Pendidikan Sebagai Pencerdas Bangsa

resensi-pendidikan-pencerdasPeresensi: Saifullah Syah
Judul Buku: Menggugat Pendidikan Indosesia; Belajar Dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara
Penulis: Moh. Yamin
Penerbit: Ar-Ruzza Media, Yogyakarta
Cetakan: Cetakan I, Januari 2009
Tebal Buku: 300 Halaman

Wajah suram kegagalan dan ketimpangan dunia pendidikan berupa pemetakan antara si miskin dan si kaya masih terus mewarnai pola sistem pendidikan Indonesia. Seolah-olah bangsa ini tidak pernah belajar dari pengalaman buruk masa Orde Baru. Dimana pendidikan dijadikan alat pembenaran dan sarana mendapat keuntungan penguasa. Sehingga hak-hak orang miskin untuk mengenyam pendidikan gratis dan layak tak pernah tercapai.

Kondisi diatas diperparah dengan disahkannya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) oleh DPR pada tanggal 17 Desember 2008, yang mempunyai konsep tidak lebih dari manifestasi kepentingan ekspansif dari tukang tanam modal untuk memperluas jaringan bisnisnya di sektor pendidikan. Ini berarti pemerintahan gagal dalam menata sistem pendidikan Indonesia. Tujuan pendidikan untuk mencerdaskan seluruh anak bangsa melalui pendidikan terhalang kelas sosial tertentu dan hanya merupakan cita-cita belaka yang tidak akan pernah tercapai.

Buku “Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar Dari Paulu Freire dan Ki Hajardewantara” yang ditulis Moh. Yamin, dengan tegas memberikan tawaran-tawaran solutif dalam menyelamatkan pendidikan Indonesia dari keterpurukan sistem dan Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Parlemen (DPR), yang lebih memihak terhadap orang-orang kaya dalam menikmati pendidikan. Dalam bukunya, Yamin menuliskan tiga hal yang harus dihadirkan dalam menata kembali pendidikan Indonesia.

Pertama, menata ulang konsep pendidikan melalui jalan menghadirkan pola pendidikan demokratis dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan demokratis yang dimaksud adalah sebagai pembebasan pendidikan dan manusia dari struktur dan sistem perundangan yang menundukkan manusia sebagai komponen. Pendidikan demokratis mampu memahami kebutuhan manusia untuk selalu bersikap maju, karena pola pendidikan seperti ini tetap memperhatikan nilai-nilai lama sebagai pijakan pendidikan masa depan yang lebih berkeadilan dan beradab. Disamping pola tersebut menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan harus menghargai kebudayaan yang dimiliki oleh manusia dan bangsa tempat manusia itu tinggal. Karena dalam pendidikan, ada kebudayaan yang berproses di dalamnya guna menyatakan identitas sebuah bangsa dan melahirkan peserta didik yang cerdas dan berbudaya. Ketika manusia mampu menghargai budaya sendiri, maka keadilan dan kesamaan hak akan tercipta dalam perjalanan bangsa ini.

Yang perlu diperhatikan dalam fenomena ini adalah sistem pendidikan yang harus diterapkan tidak berbau kebudayaan bangsa lain. Sebab makna pendidikan itu selalu ada dalam proses belajar dan penyesuaian individu-individu secara terus menerus terhadap nilai-nilai budaya dan cita-cita masyarakat sekitar. Akhirnya visi dan misi pendidikan Indonesia akan menemukan arahnya, yaitu demi kepentingan masa depan bangsa.

Kedua, meletakkan kembali pilar pendidikan humanis yang berdasarkan tujuan pendidikan. Menurut Paulu Freire tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia, membangkitkan kesadaran kritis dan transformatif untuk menyelamatkan manusia dari nasib kehidupan yang sedang terpuruk dan mengangkat masyarakat tertindas menuju kelas yang bermartabat dan berkemanusiaan, serta memiliki hak sama dengan masyarakat lainnya baik untuk dihormati, dihargai maupun beraktualisasi diri.

