Mengenal Pada yang Patut Ditiru

Pada suatu waktu, timbul banyak macam yang terrnyata mengusik jiwa sanubari akan keadilan, persaudaraan, nasionalisme, dan banyak lainnya. Jiwa terusik, ragapun tak ingin sekedar berdiam diri saja, ingin berbuat sesuatu untuk menolak, atau bahkan mengenyahkan. Tapi, ‘apa daya tangan masih tidak sampai walaupun ingin memeluk gunung’. Masa bodoh, berhasil atau tidak, terpenting harus berbuat sesuatu. Dan akhirnya terjadilah demo.

Sedikit gambaran dari hidup keseharian para mahasiswa-i kritis. Tapi tidak terlalu kritis pula ternyata, jika akhirnya hanya demo ujungnya. ‘Ke Roma-pun tersedia banyak jalan’, begitu juga dengan ke-bergerakan tubuh, ketika jiwa terusik. Salah satunya menulis.

Sebuah contoh yang diberikan oleh seorang mantan mahasiswa yang melampaui ke-kritisan mahasiswa jaman ini. Mahbub Djunaedi, sering sekali terusik jiwanya, hampir-hampir tidak pernah tidur tenang, terlihat dari banyaknya tulisan hasil goresan tangannya. Dan hampir semua adalah kritikan sosial, politik, budaya dan banyak lainnya. Tentu saja ada ke-khasan darinya yang beda dari yang lainnya. Sering kali tertawa, dan mengajak tertawa.

Mahbub Djunaedi (Jakarta, 27 Juli 1933) – wartawan, sastrawan dan politisi. Sejak kecil Mahbub sudah terbiasa membaca karya-karya pengarang terkemuka dunia maupun tanah air. Ketika di sekolah menengah pertama di Jakarta, Mahbub remaja, sudah menjadi staf redaksi majalah sekolahnya. Di sekolah menengah atas (SMA Negeri I Budi Utomo, Jakarta), puisi, esai, cerpen dan karya tulis lain Mahbub sudah dimuat di sejumlah media massa bergengsi.

Semasa belajar di perguruan tinggi, Mahbub terjun ke kancah organisasi mahasiswa, antara lain di HMI hingga tahun 1960, kemudian di PMII -dengan menjadi ketua umumnya selama tiga periode- tahun 1960 hingga 1967. Dan setelahnya ia pun terjun dan tekun dalam organisasi masyarakat-politik. Di samping pelbagai jabatan yang semarak dan majemuk, Mahbub pernah menyandang pimpinan surat kabar Duta Masyarakat yang bernafaskan Islam, serta menjadi anggota kelompok kolumnis di berbagai surat kabar dan majalah.

Mahbub Djunaedi dikenal memiliki kemampuan analisis yang tajam. Arah tulisannya sejalan dengan keyakinan dan cita-citanya atau ideologi yang dianutnya. Mahbud dikenal prigel dan luwes dalam menuangkan gagasan. Tulisannya mengalir seperti halnya ketika ia menuangkan gagasan secara lisan. Mahbub adalah penulis dengan gaya bahasa yang lugas, sederhana, dan humoris. Namanya sangat tersohor sebagai seorang kolumnis yang piawai.
Humor ialah alat Mahbub mengajak pembaca berkelana masuk ke dalam sesuatu masalah. Baginya, lebih baik menyentil orang dengan cara membuat sasaran yang dikritiknya tersenyum daripada membuatnya murka. Dengan ketawa, semua masalah akan segera teratasi. “Bukankah humor, di samping melankolis, juga merupakan kebiasaan kesusastraan?” katanya.

Menurut Mahbub, kebiasaan orang Indonesia yang suka ketawa seringkali membantu mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Menurutnya, hanya orang-orang yang mempunyai intelektualitas sajalah yang mampu menerima humor dan ketawa.
Jika anggapan ini betul, menurut Mahbub, benarlah anggapan bahwa rakyat Indonesia memiliki tingkat intelektualitas yang cukup tinggi (di samping kesabarannya), sehingga setiap saat siap ketawa, tak peduli hidupnya berjalan mulus atau terbanting-banting.

Itulah Mahbub, menulis hingga akhir hayat. Ia wafat 1 Oktober 1995. Darinya kita bisa belajar tentang bagaimana seharusnya seorang aktivis, penulis, masyarakat sipil, cendikiawan: selalu beroposisi dengan hal-hal yang tidak sesuai, melalui kritikannya yang selalu segar dengan metafora-metafora yang kadang tak terpikirkan oleh kita seperti, ‘lingkungan tanpa ketua’ olehnya diibaratkan ‘ban tanpa pentil’.

Sekarang kita, sebagai penerusnya dalam perjuangan, tentu perlu mengenalnya untuk menirunya.

(Dimuat pada Ijtihadi edisi-2)