Sumpah Pemuda dan Spirit Persatuan

Oleh: Danuji Ahmad

Pada Selasa, tanggal 28 Oktober 2008 kemarin, adalah bertepatan dengan peringatan sumpah pemuda. Peringatan kali ini sangat peting untuk di kenang di tengah berbagai persoalan pelik yang secara silir berganti menerka bangsa Indonesia. Baik persolan politik, ekonomi, agama serta persoalan-persolan lainnya yang dapat menyebakan disintegrasi bangsa. Bangsa kita akan mengalami perpecahan kemudian membentuk negara-negara kecil yang rapuh atau menjadi bangsa yang gagal akibat konflik tersebut.Gagal dalam mengemban amanat dari bapak bangsa (faunding father) dalam menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.

Maka, pada peringatan sumpah pemuda kali ini, marilah kita semua untuk merenungkan kembali makna historis yang terkandung di dalamnya. Sehingga, sumpah pemuda yang terjadi 80 tahun silam tidak kehilangan makna subtansinya. Hal ini perlu di kaji kembali keberadaanya, sebab selama 32 tahun di masa Orde baru sumpah pemuda hanya di peringati sebatas pidato-pidato para ‘elite’ yang hampa makna. Artinya, sumpah pemuda hanya di tangkap sisi luarnya, sedangka intisari arti yang terkandung di dalamnya belum bisa di tangkap. Oleh sebab itu, ruh revolusioner yang terkandung di dalamnya hilang atau bahkan lenyap.

Orba juga telah mempunyai dosa besar dengan berbagai kebijakan-kebijakan radikal dengan pedekatan militer. Mulai pembantaian besar-besaran 65, peristiwa Aceh hingga peristiwa Tanjung Priok yang berakibat fatal bagi persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. Artinya bahwa Orba telah mencabik-cabik rasa nasionalisme yang telah di bangun dalam sumpah pemuda lewat tindakan-tindakannya yang massif dan radikal.

Berbagai persoalan pelik warisan Orde baru yang terwariskan ke masa sekarang, perlu kita sikapi bersama dengan serius. Caranya adalah dengan menangkap ruh revolusioner yang terkandung dalam sumpah pemuda. Ruh sumpah pemuda itu tak lain adalah Bhineka Tunggal Ika, yang artinya bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan aliran politik, tetapi tetap merupakan satu kesatuan bangsa, atau bangsa yang satu. Dengan kalimat lain, kesatuan dalam perbedaan, atau berbeda-beda tetapi tetap satu, atau persatuan dalam keragaman. Betapa indahnya ruh yang terkandung dalam sumpah pemuda. Ruh yang akan membangkitkan rasa nasionalime di tengan masyarakat kita yang agaknya semakin pudar.

Sumpah pemuda adalah senjata ampuh sebagai penuntun langkah pemerintah dalam mengatasi berbagai permusuhan atau perpecahan yang mulai memanas akhir-akhir ini. Permusuhan dan perpecahan yang berdampak fatal bagi persatuan dan kesatuan bangsa kita, utamanya masalah di Papua, Aceh, dan Timur leste. Menuntun dengan cara menggalakkan spirit kebersamaan dan persatuan dalam sebuah keberagaman.

Pudarnya Sentimen Primodial

Sumpah pemudah adalah peristiwa yang agung bagi perjalan bangsa indonesia. Agung karena peristiwa ini mampu menghilanghkan rasa sentimen primodial (rasa kesukuan ) yang pada sat itu menjadi sebuah permasalahan akut bagi keutuhan bangsa indonesia. Namun, lewat sumpah pemuda yang lahir dari kongres pemuda II di Jakarta hal ini dapat di lebur menjadi rasa persatuan. Dalam peristiwa agung itu berbagai suku dan agama, bersatu padu menggalang persatuan untuk melawan kolonialisme. Berbagai jong-jong, seperti Jong Java, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Minahasa Bond, Madura Bond, Pemuda Betawi ikut bersatu pula dengan misi dan visi yang sama.

Belajar dari keberhasilan sumpah pemuda adalah sesuatu yang wajib bagi pemerintah. Di tengah badai perpecahan akibat kecemburuan baik dalam hal ekonomi, politik, agama bukan sebuah permasalah yang muda di atasi. Namun seberapat kompleksnya masalah yang di hadapi bangsa kita, tentu ada jala keluarnya. Jalan keluar yang sudah teruji adalah bagaimana segenap elemen masyarakat mempunyai kemauan untuk bersatu seperti yang telah di buktikan pemuda angktan 28. Bersatu untuk bersama-sama membangun bangsa indonesia menjadi sebuah bangsa yang adil, makmur dan sejahtera seperti yang kita cita-citakan bersama.

Kedasyatan persatuan sebagai daya dobrak bukan hanya di buktikan pada sumpah pemudah. Kholid bin walid seorang panglima islam juga telah membuktikan betapa dasyatnya arti persatuan. Di saat ia dan pasukannya di kepung ratusan ribu bala tentara musuh di selat Gilbaltar atau Jaba-Altariq. Sedangkan pasukan yang tersisa cukup jauh jika di bandingkan dengan lawan. Namun apa yang terjadi. Thariqpun akhirnya dapat mengalahkan ratusan ribu pasukan tersebut. Dan kuncinya tak lain adalah berkat kasatuan dan persatuan yang di lakukan Thariq dan pasukannya. .

Dua sejarah di atas setidaknya sudah membuat pemerintah untuk melek betapa petingnya arti persatuan. Sehingga, ketika dalam mengatasi segala permasalahan yang ada dalam negeri ini, pemerintah juga melibatkan berbagai elemen lainya, lebih-lebih masyarakat bawah. Sebab dalam sejarah Indonesia bahkan dunia, sebagai mana yang telah di ungkapkan Kuntowijoyo dalam bukunya demokrasi dan budaya demokrasi (1994) perubahan biasanya di awali oleh orang-orang ploretan atau kelompok kecil, atau kelompol minoritas. Maka, setiap derap pembangunan dan kebijakan pemerintah seharusnya melibatkan rakyat.

Api sumpah pemuda, yang begitu besar kobarannya dalam mempersatukan bangsa dan mengantar rakyat menuju gerbang kemerdekaan, perlu dikobarkan lagi bersama-sama. Lebih-lebih di tengah badai disentegrasi yang akhir-akhir ini mulai menampak. Ini merupakan kewajiban nasional kita, yang bisa dipikul oleh seluruh masyarakat, lebih-lebih oleh angkatan muda yang merupakan garda terdepan dalam gerakan reformasi. Angkatan muda inilah yang akan memikul tugas untuk meneruskan perjuangan politik menuju Indonesia baru, Indonesia yang adil makmur, adil sejahtera.

*Penulis adalah anggota PMII Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Iklan