Humanisasi pendidikan memang seharusnya terus menerus diaplikasikan dalam suatu bangsa termasuk di Indonesia, karena ia mempunyai potensi besar untuk keberhasilan pendidikan sebagai bagian dari kehidupan bangsa. Tanpa hal tersebut, tidak mungkin sebuah bangsa akan mencapai cita-citanya untuk berkembang dan maju sesuai dengan keinginan bersama. Dengan pendidikan yang memanusiakan, tercipta pola pendidikan berbasis pada pembelajaran bukan pengajaran. Maka pribadi manusia yang kompleks, termasuk anak didik akan diperhatikan tidak semata-mata melihat modul pelajaran dan sangat tekstual.

Dalam peletakan pendidikan humanis, pemerintah selaku eksekutor kebijakan pendidikan harus berpihak terhadap bangsa dalam menggarap pendidikan yang seharusnya. Tidak memperaktekkan politik dualisme yang lebih memperhatikan orang-orang kaya sementara orang-orang miskin dibiarkan dalam keterpurukan hidup hanya karena tidak mampu mengenyam pendidikan lantaran persoalan ekonomi mereka untuk mengikuti pendidikan yang diselenggarakan.

Pemerintah dituntut mengupayakan pendidikan yang layak terhadap masyarakat dengan menyediakan anggaran pendidikan yang memadai sekaligus aturan-aturan perundangan yang mendudukung pendidikan dengan berpihak pada kaum lemah. Bersamaan itu pula pemerintah mengeluarkan kurikulum pendidikan mencerdaskan. Kurikulum tersebut ditekankan pada upaya pengembangan kemampuan kemanusiaan anak-anak didik sebagai individu, mahluk sosial, budaya, politik dan hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa maupun dunia.

Penyelenggaraan evaluasi harus mencakup keseluruhan aspek kemampuan serta kepribadian anak didik serta relevan dengan tujuan dan kontren yang dikembangkan. Menciptakan guru yang profesional. Ketiga, reorientasi tujuan pendidikan nasional, agar sesuai dengan amanat konstitusi dasar 1945. Bahwa tujuan sebenaranya pendidikan adalah menciptakan bangsa yang berkualitas, bangsa mandiri, beradap dan bangsa yang berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, bangsa ini harus mampu menjawab tantangan zaman global dalam persaingan pengetahuan dan teknologi canggih dengan memperbaiki dunia pendidikan yang semakin carut marut. Sebab pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia yang mampu melahirkan etos kerja yang tinggi, efisien konsumsi dan memberikan mamfaat ekonomis sesuai dengan pendapatan yang diperoleh seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu.

Hal-hal lain yang mesti dilakukan dalam mempertegas tujuan pendidikan adalah dengan jalur pendidikan beradab yang mampu menyatukan umat manusia dari suku, ras dan budaya yang berbeda supaya bisa hidup damai dan berdampingan. Untuk menjadikan negara ini agar berdaya saing tinggi, diperlukan tujuan pendidikan yang menekankan pada kemampuan dan inovasi diri sehingga dapat membangkitkan etos kerja yang tinggi, selalu melahirkan gagasan besar dan bermanfaat yang dapat diimplementasikan demi sumbangsih kemajuan bangsa Indonesia di pentas dunia.

Wacana penting dalam mencerahkan pendidikan Indonesia adalah menyelamatkan pendidikan agar tidak bernuansa komoditas yang berpotensi pada peraktek pengkomersialisasian pendidikan, seperti yang tengah terjadi akhir-akhir ini. Jika hal ini dibiarkan, kebodohan serta penindasan terus terjadi di negara ini. Kapitalisasi pendidikan leluasa mengeruk keuntungan lewat jalur pasar pendidikan.Sehingga bangsa ini akan terus menjadi boneka negara maju untuk dieksploitasi sumberdaya alam dan manusianya, sebab tujuan pendidikan tak ubahnya dengan barang dagangan di Mall-Mall.

Sumber: http://www.gp-ansor.org

2 thoughts on “Pendidikan Sebagai Pencerdas Bangsa”

Komentar ditutup.