebaran agama Islam ke seantero dunia, dan berperan menunjukkan keluhuran agama Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin (rahmat bagi sekalian alam). Sholat sebagai tiang agama merupakan aspek paling fundamental yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah untuk dijadikan jalan bertemu dan mendekatkan diri pada Allah di dunia. Pelaksanaan sholat merupakan sebuah kewajiban religius yang harus diaplikasikan agar manusia dapat menjaga eksistensi agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Allah berkehendak agar Rasulullah SAW dapat menyampaikan perintah sholat kepada seluruh umat muslimin dan meyakinkan pada mereka bahwa kekonsistenan terhadap pelaksanaan sholat merupakan hakikat penjagaan terhadap tegaknya agama Islam.

Menurut penulis fenomena Isra’ Mi’raj memiliki aspek tersirat yang dapat dicermati sebagai perspektif pribadi seorang hamba yang merindukan hakikat aplikasi konstruktif dari pemaknaan Isra’ Mi’raj. Konteks peristiwa besar umat Islam ini dapat direfleksikan dengan konteks keadaan yang terjadi saat ini, mungkin boleh dikatakan konteks kemodernan zaman yangmulai mengikis nilai kemanusiaan social terlebih pada aspek religi. Aspek religi dari individu mengalami degradasi dan pendestruksian dari pesatnya modernisasi. Baik itu modernisasi di bidang IPTEK maupun modernisasi dalam berbagai aspek yang lain, sehingga religiusitas juga terkena imbas negatif modernisasi. Analisis terhadap fenomena Isra’ Mi’raj yang akan diperingat pada bulan Juli ini diharapkan dapat menjadi sebuah usaha dinamis dan komprehensif dalam menjawab tantangan arus modernisasi yang selain membawa kemajuan pesat tetapi juga mengakibatkan kemunduran pesat pada aspek religi, kemanusiaan, dan sosial.

Analisis pembongkaran aspek tersirat Isra’ Mi’raj dapat dikelompokkan menjadi dua hal yang saling berkaitan, karena antara aspek satu dan lainnya memiliki hubungan integral, yaitu religi dan sosial kemanusaian. Aspek religi merupakan dasar atau hal yang menjiwai aspek sossial kemanusiaan, sehingga dekonstruksi antara dua hal ini merupakan bentuk pembongkaran terhadap dua aspek yang saling menjiwai. Ranah social kemanusiaan lebih cenderung pada implementasi pengaruh agama (Islam) terhadap sikap yang mencerminkan nilai social kemanusiaan. Analisis keterkaitan terhadap aspek yang tersirat pada peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi sebuah jalan untuk memahami dan memaknai arti penting dari peristiwa tersebut. Analisis ini menghubungkan aspek yang tersirat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj melalui metode penjelasan argumentatif terhadap arus modernisasi saat ini. Tentu dalam konteks ini hanya akan dipaparkan sisi negatif modernisasi terhadap aspek religi yang menjiwai aspek social kemanusiaan. Modernisasi yang membawa dampak buruk terhadap dua aspek tersebut akan didekonstruksi untuk selanjutnya diberi pemaknaan melalu perspektif konstruktif aspek religi dan social kemanusiaan. Beberapa aspek tersirat yang akan dianalisis sebagai sebuah pengonsepan terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj terdiri dari empat komponen yang terbentuk berdasarkan perspektif penulis.

Pertama, adanya anggapan bahwa sholat hanya sebagai ritual teologi yang bisa diganti/diqodlo sehingga dianggap hal yang lumrah bila ditinggalkan. Pihak ini menggunakan justifikasi rasional dalam mempertahankan sikap tersebut. Justifikasi rasional merupakan justifikasi dari pemikrannya yang diperoleh melalui interaksi ataupun usaha pribadi dalam menanggapi fenomena kelalaiannya dalam melaksanakan sholat. Misalnya dia tidak melaksanakan sholat dengan alasan capek, tugas banyak, bisa ditunda, pekerjaan menumpuk dan justifikasi rasional lain. Dalam hal ini seseorang biasanya “meminjam istilah filsafat eksistensialisme” dihadapkan pada “situasi batas” untuk melakukan justifikasi terhadap dua hal yang dihadapkan padanya. Pengaplikasiannya adalah ketika orang tersebut harus memberikan justifikasi ketika dia lebih memilih pekerjaan daripada melaksanakan sholat. Sebuah sikap degradasi nilai agama yang dikemas dalam bentuk partikel modernisasi yaitu tuntutan pekerjaan untuk meningkatkan karir. Pendekatan mendalam melalui manajemen waktu antara urusan akhirat dan duniawi haruslah dilakukan secara proporsional. Pemahaman terhadap arti penting sholat sebagai tiang agama dapat diintensifkan dengan cara mendalami agama Islam secara komprehensif dan konstruktif.

Kedua, menjelaskan bahwa seseorang pasti akan mati bahkan orang yang paling kita kasihi sekalipun, sehingga diperlukan ketegaran untuk selalu menyadari hakikat kehidupan manusia di dunia. Tujuan hidup sebagai orang yang bermanfaat bagi agama, nusa bangsa, dan keluarga harus diimplementasikan agar tercipta generasi muslim yang unggul dalam IMTAK dan IPTEK.

