Kenapa ‘Kita’ Selalu Miskin?‎

Oleh: Muhammad Fahdi

Sebuah pertanyaan mendasar yang wajib dijawab jika ingin merubah nasib. Tapi pun juga tidak mungkin dijawab dengan sederhana, karena kemiskinan kita tidaklah sesuatu yang sederhana. Tidak hanya miskin ekonomi, tapi juga miskin mental, miskin motivasi, miskin ilmu, miskin segalanya.

Ada sebuah statemen menarik, ‘kualitas hidup tergantung dari tantangan yang diciptakan’. Dari sinilah kemiskinan kita, tidak ada tantangan hidup yang membuat kita ingin meningkatkan kualitas hidup. Kita selalu terpaku pada tantangan yang rendah, tentu saja kualitas pun juga rendah, dan semakin rendah seiring tanpa perubahan. Tapi apa mungkin terjadi perubahan itu?

Dari segi ekonomi. Kondisi kita sebagai penduduk Indonesia yang muslim sangat memprihatinkan. Kekayaan yang ada dari data yang pernah ada, 90% hanya dimiliki oleh 3% penduduk Indonesia. Dari 3% tersebut, 85% dimiliki selain pribumi muslim, dan hanya 15% persen yang dimiliki oleh sebagian dari kita. Mengenaskan bukan?

Banyak yang bilang, ‘kita’, pribumi Indonesia adalah kaum para pemalas dan terima apa adanya. Walau itu hanya ‘orang bilang’, tapi kenyataannya demikian. Status muslim kita pun juga sia-sia tak membantu.

Seharusnya nilai agama yang mensuntik motivasi ekonomi kita, tapi apakah hal tersebut tidak ada dalam Islam sehingga kita tetap seperti ini? Tentu saja ada, hanya saja tidak menyadari.

Sejak dari kecil, Islam yang kita tahu seakan hanya mengajarkan tentang ibadah sholat, puasa, zakat, haji. Dan selalu berulang berkisar pada wilayah itu saja. Sampai dewasa pun ajaran ‘fikih’ yang kita terima juga stagnan. Dengan alasan hal-hal itu sangat penting, jika ditinggalkan maka dosalah balasannya. Hasilnya, banyak ahli ibadah tapi kurang sekali yang kaya. Dunia menjadi tidak penting, yang penting ibadah dan di akhirat masuk surga.

Miris sekali ‘kita’ ini jika demikian. Betapa tidak pentingnya dunia, tapi kita saat ini di sini, di dunia ini.

Padahal kalau kita mengkaji lebih dalam pada Alqur’an, ada ayat yang menyuruh kita mencari rezeki (62:10) dan banyak ayat lainnya. Di sini jelas mensyariatkan kita mencari rezeki, memperbaiki perekonomian kita, karena itupun ibadah. Ibadah tidak hanya di monopoli oleh semua yang disebutkan sebelumnya. Sayang hal ini tidak terlalu dikaji oleh guru-guru kita, kalaupun ada, mungkin  hanya sekilas lewat seakan tidak penting.

Dan lagi, adanya zakat sebagai ibadah pun, jika dilihat dari segi lain, merupakan perintah untuk kita mencari rezeki. Bagaimana bisa mengeluarkan zakat, jika kita tidaklah orang yang mampu mengeluarkannya.

Bisa kita katakan, Islam mengajarkan kita untuk menjadi kaya. Dengan adanya dalil-dalil Alqur’an, walaupun banyak darinya secara instekstual. Dan dari ajaran-ajaran fikihnya, terutama fikih muamalah.

Lagipula melihat keadaan jaman sekarang ini. kelemahan Islam pun bisa kita hubungkan dengan kemiskinan kita. Ketika kita miskin, orang di luar kita akan memandang Islam ternyata tidak mampu mensejahterakan para pemeluknya. Lain halnya jika kita kaya nanti, tanpa kita sadari kita akan menjadi sorotan, tentunya agama Islam akan semakin berkembang, karena dakwah Islam menjadi lebih mudah dan mudah pula diterima.

Jadi sebagai muslim Indonesia, kita harus kaya. Bukankah demikian?

(dimuat pada Ijtihadiyah edisi ke-2)

One thought on “Kenapa ‘Kita’ Selalu Miskin?‎”

  1. epistemologi yang dipakai ualama2 kita dalam menafsirkan agama hanya terbatas pada agama sebagai “jalan kematian” bukan “jalan kehidupan”. yang diajarkan adalah mengejar surga bersama meninggalkan dunia. naif banget

Komentar ditutup.