Mengapa dan Kenapa??

Kenapa harus marah, bila maaf lebih indah?
Kenapa harus benci, bila cinta lebih mesra?
Kenapa harus kasar, bila santun lebih anggun?
Kenapa harus ragu, bila yakin lebih menjamin?
kenapa harus duka, bila suka lebih bahagia?

Kreasi, senantiasa dicurigai…
Tulus, senantiasa dihunus…
benar, senantiasa dibakar…
baik, senantiasa dicabik-cabik…
hasrat, senantiasa dijerat…
hasil, senantiasa dinilai nihil…

Hela Nafas laksana perang,
Menutup mata, berlaga di medan juang.
Aksara tidaklah nyata
Kata bukanlah beta.

engkau bayang-bayang
kita mengurai benang
Sedang, aku tak tertuang

Mengapa Mata lena terbiar?
mengapa Mulut manis berujar?
mengapa hasta mudah mencakar?
Mengapa Telinga keruh mendengar?
Mengapa Hidung mengendus yang terbakar?

Nurani bukanlah batu,
pun hati mampu menjadi cadas.
lika-liku hidup tergores kanvas,
hitam-putih menoreh kertas.

Tanyalah dirimu…
Kenapa?
Walau apa, bukanlah apa-apa…
Sudahkah aku, engkau dan kita kenapa?
atau tidak kenapa-kenapa……
Nadrah dan Madad bukanlah kenapa…

One thought on “Mengapa dan Kenapa??”

  1. sesuatu yang kita anggap bijak tak semestinya orang lain mau menerima…terkadang kita harus rela membunuh perasaan kita demi sesuatu yang menjadi tujuan .. walau kadang begitu menyakitkan?

Komentar ditutup.