Membongkar Ketidakadilan Budaya Patriarki

resensi-ketidakadilan-budayaPeresensi: Danuji Ahmad *
Judul Buku: Gender dan Inferioritas Perempuan, Praktik Kritik Sastra Feminis
Penulis: Sugihastuti
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: 1, September 2007
Tebal Buku: 351 halaman

Membaca perempuan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia senantiasa menyisakan air mata. Perempuan selalu saja terjerembab pada bingkai kesengsaraan. Mereka dianggap tak lebih sebagai ‘warga kelas dua’ yang dicampakkan hak-hak asasinya. Dalam konteks kebudayaan, keberadaannya tak hanya disingkirkan, tapi jasa mereka juga tak dihitung sebagai sumbangan peradaban.

Dalam struktur budaya kita, terdapat prasangka laten yang memojokkan perempuan atas dasar sebab alami (nature) dan kepantasan adat (culture). Dua hal itu dijadikan dalih untuk memasung eksistensi perempuan. Padahal, pada diri perempuan terdapat potensi agent of change. Hanya saja, hal itu tak bisa menjadi fakta umum karena pada praktiknya, perempuan selalu dihadang pada dua prasangka sekaligus. Pertama, menjadi agen domestik yang hanya bertugas menjadi khadim (pelayan) bagi laki-laki. Kedua, keterbatasan peran di sektor publik. Yakni, ketiadaan hak untuk berkiprah secara sosial, karena ruang itu telah dimonopoli secara mutlak oleh laki-laki.

Sungguh ironis, dikotomi pria-wanita semacam ini acapkali justru mendapat pembenar (justification) dari dalil-dalil agama yang dimanipulasi sedemikian rupa. Pada gilirannya, tercipta konstruksi sosial yang memungkinkan kontrol atas perempuan dalam posisi sub-ordinat, sementara laki-laki, sebagi super-ordinatnya, mempunyai hak kuasa penuh atas kontrol tersebut.

Kontrol, atau lebih tepat disebut kendali, atas perempuan pada kehidupan nyata dimulai dari keterbatasan produktifitasnya di dalam dan di luar rumah tangga, ketidakberdayaan mengelola fungsi reproduktif, kekerasan seksualitas (sexual harrasment), hingga ketidakmampuan menguasai harta dan sumberdaya ekonomi milik sendiri.

Dari sini, kemudian lahirlah gerakan feminisme sebagai sebuah upaya untuk melawan kendali patriarki yang menyediakan keleluasaan, atau kewenangan, lebih banyak bagi laki-laki pada posisi kunci dalam banyak aspek kehidupan. Konstruksi sosial dengan asumsi bahwa laki-laki menjadi superior dalam berbagai aspek kehidupan dan perempuan terpaksa menjadi inferior perlu dibongkar keberadaannya. Alasannya sederhana, status perempuan tidak boleh sedikitpun mengurangi hak-hak asasi mereka sebagai manusia. Bukankah, dalam banyak catatan sejarah, perempuan lebih dipandang karena mereka hanyalah perempuan, dan bukan pada soal bagaimana mereka berkiprah?

Literatur Feminis Sebagai Kritik

Di negeri ini, dunia sastra agaknya lebih dulu menggemakan kesadaran akan kesetaraan antara Adam dan Hawa. Banyak dari sastrawan mempunyai tekad untuk mengangkat derajat kaum hawa dalam karya-karya mereka. Hal ini juga didukung wacana-wacana ilmiah yang didengungkan kaum intelektual yang peduli akan hal tersebut. Tujuannya, derajat perempuan harus diangkat dan dientaskan dari ketidakadilan.

Adalah Darmanto Jatman dengan karyanya Sambel Bawang dan Terasi, atau Pramoedya Ananta Toer dengan Panggil Aku Kartini Saja dan Gadis Pantai-nya, lantas Ws Rendra dalam karyanya Nyayian Angsa. Sebelum itu semua, kita mengenal Sutan Takdir Alisyahbana (STA) lewat karyanya Layar Terkembang atau novel Nyai Dasimah besutan Rahmat Ali yang menggemparkan jagad sastra kala itu. Dua karya besar itu mengirim kritik keras dan pedas terhadap sistem patriarkal.

Sekarang, alam diskursus kita lebih terbuka. Di hadapan kita terdapat banyak sumber yang bisa dieksplorasi untuk memperkaya kearifan dalam kasus gender. Karenanya, buku berjudul Gender dan Inferioritas Perempuan, Praktik Kritik Sastra Feminis karya Sugihastuti ini menjadi penting untuk dibaca dan ditelaah. Buku ini membongkar seluk-beluk tatanan sosial yang menyudutkan perempuan yang senantiasa mengalami keterpasungan dalam setiap sendi kehidupannya.

Menggagas Keadilan

Dalam medan kebahasaan, terdapat dimensi semiotika yang mempengaruhi pola kehidupan sosial. Artinya penyematan istilah-istilah tertentu selalu mengandung sejumlah konsekuensi. Dalam pandangan Chomsky, sistem bahasa menggambarkan dan mempengaruhi watak serta perilaku sosial. Jadi, idiom-idiom seperti “laki-laki kuat perempuan lemah”, “laki-laki pemberani perempuan penakut, “laki-laki agresif perempuan pasif”, “laki-laki rasional perempuan irasional”, “laki-laki kompetitif perempuan kooperatif”, dan sejumlah istilah lain menunjukkan habitus yang patriarkal sejak dalam alam pikiran. Inilah idiologi kultural berparas ketimpangan.

Dalam pandangan Connel Dzuhayatin idiologi kultural semacam ini adalah ciptaan kelompok dominan yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu (self-interest) untuk melanggengkan hegemoninya terhadap kedudukan perempuan. Hegemoni menjadi penting untuk melanggengkan stabilitas. Betapapun tidak adilnya hegemoni itu.

Hal ini bisa dilihat, misalnya, dalam bidang profesi dan keterjangkauan wilayah kerja. Seperti sudah disinggung sebelumnya, perempuan hanya di tempatkan pada posisi domestik yang bertugas melayani suami seperti: memasak, mengurusi anak, membersihkan rumah dan mengurus kebutuhan rumah tangga lainya. Di sisi lain, sektor publik hanya berhak diisi oleh laki-laki.

Dari sini, faham deterministik tumbuh subur. Perempuan dituntut secara tak sadar untuk hanya pasrah menerima nasibnya. Seolah keterbatasan mereka adalah sabda dari langit yang tak terbantahkan. Sikap pasrah melumpuhkan nalar kritis. Ketiadaan nalar kritis berujung pada langgengnya hegemoni. Langgengnya hegemoni hanya kata lain dari pelestarian struktur sosial yang tak adil.

Selama idiologi kultural tersebut dibiarkan terus-menerus tanpa upaya untuk membongkarnya, maka selamanya nasib dan martabat perempuan tak bisa sekadar, kata Naga Bonar, ditinggikan sebenang.

Arti penting buku ini ada pada fungsi penyadarannya. Penulis buku ini tampak berkeinginan kuat menyegarkan pemahaman yang hambar lewat pendekatan budaya yang kritis dan reflektif. Apapun argumentasinya, membangun konstruksi sosial yang berorientasi keadilan gender adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Dengannya, harmoni kehidupan yang damai, aman, dan tentram akan serupa orkestrasi yang begitu menyenangkan untuk dinikmati bersama.

*Peresensi adalah anggota PMII Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta