PEMIRA Studend Government UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008

Oleh: Saifudien Djazuli*

Jika anda memasuki kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekarang, anda pasti akan melihat banyak baliho dan spanduk yang berisi nama-nama calon BEMU, BEMF, BEMJ dan Sosialisasi tahapan pemilu plus photo anggota KPU nya. Fenomena ini mengindikasikan bahwa PEMIRA atau hajatan tahunan mahasiswa telah memasuki H-7 dari hari PEMIRA. PEMIRA yang dicanangkan oleh KPU tanggal 3-4 Desember 2008 sampai saat ini masih berjalan relative aman dan terkendali. Proses pembelajaran demokrasi yang tentunya tidak memakan anggaran yang sedikit untuk kelas mahasiswa.

Student Government (SG), menurut pengamatan penulis selama 6 tahun ini hanya berputar pada 2 kekuasaan besar partai politik, yaitu Partai Persatuan Mahasiswa (PPM) dan Partai Reformasi Mahasiswa (PARMA), pada tahun 2002 dan 2003 PPM menguasai BEM UIN, pada tahun 2004 dan 2005 PARMA menguasai BEM UIN, kemudian pada tahun 2006 dan 2007 PPM kembali menduduki posisi badan eksekutif universitas (BEM UIN), bagaimana dengan 2008? Apakah siklus 2 tahunan akan terjadi lagi? Bagaimana dengan representative partai-partai lainnya (Partai Intelektual Muslim (PIM), Partai PROGRESIF dan Partai BOENGA)?

Oleh karena itu, strategi masing-masing akan diuji dalam menghadapi siklus ini. Calon Presiden BEM UIN dari PPM dan PARMA yang sama-sama dari wilayah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) akan menjadi nilai plus proses demokrasi kampus ini. Dengan calon presiden 2 partai besar di satu wilayah akan memberi akses positif lebih, yaitu :

  1. Calon Presiden akan memperebutkan suara di wilayahnya semaksimal mungkin. Hal ini akan mengakibatkan prosentase partisipasi pemilih meningkat di wilayah tersebut.
  2. Dengan 2 calon partai besar di dalam satu wilayah, partai lainnya dapat memaksimalkan pemilihnya di wilayah-wilayah lain.

Akan tetapi, dengan adanya 2 calon presiden BEM UIN dalam satu wilayah dapat juga mengakibatkan menurunnya partisipasi pemilih apabila wilayah lain tidak digarap serius oleh seluruh partai, apalagi masih rentannya sentiment antar wilayah. Selain itu juga, dapat mengakibatkan gesekan yang cukup kuat dalam wilayah tersebut, hal ini perlu mendapat perhatian yang serius oleh Panitia PEMIRA 2008.

Posisi Legislatif

Lembaga legislative dalam struktur SG masih dipandang sebelah mata. Meskipun kinerja legislatif dalam hal ini Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU) periode 2007 sudah lebih dari cukup dalam melaksanakan hak controlling dan budgeting. Tapi, hal itu belum terjadi pada tingkatan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas dan Jurusan (DPMF dan DPMJ). Menurut saya, inilah pekerjaan utama yang harus dilakukan apabila ingin membenahi SG!

Pembenahan legislatif ini dapat dimulai pada PEMIRA 2008 ini. Langkah pertama adalah membenahi system pemilihan legislative, harus seimbang dengan eksekutif, khususnya publikasi dan sosialisasinya. Supaya claon legislative mempunyai tanggung jawab yang lebih dan dapat mengerahkan massa untuk memilihnya, supaya hak-hak mahasiswa dapat didelegasikan sebaik mungkin. Selain itu, pada hari pemilihan legislative (DPMU, DPMF dan DPMJ) seharusnya sebagai ajang partai politik untuk melihat sejauh mana massa yang dimilikinya, apakah sudah memenuhi target kuota dan target kemenangan pada PEMIRA Eksekutif dihari berikutnya. Dengan begitu partisipasi politik mahasiswa akan semakin meningkat, meningkatnya partisipasi politik pada tingkatan mahasiswa ini menunjukkan bahwa mahasiswa sudah mengerti bagaimana berpolitik secara baik, positif dan partisipatif, tidak malah apatis.

Kalau melihat praktik di lapangan 2 tahun terakhir, SG dalam melaksanakan pemilihan legislative mengalami kemunduran yang signifikan. Factor-faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, antara lain sebagai berikut :

  1. Sebagian besar partai politik yang ada kurang mengoptimalkan massanya ketika pemilihan legislative ini digelar. Hal ini dilakukan karena takut kekuatan sesungguhnya partai tersebut diketahui oleh lawan politiknya.
  2. Sebagian besar calon legislative dicalonkan oleh partai hanya melalui mekanisme penunjukkan langsung, bahkan pernah terjadi satu orang dicalonkan oleh 2 partai politik.
  3. Belum adanya pengkaderan partai politik disebagian besar partai yang mengikuti PEMIRA dalam menentukan siapa calon legislative yang telah memenuhi persyaratan partai secara hirarkis.
  4. Masih adanya intervensi organ luar dalam penentuan calon legislative, hal ini juga terjadi pada calon legislative, seharusnya independensi partai harus ditingkatkan dengan mekanisme perekrutan dan pengkaderan yang jelas.
  5. Kurangnya sosialisasi dan publikasi calon legislative dan kurangnya visi dan misi yang jelas dari calon legislative.

Faktor-faktor di atas, seharusnya segera dibenahi oleh DPMU yang akan datang dengan membuat regulasi yang jelas mengenai partai politik yang akan mengikuti PEMIRA, bukan hanya sekedar jumlah prosentase kursi di DPMU, tapi lebih kepada teknis dengan adanya kartu tanda anggota partai di masing-masing wilayah, tata tertib atau AD dan ART partai mengenai proses perekrutan dan pengkaderan yang berjenjang, aturan dan pengawasan pelaksanaan kinerja DPMF dan DPMJ, threshold untuk BEMF dan BEMJ, dan sosialisasi yang cukup untuk melayani keluhan-keluhan Mahasiswa dan masih banyak lagi yang harus dibenahi.

Intinya, prosentase partisipasi politik inilah yang menjadi Pekerjaan Rumah (PR) KPU dan partai-partai politik saat ini. Dengan meningkatnya partisipasi politik lebih dari 50% dari total seluruh mahasiswa ini, akan berimplikasi kepada aktifisasi sikap kritis dan kesadaran politik yang positif di kalangan intelektual dalam rangka mencerdaskan bangsa, khususnya di era otonomi daerah. Untuk itu diperlukan berbagai solusi-solusi jitu dari berbagai pihak yang terkait. Bagaimana cara dan strategy masing-masing partai untuk meningkatkan massa pemilihnya dan bagaimana sosialisasi KPU dalam hal meningkatkan partisipasi mahasiswa untuk memilih? Munculnya ide-ide creator politik inilah yang ditunggu oleh mahasiswa yang selama ini apatis dan acuh tak acuh terhadap PEMIRA di kampus kita tercinta. Selamat menggunakan hak pilih anda!! Pilihlah calon yang memiliki dedikasi untuk mengatasi permasalahan yang di hadapi oleh Mahasiswa dan masyarakat di Indonesia.!

*Mantan Dewan Pimpinan Wilayah Partai Peratuan Mahasiwa FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 thoughts on “PEMIRA Studend Government UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2008”

  1. PMII = Persatuan Murtad Ilegal & Idiot
    PMII adalah organisasi ayam kampus. sistem perekrutannya yaitu dientot satu persatu. dan sistem pengkaderannya adalah dizinahi oleh satu komisariat (orang pertama yang menzinahi adalah Ketua Umum Komisariat Fakultas Syari’ah & Hukum Periode 2007-2008 yaitu sahabat Adib).
    ini mengorientasikan semua elemen agar menjadi murtad.

  2. salam…

    mohon maaf, sahabat nandes ini seorang intelektual muslim bukan ya???

    namun bagi saya, sah-sah saja anda bersuara, beropini, dan menghujat di kawasan organisasi yg demokrastis semacam PMII ini…
    akan tetapi, alangkah baiknya jika tetap mengedepankan etika…

    wallahul muwafiq ila aqwamit thariq
    wassalam

Komentar ditutup.