Ketiga, menjelaskan bahwa akal manusia terbatas sehingga tidak semua hal dapat dirasionalisasikan melalui logika berpikir karena terdapat hal ghaib yang berada di luar jangkauan nalar manusia. Hal tersebut tergantung keyakinan seseorang, dalam hal ini substansi keimanan seseorang , tetapi manusia juga tidak boleh menafikkan hakikat dirinya sebagai makhluk yang diberikan kelebihan oleh Allah yaitu nikmat akal untuk berpikir secara rasional. Modernisasi juga memasuki ranah akal ini, sehingga terbentuklah konsep degradasi nilai keimanan dan keislaman seseorang dengan munculnya banyak aliran baru yang mengatasnamakan Islam.

Keempat, pesan universal perintah sholat dari Allah kepada kaum muslimin mengharuskan setiap umat muslim untuk melaksanakan perintah tersebut. Implementasi keimanan kepada Allah ditunjukkan dengan konsistennya umat muslimin bertakwa kepada Allah, salah satunya yaitu menjalankan perintah sholat wajib lima waktu. Namun, konsistensi pelaksanaan sholat mengalami degradasi saat berhadapan dengan ketidakadilan social, yaitu merajalelanya kemiskinan dan penderitaan sosial lain. Konsep ketidakkuatan iman seringkali menjadi hipotesis sementara untuk menjelaskan ketidakkonsistenan orang miskin yang tidak melaksanakan sholat. Pendapat tersebut mengakar cukup kuat pada masyarakat, sehingga hakikat sebenarnya dari ketidakberdayaan sosial terdiskreditkan. Persoalan krusial kemiskinan sebagai bentuk ketidakadilan/ketidakberdayaan social menjadi aspek tersirat ketidakkonsistenan pelaksanaan sholat para orang miskin, meskipun masih banyak warga miskin yang masih memiliki kekonsistenan mengerjakan sholat. Modernisasi berandil besar dalam menciptakan ketidakberdayaan social/ kemiskinan pada masyarakat. Tuntutan modernisasi yang memarjinalkan orang miskin menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan.

Beberapa aspek tersebut merupakan hasil intepretasi penulis pada hal tersirat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Perintah sholat sebagai salah satu substansi utama Isra’ Mi’raj menjadi sorotan utama yang sangat krusial dalam konteks kekonsistenan pelaksanaan. Sebuah kesadaran dan semangat sosial berdasarkan rasa iman serta keadilan sosial diperlukan sebagai aspek konstruktif bagi implementasi sikap takwa dalam memaknai hakikat Isra’ Mi’raj.

* Penulis adalah anggota PMII Rayon Al Ghozali Komisariat Sunan Kalijaga Malang JATIM

5 thoughts on “Menyoroti Isra’ Mi’raj; Sebuah Perspektif terhadap Aspek Tersirat dalam Isra’ Mi’raj”

  1. dari beberapa poin yang menjadi titik tekan oleh sahabat Masbahur, saya sependapat.namun bagi aroh Esensi sholat adalah internalisasi diri sebagai hamba tuhan yang memiliki tanggung jawab atas kemanusiaannya.artinya ketika kita sholat di situ kita meyakini bahwa kita ini bukan siapa2, melainkan hamba allah yang lemah dan selalu mengemban amanah yang tersirat dalam kalamNya.”menebar kedamaian dan kesejahteraan di muka bumi ini” bukan menebar kekacauan dengan berbagai kekerasan dan kerusakan di muka bumi ini,sesama manusia dan alam”. lemah di hadapan Tuhan artinya kita ini tiada apa-apa tanpa Ridho dan petunjukNya, sehingga Dialah tumpuan dan pijakan dalam segala peristiwa yang mewarnai hidup kita. selanjudnya pengemban amanah adalah kita adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dengan berkah akal yang kita miliki, karenanya kita harus menjadi insan Ulul Albab, artinya manusia yang terus berfikir. yach ketika kita berfikir artinya tidak lepas dari sekeliling kita. berfikir mengapa kemiskinan menimpa negeri yang kaya raya ini, mengapa kedholiman selalu kita lihat di negeri yang katanya religius dan beradap.”makanya ga salah pilihan citra diri kader PMII Ulul Albab” namun pada realitasnya kita lihat saat ini sholat hanya di jadikan kedok bagi kepentingan pribadinya, entah itu agar terlihat relegius, lebih alim, lebih di hormati dan yang lebih penting sholat bisa di jadikan untuk menutup segala kebusukan-kebusukan yang ada pada dirinya.
    dan walhasil nilai yang di usung dalam perintah sholat menjadi nol besar.
    menanggapi komentar pertama, jangan salah… PMII itu religius sekalidan salud dech dengan sahabat Masbahur Rizqi, terus berkarya dan semoga bisa di contoh sahabat2 PMII yang lain di seluruh Nusantara. Amien…

  2. sudah tiga tahun aku gag nglihat tulisanku ini, sahbat-sahabat semoga tetap memiliki semangat perjuangan isra mi’raj

Komentar ditutup.